Jun 20, 2009

Sunarto Reksoprawiro : Sunarto, Perancang Plate untuk Tulang Rahang

Sunarto, Perancang Plate untuk Tulang Rahang
Oleh : Runik Sri Astuti

Seorang dokter yang berhasil menciptakan sebuah peralatan medis untuk membantu pasiennya boleh dianggap punya prestasi lebih. Kiranya hanya mereka yang bekerja keras dan berdedikasi tinggi terhadap pekerjaan sajalah yang mampu melakukannya.

Profesor Dr dr Sunarto Reksoprawiro SpBOnk FlnaCS, spesialis bedah kepala leher ini bukan hanya ahli di bidang penyakit seputar kepala leher. Laki-laki kelahiran Bojonegoro, 31 Desember, 55 tahun silam ini juga merancang dan menciptakan alat yang berguna bagi pasien bedah di bagian kepala dan leher.

SNT Plate demikian nama alat tersebut adalah alat yang terbuat dari baja stainless yang dirancang dengan bentuk huruf X. Alat ini diciptakan khusus untuk penderita patah tulang rahang. Karya yang rencananya dipatenkan dalam waktu dekat ini merupakan plate yang biasa digunakan untuk memfiksasi tulang, khususnya bagian rahang yang patah akibat benturan dengan benda keras.

Plate ini bukanlah plate konvensional yang dijual selama ini. Alat yang namanya diambil dari singkatan kata Sunarto itu memiliki beberapa kelebihan. Dari segi bentuk, misalnya, plate konvensional atau dikenal dengan mini plate yang lazim dipasangkan untuk penderita patah tulang berbentuk lurus memanjang dengan lubang-lubang kecil di tengahnya sebagai tempat memasang sekrup agar stabil. Untuk menempelkan plate pada tulang yang retak, diperlukan minimal delapan sekrup dengan posisi empat di bagian atas dan empat di bagian bawah agar benar-benar kuat.

Penempelan plate pada tulang rahang yang retak juga harus disertai pemasangan kawat gigi (interdental wiring) di seluruh bagian rahang atas dan bawah agar saling mengait. Akibatnya, penderita selain menanggung rasa sakit pascapengeboran dan pemasangan plate, juga kesulitan membuka mulut karena terhalang kawat gigi.

Selama pemasangan lebih kurang 6 sampai 12 bulan, penderita kesulitan mengunyah makanan. Bahkan jika terjadi infeksi, penderita patah tulang rahang hanya bisa minum. Bukan hanya itu, jika tidak rajin menjaga kebersihan mulut, bukannya kesembuhan yang diperoleh, tetapi malah terjadi infeksi.

Itu berbeda dengan SNT Plate yang berukuran 2 cm x 1 cm dengan luas penampang 0,7 milimeter yang dilengkapi dengan empat sekrup untuk menempelkan plate pada tulang. Kendati penempelan pada tulang hanya diperkuat empat sekrup, SNT Plate lebih stabil terhadap rotasi yang mengakibatkan perubahan sumbu. Daya tahan terhadap tekanan juga kuat. Itu disebabkan bentuknya yang X tidak seperti bentuk plate konvensional yang menyerupai tanda sama dengan (=) saat dipasang.

Karena ketahanannya terhadap rotasi dan tekanan inilah operasi penempelan SNT Plate selesai dalam waktu satu jam. Pemasangan kawat gigi juga tidak diperlukan untuk menjaga keseimbangan tulang rahang.

Lebih murah

Suami Susilowati dan ayah lima anak ini menceritakan bahwa ide pembuatan SNT Plate muncul sekitar tahun 1995. Ketika itu kakek dari dua cucu ini banyak menangani pasien yang menderita patah tulang rahang akibat kecelakaan. Jumlahnya setiap tahun adalah 200 orang lebih dengan usia 20-50 tahun.

Setiap kali memasang mini plate, lulusan Sekolah Rakyat Bojonegoro tahun 1962 yang baru saja dikukuhkan sebagai guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini selalu mendapat keluhan pasiennya yang tidak bisa makan dan minum selama memakai kawat gigi. Ia bertekad menciptakan sebuah alat yang tidak menyakiti pasien. Mereka itu kan sudah sakit, masak masih disiksa dengan kawat gigi, ujarnya.

Selain nyaman dipakai, alat itu harus lebih murah dari barang impor sehingga bisa dijangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama kalangan kelas menengah ke bawah.

Sebelum digunakan pada pasien di RSU Dr Soetomo, Surabaya, SNT Plate terlebih dahulu diujicobakan pada rahang kambing dan hasilnya sangat bagus. Kemudian, ia memperkenalkan hasil karyanya itu kepada rekan sejawat dan dokter yunior melalui pelatihan. Alhasil, selain digunakan di RSU Dr Soetomo, Surabaya, SNT Plate juga telah diadopsi para dokter di RSUD Sanglah, Denpasar, Bali, dan rumah sakit di Sumatera.

Sejak kecil, Sunarto bercita- cita menjadi dokter. Keinginan itu muncul ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama, tepatnya saat ia jatuh dari sepeda sehingga mendapat luka di kaki kirinya. Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia spesialis bedah onkologi tahun 1987, yang kini menjabat Wakil Ketua Laboratorium Ilmu Bedah FK Unair, ini pun bertekad menjadi dokter.

Semangatnya tidak pernah memudar kendati kini usia telah menggerogoti. Ia justru semakin tertantang untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan berinovasi melahirkan karya- karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

Sumber : Kompas, Rabu, 30 November 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks