Jun 16, 2009

Sutomo Parastho Memilih Hidup Minimalis

Sutomo Parastho Memilih Hidup Minimalis
Oleh : Djoko Poernomo

Jika ingin hidup secara minimalis, belajarlah kepada dr H KRMT Sutomo Parastho Kusumo. Satu dari sembilan anggota Dewan Pers periode 2003-2006 ini sudah melakoninya sejak remaja hingga sekarang, saat usianya memasuki 64 tahun. Sepanjang waktu itu ia nyaris tak pernah mengeluh sehingga memperoleh ketenangan batin.

Hidup secara minimalis di sini ia artikan sebagai hidup "apa adanya". Yang diterima, ya, yang dimanfaatkan. Karena tidak pernah ngoyo, hidup pun jauh dari sikap serakah. Dan yang lebih penting, batin pun menjadi tenang.

Ia kemudian mendefinisikan secara lebih lugas lagi, "... saat teman-teman tak bisa bepergian, saya tetap bisa ke sana kemari. Saya tetap survive...."

Sutomo mencoba mengenang kejadian delapan tahun lalu saat Indonesia dilanda krisis ekonomi. Sekarang pun, ketika disebut-sebut "ada krisis ekonomi kedua", ia masih bisa bepergian ke mana pun ia suka. Sementara banyak temannya yang hanya diam di rumah karena tidak memiliki ongkos.

"Kalau saya, naik kereta api, bus kota, atau bajaj, tak jadi soal. Sudah biasa...," tutur suami dari dr Hj Sri Raniwanti SpM dan ayah dari Wahyu Suroatmojo ini terus terang.

Jadi, jangan heran apabila melihat Sutomo sambil menenteng map turun dari bus kota kemudian masuk ke salah satu hotel berbintang empat di Jakarta untuk bersama-sama anggota Dewan Pers (DP) menyosialisasikan Kode Etik Wartawan Indonesia 2006 yang telah disahkan pada 14 Maret 2006. Anggota DP, selain Sutomo, tentu saja naik mobil pribadi, begitu pula para pemimpin redaksi yang diundang hadir.

"Bagi saya tak jadi soal. Kalau jurusan yang dituju tak dilalui bus kota, ya, naik bajaj atau ojek. Paling mewah selama di Jakarta, ya, naik bus transjakarta," tambah pendiri Lembaga Studi Ketuhanan tersebut.

Sutomo dan keluarga tinggal di Yogyakarta. Namun, ia nyaris tak pernah absen dari rapat-rapat anggota DP yang diembannya sejak tahun 2003, meski untuk rapat pukul 09.00 ia kadang baru turun dari kereta api dua bahkan satu jam sebelumnya. Tak letih? "Ah, biasa saja...," jawab wakil unsur Himpunan Praktisi Penyiaran Indonesia (HPPI) di DP itu.

Merah putih

Ia mengaku memperoleh uang transpor dari DP. Namun, karena menganut sikap hidup minimalis, maka uang transpor itu pun tersisa sehingga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan sosial dan membiayai penerbitan buku.

Buku yang dia tulis dan baru saja diterbitkan berjudul Darah Merah, Darah Putih, Merah Putih, dengan pengantar Prof HA Syafii Maarif dan Prof H Damardjati Supadjar.

"Buku tersebut merupakan rangkaian perjalanan spiritual Sutomo dalam konteks bukan hanya terkait dengan bagaimana ia memaknai komunikasinya dengan Tuhan YME, melainkan juga bagaimana ia mencoba mengaitkan Al Quran yang sangat dikaguminya dengan kehidupan sehari-hari. Bersama Al Quran, Sutomo selalu mencari atas segala masalah yang terjadi dalam dirinya, dalam diri orang-orang di sekitarnya, dan bahkan dalam diri bangsanya," tulis Syafii Maarif dalam pengantarnya.

Untuk memasyarakatkan perjalanan spiritualnya itu, sejak tiga tahun terakhir Sutomo setiap Minggu malam selama satu jam mengisi acara Haji (Hikmah Ajaran Islam) di Radio Kota Perak FM, Kotagede, Yogyakarta. "Semula ada pendengar yang mempertanyakan pendapat saya. Tetapi, sekarang banyak yang memuji, bahkan mengikuti," ungkapnya.

Dihantui kematian

Sejak berusia 40 tahun, Sutomo selalu dibayangi kematian, sehubungan dengan kakek maupun bapaknya (Sukanwo, dokter spesialis paru) yang meninggal pada usia produktif. "Sejak usia itu saya selalu berpikir akan mendapat giliran serupa. Untuk itu perlu melakukan persiapan. Tetapi, sikap ini bukan suatu indikator bahwa saya dan keluarga tidak percaya kepada-Nya," tutur Sutomo yang memperoleh gelar KRMT (Kanjeng Raden Mas Tumenggung) dari Puro Pakualaman, Yogyakarta.

Anak sulung dari empat bersaudara yang sangat diwarnai jiwa sosial sang ibu, almarhumah Ny Sumarahdi, ini berkata lagi, "Sekarang usiaku menginjak setengah abad lebih. Bayangan kematian sudah berlalu dan ketenangan diri sudah kudapat."

Menurut dia, ketenangan itu didapat tahun 1989 saat usianya 46 tahun. "Sejak itu kehidupanku mulai berubah. Hari-hariku dalam kehidupanku mulai akrab dengan sabda-Nya. Secara bertahap sabda-Nya merasuk dalam kehidupanku dan menjadi rujukan dalam setiap langkahku. Hidupku terasa ringan dan damai," ujar Sutomo, dokter lulusan Fakultas Kedokteran UGM (1975), yang hanya pernah praktik di bidang medis selama dua minggu. Waktu selebihnya ia habiskan untuk berorganisasi dan bermasyarakat.

Selain aktif di DP, Sutomo juga tercatat selaku pendiri Radio Arma Sebelas (1966), Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi tabloid Eksponen (1972-1988), Ketua Dewan Mahasiswa UGM (1968-1970), Pengurus Pusat Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (1978-1989), serta Ketua Umum HPPI (1999-2003).

Saat menjadi Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi tabloid Eksponen, Sutomo pernah diajukan ke depan sidang pengadilan di Pengadilan Negeri Yogyakarta dengan tuduhan pencemaran nama baik. Sidang pun dihadapi dengan keyakinan dirinya tidak bersalah.

Sumber : Kompas, Senin, 7 Agustus 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks