Jun 25, 2009

Sujana Arna : Fase Kehidupan Sujana Arna

Fase Kehidupan Sujana Arja
Oleh : D01

Sanggar tari topeng di Desa Slangit, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, itu bernama Panji Asmara. Luasnya sekitar seperempat hektar. Dindingnya belum diplester.

Sanggar itu terdiri dari empat kamar, yaitu ruang tamu, ruang tidur, kamar mandi, dan ruang penyimpanan gamelan, dengan lantai semen yang retak di beberapa bagian. Sementara di bagian depan terdapat pendopo berlantai keramik putih yang biasanya digunakan untuk latihan tari.

Pada dinding terpasang puluhan piagam penghargaan seni tari yang sebagian di antaranya berjamur dan kusam. Di situ tertulis, ”Diberikan pada Sujana Arja Atas Perhatiannya Pada Kesenian Tari Topeng”.

Panji Asmara artinya lebih kurang ”lambang kesejahteraan”. Hanya saja, meski usianya sudah belasan tahun, kesejahteraan itu belum juga mengena kepada si empunya sanggar, Sujana Arja.

Sehari-hari ia hidup dari bantuan anaknya dan pinjaman uang tetangga. Menurut ia, sekarang ia dan rombongannya tidak bisa mengandalkan hidup dari pentas tari topeng saja. Pentas paling dua kali dalam setahun.

”Setiap kali pentas, saya pasang tarif Rp 30 juta. Hasil itu saya bagi dengan sekitar 30 pemain, dari dalang, penabuh gamelan, hingga penari tambahan,” katanya ketika ditemui di rumahnya, akhir Juli lalu.

Jangankan untuk membeli kostum tambahan, untuk makan saja susah. Sehari-hari saya cuma nganggur, tidak punya dan tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Saya sering sedih dan menangis bila melihat keadaan saya seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, saya harus menerima semuanya, kata Sujana pasrah.

Keliling kampung

Tari topeng adalah satu-satunya warisan orangtuanya yang tersisa. Mulai umur delapan tahun, ia sudah diajari ayahnya untuk menekuni tari topeng dengan harapan dapat dibawa keliling kampung untuk bebarang (mengamen tari topeng). Dua tahun digembleng ayahnya, Sujana kecil mulai mengikuti rombongan kesenian ayahnya untuk menari di sekitar tempat tinggalnya di Desa Slangit. Ada lima urutan tari topeng yang harus dipelajarinya. Berturut-turut adalah panji, samba, rumyang, tumenggung, dan kelana.

Lima babak itu biasanya dibawakan dalam satu jam. Jadi, kalau keliling kampung bisa 10 hari kalau beres. Satu kali tampil dibayar dengan cara bakdeng, satu babak satu bedeng padi. Satu bedeng sekitar 8-10 kilogram padi, katanya.

Panji melambangkan kelahiran seorang manusia ke dunia. Samba melambangkan bayi yang telah beranjak dewasa. Rumyang melambangkan pernikahan yang ditujukan untuk menghasilkan keturunan yang baik. Tumenggung melambangkan kewajiban seseorang yang menikah untuk bekerja sebagai bekal bagi keluarga. Kelana adalah kontrol yang harus dimiliki orang itu agar tidak sombong dalam menghadapi hidup.

Belajarnya harus berurutan, tidak boleh loncat-loncat, karena ada pesan filosofisnya. Pasalnya, seni tari topeng awalnya merupakan sarana dakwah para wali di Cirebon untuk menyebarkan agama Islam, katanya.

Kepiawaiannya mulai dikenal masyarakat ketika ia berumur 12 tahun. Daerah tampilannya meluas hingga Cirebon dan akhirnya dikenal hingga tingkat nasional. Dengan pesat, namanya pun tercatat sebagai maestro seni tari, khususnya tari topeng Cirebon.

Alhasil, pertunjukan ke berbagai negara juga sering dilakoninya mewakili Indonesia. Tercatat negara seperti Australia, Amerika Serikat, Swiss, Belanda, Jerman, dan Jepang merupakan negara yang pernah ia kunjungi. Muridnya pun tidak sebatas dalam negeri, 32 muridnya tersebar di beberapa negara yang pernah ia kunjungi itu.

Jangan punah

Keinginan orangtuanya untuk terus melestarikan tari topeng diturunkan kepada dua anak laki-lakinya, Inu Kertapati dan Astori. Sama seperti Sujana, nama Inu Kertapati telah dikenal ke mancanegara melalui tari topeng. Terakhir, tahun 2004, Inu dikirim ke Taiwan mewakili Indonesia dalam pertukaran seni budaya.

Sekarang kalau ada undangan untuk tampil, Inu sering menggantikan saya karena saya sudah tidak kuat lagi untuk menari, katanya.

Akan tetapi, ia mengakui, warisan itu tidak cukup bila hanya ia berikan kepada anaknya. Lama-kelamaan tari topeng akan punah bila hanya segelintir orang yang mengetahuinya. Ia melihat lingkungannya, beberapa teman seperjuangannya, seperti tari topeng versi Palimanan, versi Gegesik, dan versi Losari, sudah di ambang kepunahan.

Kalau bisa, saya titipkan kesenian tari topeng yang masih tersisa ini pada generasi selanjutnya agar di kemudian hari tidak punah. Sebab, saya yakin dari topeng kita bisa belajar apa yang disebut dengan fase kehidupan, kata Sujana. (D01)

Sumber : Kompas, Selasa, 9 Agustus 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks