Jun 12, 2009

Suharyanto, Berdayakan Pesisir Banten

Suharyanto, Berdayakan Pesisir Banten
Oleh : R Adhi Kusumaputra

Potensi alam Banten selatan terhitung kaya, dari laut sampai pertanian. Namun, entah mengapa seolah dibiarkan begitu saja. Salah satu akar penyebabnya adalah kurangnya sumber daya manusia yang punya kapasitas untuk mengembangkan ini semua.

Inilah yang menjadi pemikiran Suharyanto (39), sarjana ilmu pendidikan lulusan Universitas Sanata Dharma, saat datang ke Banten selatan. Lulus tahun 1998, dia menerima tawaran temannya dari Yogyakarta untuk bekerja di daerah Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten.

Tahun 1999, ia mulai bekerja di Yayasan Pengembangan Masyarakat Banten Selatan (YPMBS), lembaga swadaya masyarakat yang didirikan PT Banten West Java (BWJ), pengembang yang membangun kawasan wisata terpadu Tanjung Lesung.

Awalnya dia guru sejarah di SMP Darma Cahya Purnama, SMP swasta yang didirikan YPMBS. Nama ini gabungan dari nama para pendirinya, yaitu Darmono, Cahyadi, dan Purnomo SP, para direktur di PT BWJ. Tujuannya agar kehadiran kawasan wisata Tanjung Lesung memberi manfaat bagi masyarakat Banten selatan, terutama mencetak SDM yang memadai.

SMP ini berlokasi di Desa Tanjungjaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, yang pada tahun 1998 masih termasuk desa miskin penerima Inpres Desa Tertinggal (IDT). "Masyarakatnya sangat miskin, dan pendidikan mereka sangat rendah. Lulusan perguruan tinggi hanya dua orang, selebihnya, tidak tamat SD dan banyak yang kawin muda," cerita Suharyanto akhir bulan lalu.

Dia lalu ingat masa kecilnya di Tegalsari, Desa Sendangrejo, Kecamatan Minggir, Sleman, DIY, di mana ayah dan ibunya buruh tani yang buta huruf. Jika ingin maju, kuncinya memang pendidikan. Karena itu, Suharyanto bertekad mengabdikan hidupnya bagi dunia pendidikan di tempat terpencil yang jauh dari ingar- bingar kota, dan bersama kawan-kawannya memberdayakan masyarakat Banten selatan.

Sejak mahasiswa di Yogyakarta, Suharyanto sudah aktif dalam gerakan pemberdayaan masyarakat di Kali Code dan Gunung Kidul. Pengalaman itulah yang kemudian menuntunnya membantu memberdayakan masyarakat pedesaan di Kecamatan Panimbang.

Suharyanto dan kawan-kawan mulai dengan siswa SD dan SMP karena mereka masih dapat dibentuk menjadi anak-anak mandiri dan punya keterampilan.

Selain menjadi guru sejarah di SMP, Suharyanto, yang kini jadi Koordinator Sosial Ekonomi YPMBS, juga menjadi motivator bagi para nelayan. Dia mendorong berdirinya Wahana Anak Pantai (WAP), sebuah perkumpulan anak-anak muda dari perkampungan nelayan Cipanon di Desa Tanjung Jaya.

Nelayan mandiri

Melalui WAP itu pula, dia tak henti-hentinya mengajak pemuda nelayan untuk mandiri. Yakni dengan mengajak para pemuda nelayan jadi pemandu wisata bagi mereka yang menginap di resor Tanjung Lesung.

Suharyanto menciptakan Paket Burung Camar, di mana tamu sejak pukul 05.00 dapat menyaksikan langsung nelayan menangkap ikan dan memberi makan burung camar yang menghampiri kapal nelayan yang penuh ikan.

Untuk menumbuhkan rasa cinta pada lingkungan, diciptakan pula Paket Berkebun di laut atau transplantasi karang.

Sejak diperkenalkan Juli 2005, sudah 200-an orang menikmati wisata bersama nelayan. "Sayangnya sempat terjadi tsunami dan gempa di berbagai daerah sehingga banyak tamu takut berlibur ke laut. Namun, liburan Lebaran ini jumlah tamu sudah banyak lagi. Kami berharap kondisi ini stabil sehingga nelayan Cipanon akan sangat terbantu," ungkap suami Tri Wahyuni (26) yang telah memberinya dua anak tersebut.

Di masa normal, di mana resor Tanjung Lesung penuh, 25 pemuda nelayan Cipanon yang tergabung dalam WAP bisa memperoleh sedikitnya Rp 500.000 per bulan per orang. Itu artinya setara dengan 10 kali order karena setiap menemani tamu melaut, pemandu wisata memperoleh Rp 50.000 dan anak buah kapal (ABK) Rp 20.000.

Paket wisata lain hasil ciptaannya yaitu mengajak tamu resor mendaki gunung dan menyusuri pantai dengan berjalan kaki, serta naik jukung tradisional menyusuri sungai selama dua jam. Selain itu, mengajak tamu melihat perkebunan cokelat seluas 10 hektar milik warga Kampung Cipanon. Di sini tamu dapat menginap di rumah penduduk (homestay) seharga Rp 200.000 per malam. Ada tiga rumah yang sudah siap menerima tamu.

Dampak positif dari kehadiran kawasan wisata terpadu Tanjung Lesung itu antara lain kini masyarakat bisa membuka warung, menjual makanan khas, dan membuat kerajinan kecil seperti gantungan kunci dari kerang. Ini semua, kata Suharyanto, membuat masyarakat desa, yang awalnya termasuk desa IDT, terangkat ekonominya.

Tak hanya itu. Para guru kesenian di SMP Darma Cahya Purnama diajaknya tampil sebagai "entertainer" mengisi hiburan di Kalicaa Villa saat makan malam. Para siswa SMP juga diajaknya tampil dalam acara kesenian di The Bay Villas.

"Kami coba mencari semua potensi, termasuk pertanian. Kami juga mendampingi petani jeruk di Desa Luluk, Tanjung Jaya, dengan menciptakan agrojeruk. Selain itu, mendampingi kelompok tani Bina Lestari di Desa Citeureup yang bergerak di bidang komoditas kehutanan dan perkebunan. Kami juga merintis penanaman pohon jati seluas 30 hektar dan tanaman kakao seluas 30 hektar," katanya.

Memang, bukan hanya Suharyanto yang memberdayakan masyarakat untuk mendukung sektor pariwisata di Banten selatan. Namun, lelaki asal Sleman, DIY, inilah yang setiap hari memotivasi pemuda nelayan Cipanon untuk mandiri, dan mengajak masyarakat untuk "memanfaatkan" kehadiran resor-resor mewah di Tanjung Lesung dengan aktivitas positif yang menghasilkan pendapatan.

Sumber : Kompas, Senin, 6 November 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks