Jun 16, 2009

Sumardi dan Jamu Tahan Flu Burung

Sumardi dan Jamu Tahan Flu Burung
Oleh : C Wahyu Haryo PS

Sejak dulu nenek moyang bangsa Indonesia memanfaatkan khasiat temu lawak (Curcuma xanthorriza Roxb), temu ireng (Curcuma aeruginosa Roxb), dan buah mojo (Aegle marmelos, L Corr). Di tangan Ir Sumardi MSc (42), ketiga bahan itu ternyata menjadi jamu yang bisa meningkatkan produktivitas ternak, sekaligus mencegah ternak terserang virus flu burung.

Pada lelaki yang lahir di Pati, Jawa Tengah, 21 Desember 1963, ini sebelumnya tidak terpikirkan bahwa ramuannya itu bisa bermanfaat mencegah flu burung. Sekitar tahun 1999, dosen Fakultas Teknologi Pangan Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang ini hanya membantu mendiang biku Bante Sudhammo yang membina sekitar 60 peternak penggemukan sapi di sekitar Gunung Muria, tepatnya di daerah Tayu, Kabupaten Pati.

"Setiap kali bertiup angin timur pada mangsa kanem (sekitar Mei-Juni), banyak ternak sapi di sana yang sakit dan tidak mau makan. Setelah bertukar pikiran dengan Bante Sudhammo dan merunut tradisi kesehatan Jawa, saya mulai mengembangkan ramuan dari temu lawak dan temu ireng untuk mencari solusi bagi peternak di sana," ungkapnya, pekan lalu.

Secara umum, di dalam temu lawak dan temu ireng terdapat senyawa fenolik, alkaloid, dan tripenoid yang berguna untuk menjaga kesegaran tubuh serta memperlancar peredaran darah. Dalam tradisi Jawa masing-masing senyawa itu tersedia secara terpisah, dengan cara diperas, diseduh, atau direbus. Dengan cara tradisional, sulit rasanya mendapatkan ketiga senyawa tersebut secara bersamaan.

Naluri sebagai peneliti mengantarkannya pada penemuan teknik untuk mendapatkan tiga senyawa ini sekaligus, yakni dengan cara ekstraksi. Hasil dari ekstraksi temu lawak dan temu ireng itu ternyata bisa menjaga sapi-sapi di sana tetap sehat dan pertumbuhannya bahkan semakin pesat. Ramuan ini ternyata juga bisa digunakan untuk menggemukkan kambing, babi, dan ayam.

Seiring dengan berjalannya sang waktu, lulusan Program S1 Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan Program S2 Hortikultura Universitas Sydney, Australia, ini menambahkan satu bahan yang selama ini kurang dimanfaatkan karena dianggap beracun, yakni buah mojo. Akan tetapi, untuk mengambil manfaat dari buah mojo harus melalui penelitian mendalam.

Bertolak belakang

Seperti diketahui, buah mojo memiliki dua senyawa yang bertolak belakang, yakni senyawa antiviral dan senyawa racun. Senyawa antiviral cukup bermanfaat karena bisa digunakan untuk melawan bakteri, mikroba, dan virus, sedangkan senyawa racun yang ada di dalamnya justru merugikan karena cukup mematikan.

Dari penelitian itu, suami dari Bekti Handayani (42) ini kembali menggunakan teknik ekstraksi untuk mengolah buah mojo. Hasilnya, teknik ini mampu menurunkan daya racun dalam buah mojo, tetapi tetap mempertahankan daya antiviralnya sehingga tidak berbahaya jika digunakan pada ternak.

Ramuan temu lawak, temu ireng, dan buah mojo yang semula hanya dibuat untuk memenuhi kebutuhan peternak di daerah Tayu lambat laun berkembang ke daerah lain, salah satunya ke Kabupaten Ngajuk, Jawa Timur.

Tanpa disengaja, di saat flu burung merebak di Indonesia, termasuk di Nganjuk, sejumlah peternakan ayam yang menggunakan ramuan itu pada ternaknya ternyata terbebas dari virus flu burung. Padahal, hampir semua ternak di peternakan di daerah tersebut mati terjangkit flu burung.

"Dari gejala ini, timbul keinginan saya untuk meneliti lebih jauh ramuan itu. Kesimpulannya, buah mojo ternyata mampu menurunkan tingkat virulensi flu burung. Rendahnya virulensi ini juga menekan patogenitas virus flu burung sehingga meningkatkan antibodi bagi unggas," paparnya.

Untuk menyempurnakan ramuannya, bapak dari Dara Prabandari (13) ini menambahkan bubuk buah cabe Jawa (Piper retrofractum Vahl), lempuyang wangi (Zingiber aromaticum, Val), madu lebah, dan gula tebu (Saccharum officinarum, L.). Penambahan ekstrak lempuyang wangi yang juga mengandung limonen ternyata dapat mempercepat perbaikan sel-sel yang rusak akibat serangan virus flu burung, saat proses penurunan virulensi berlangsung.

Pada Agustus 2005, ramuan ini diikutkan dalam uji tantang virus flu burung di Balai Besar Veteriner, Yogyakarta. Hasil uji titer kekebalan ternak yang diberi ramuan ini ternyata juga tinggi, yakni 4-4,2. Padahal selama ini jika titer kekebalan ternak ayam mencapai 4,6, sudah dipastikan kebal terhadap berbagai penyakit. Artinya, ramuan ini sudah mampu memberikan kekebalan terhadap berbagai penyakit.

Empat temuannya, yakni teknik ekstraksi temu ireng dan temu lawak, ramuan untuk ternak sapi, kambing, babi, dan ayam, teknik ekstraksi lempuyang wangi dan buah mojo, serta ramuan jamu untuk ayam berdaya tahan tinggi terhadap virus flu burung, kini telah dia patenkan. Hak paten dari ramuan ini pernah ditawar salah satu perusahaan dari Jepang sebesar Rp 6 miliar dalam jangka waktu tiga tahun.

"Tawaran ini saya tolak sebab jika diproduksi perusahaan Jepang, harganya pasti menjadi mahal. Kasihan peternak jika mereka harus membayar mahal untuk mendapatkan ramuan ini," tutur Sumardi.

Bersama beberapa nama, di antaranya Ir Gatot Murdjito MS, Dr Asto S Subroto, dan Dr Lasmono Tri Sunaryanto, pada Desember 2005 ia mendirikan PT Indoverb Sains Medika (ISM) di Semarang. Perusahaan inilah yang kemudian memproduksi ramuannya secara massal dalam kemasan botol 200 ml dan diberi nama Vet-i.

Harga

Dengan harga per botol Rp 65.000, alokasi biaya untuk tiap ekor ayam potong hingga umur 35 hari hanya sekitar Rp 150. Dengan ramuan ini, pertumbuhan ayam juga mengalami percepatan sehingga ayam hanya membutuhkan waktu 28 hari untuk bisa dipotong. Bisa dibayangkan berapa biaya pemeliharaan dan pemberian makanan yang bisa dihemat untuk sebuah peternakan besar.

"Sebenarnya, dari ramuan ini bisa saja dikembangkan menjadi vaksin, tetapi saya enggan melakukannya. Saya tidak ingin menambah virus di lapangan dengan membuat vaksin yang nantinya justru membuat persoalan kasus flu burung semakin kompleks," ujarnya.

Sumardi sebenarnya masih memiliki obsesi untuk mengembangkan ramuan tahan flu burung bagi manusia karena hingga saat ini sudah banyak korban manusia yang meninggal akibat terjangkit flu burung. Sayangnya, upaya ke arah itu masih terbentur keterbatasan finansial yang dimilikinya karena penelitian untuk mengembangkan ramuan ini pada manusia diperkirakan lebih dari Rp 5 miliar.

Sumber : Kompas, Senin, 17 Juli 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks