Jun 25, 2009

Syakib Bakri, 22 Tahun Menggeluti Penyakit Ginjal

Syakib Bakri, 22 Tahun Menggeluti Penyakit Ginjal
Oleh: Fahmy Myala*

Sejak tahun 1983 sampai sekarang, Syakib Bakri adalah staf Divisi Ginjal-Hipertensi Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar. Dan, selama kurun waktu itu dia melihat dengan jelas betapa mudahnya maut mencabut nyawa orang-orang miskin.

Gagal ginjal hanya memberi dua alternatif: cuci darah seumur hidup dan atau cangkok ginjal. Saat ini untuk satu kali cuci darah di Makassar biayanya Rp 500.000 hingga Rp 600.000. ”Selain kedua alternatif tersebut, pilihan ketiga adalah mati. Inilah pilihan yang sering ditempuh pasien gagal ginjal yang tidak mampu,” ujar Syakib.

Saat ini memang ada program pemerintah untuk pengobatan gratis bagi orang miskin, tetapi Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Miskin tidak menanggung cuci darah, apalagi cangkok ginjal.

Pria kelahiran 18 Maret 1951 ini lahir dan bersekolah SD, SMP, SMA di Gorontalo. Syakib yang sejak kecil bercita-cita jadi dokter lalu melanjutkan studi ke Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (FK Unhas) (1970-1976). ”Begitu menjadi dokter, saya langsung diangkat menjadi asisten. Sejak itu saya menapak karier pegawai negeri sipil di Makassar,” tuturnya.

Tentang pilihannya pada keahlian ginjal dan hipertensi, menurut Syakib, karena atasannya membukakan matanya mengenai minimnya tenaga dokter ahli di bidang ini, sementara jumlah penderita cukup banyak dan kemungkinan akan terus bertambah. Dan, kini dia adalah satu dari dua dokter spesialis ginjal di Sulawesi Selatan.

Seusai menyelesaikan pendidikan dokter spesialis penyakit dalam di FK Unhas (1983), Syakib beberapa kali menimba ilmu di negeri orang, terutama Perancis. Misalnya, studi pada International Course on Transplantation and Clinical Immunology di Lyon, Perancis. Doktornya sendiri diraihnya tahun 2004 di FK Unhas.

Dari perkawinannya dengan Cilly Badjeber, pasangan ini mendapat dua anak: Syarif yang baru saja disumpah selaku dokter umum dan Soraya Bakri yang duduk di semester VIII FK Unhas. Jadi, Syakib yang berasal dari keluarga pedagang itu kini membangun keluarga dokter.

Dapat dicegah

Yang menambah parah penanganan penyakit ginjal di Indonesia hingga kini, menurut pengamatan anak kedua dari sembilan bersaudara tersebut, ialah tidak semua daerah punya unit pelayanan ginjal.

”Di Sulawesi ini saja ada dua ibu kota provinsi yang tidak punya unit layanan ginjal, yaitu Gorontalo dan Kendari. Parepare, jantung niaga Sulawesi Selatan, juga tidak punya unit pelayanan penyakit ginjal,” paparnya.

Tentang penyakit ginjal, dokter yang dikukuhkan selaku guru besar di FK Unhas pada 16 Juli 2005 itu menjelaskan, tidak ada serangan penyakit langsung ke arah ginjal. Maksudnya, penyakit ginjal kronik (PGK) diderita seseorang melalui penyakit lain.

Menurut Syakib Bakri, PGK pada umumnya melancarkan serangan melalui penyakit kencing manis alias diabetes melitus, yaitu sekitar 30-50 persen kasus. Setelah itu, penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi sekitar 15-25 persen kasus. ”Penyebab lain adalah obstruksi dan infeksi saluran kencing, penyakit otoimun dan penyakit infiltratif. Dari penyakit-penyakit dasar itulah PGK bisa dideteksi secara dini,” ujarnya.

”Di Indonesia data menunjukkan, pasien cuci darah yang ditanggung PT Askes saja tahun 1995 berjumlah 2.131 kasus dengan biaya yang dibayar Askes Rp 12,6 miliar. Tahun 2000 berjumlah 2.617 kasus dengan biaya Rp 32,4 miliar. Dan, tahun 2004 meningkat lagi menjadi 6.319 kasus dengan biaya Rp 67,2 miliar,” paparnya.

Namun, Syakib menegaskan bukti klinis menunjukkan tidak semua penderita PGK tahap awal akan mengalami progresi menjadi gagal ginjal. Berbagai faktor memengaruhi progresi PGK fase awal sebelum menjadi gagal ginjal. Intervensi terhadap faktor ini bila dilakukan pada PGK fase awal dapat memperlambat, bahkan dapat menghentikan progresi ke arah gagal ginjal.

Yang menjadi masalah, PGK tahap awal umumnya tidak bergejala. Gejala barulah muncul apabila penurunan fungsi ginjal telah berada pada fase lanjut sehingga upaya deteksi dini menemukan penderita PGK tahap awal harus dilakukan melalui skrining terhadap mereka yang berisiko tinggi.

Ada sembilan jurus yang dianjurkannya untuk mencegah progresivitas PGK, yaitu mengobati penyakit dasarnya, perubahan gaya hidup, kontrol gula darah, kontrol tekanan darah, penurunan proteinuria, pembatasan asupan protein, kontrol dislipidemia, menghindari obat nefrotoksik, dan pengobatan lain.

Gaya hidup yang berpengaruh antara lain menurunkan berat badan menjadi normal, melakukan diet rendah garam (3-5 gram natrium per hari), berhenti merokok, mengurangi konsumsi alkohol, dan gerak badan secara teratur.

*Fahmy Myala, Wartawan, Tinggal di Makassar

Sumber : Kompas, Sabtu, 3 September 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks