Jun 21, 2009

Suharto, Penemu Tulisan Singkat Braille

Suharto, Penemu Tulisan Singkat Braille
Oleh : d03

Saat pertama kali bertemu, jarang ada yang percaya umurnya hampir berkepala delapan. Wajar, karena fisiknya tak menandakan kerentaan. Dia masih berjalan tegak, pendengaran sempurna, dan ucapannya jelas.

Itulah Suharto yang dikenal di Indonesia sebagai penemu tulisan singkat (tusing) braille. Dia lahir di Surabaya, 17 Januari 1926, dari keluarga pedagang dan pengusaha batik.

Suharto remaja dan kawan-kawannya yang tergabung dalam Tentara G(s)eni Pelajar (TGP) Jawa Timur hanya bermodal bambu runcing di tangan saat pertama kali mengepung tangsi Kempetai (polisi Jepang) di Surabaya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Seusai perang kemerdekaan, Harto—begitu ia biasa dipanggil—bergabung dengan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) pada tahun 1946. Bergabung dengan AURI inilah awal mula Harto kehilangan daya lihat. Dalam pertempuran di garis depan, pecahan granat menembus pangkal hidungnya di tengah-tengah antara kedua mata.

”Sebelumnya, sebenarnya ada dua peristiwa yang menurut saya petunjuk akan mengalami hal itu,” ujar Harto dalam perbincangan di Gedung Percetakan Wiyata Guna, Bandung, Rabu (5/10).

”Pertama, Silitonga, teman saya di AURI, melihat garis tangan kiri saya dan mengatakan sebentar lagi saya akan mendapat musibah besar. Antara marah dan bergurau, saya minta Silitonga berjualan jamu saja di pasar karena AURI tak cocok untuknya,” ujar Harto.

Peristiwa kedua adalah dia tak pulang saat libur Lebaran pada November 1946. Padahal, semua temannya mengambil libur. Saat itulah pertempuran di Pangkemiri, daerah di antara Tulangan dan Tanggulangin, Surabaya, pecah dan Harto diminta atasannya ikut mempertahankan daerah itu. Di sanalah ramalan Silitonga atas diri Harto terjadi.

Pergulatan batin

Harto merasa tahun 1946 sampai tahun 1950 adalah tahun-tahun terpanjang hidupnya. Pergulatan batin menjadi keseharian Harto. Melihat kebutaan Harto, kedua orangtuanya ingin menyerahkan semua harta kepadanya supaya Harto bisa hidup tanpa harus bekerja.

Saudara-saudaranya pun sudah setuju. Namun, tawaran ini ditolak Harto dalam hati karena tahu harta akan habis saat orangtuanya meninggal. Saat itulah hal terpenting terjadi dalam hidup Harto, yaitu keputusan hidup mandiri, walau dia belum tahu bagaimana caranya. Yang dia lakukan hanya meminta petunjuk kepada Yang Maha Kuasa.

Bulan Oktober 1950, Suharto meninggalkan rumah dengan bantuan adiknya. Tanpa sepengetahuan orangtuanya, dia pergi ke Rumah Buta di Bandung. Harto meyakini hanya pendidikanlah yang akan membuatnya bisa hidup mandiri. Suharto pun memulai babak baru dalam hidupnya.

Menjadi orang yang tak awas, dalam istilah Suharto, berarti mengandalkan indera lain. Ia terlatih menggunakan jari tangan kanan untuk membaca. Namun, setelah mendengar teman lainnya ada yang menggunakan dua tangan, kemudian dia berusaha. Hanya butuh dua minggu untuk melatih tangan kirinya.

Menulis menggunakan huruf braille, ujar Harto, jelas akan kalah cepat dibandingkan dengan orang yang awas. Apalagi, saat pertengahan tahun 1950 belum ada sekolah khusus pelajar tunanetra.

Menyingkat kata

Saat kuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung (sekarang Universitas Pendidikan Indonesia), Harto mulai merumuskan tusing agar dapat mengejar ketinggalannya menulis dari mahasiswa lain yang normal. Mula-mula Harto meminta bantuan temannya untuk membacakan dua Kamus Bahasa Indonesia.

Dengan kamus itu kemudian terkumpul kata-kata yang sering dipakai. Lalu Harto membuat 250 tanda tusing. ”Tusing adalah tanda untuk menyingkat kata dan bagian kata yang sering dipakai,” ujar Harto.

Tahun 1972, tusing mulai digunakan dalam pengajaran di kelas tunanetra. Tahun 1974 diterbitkan buku tusing pertama oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Penyebaran tusing semakin cepat saat Harto mengajar di Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa dan IKIP Bandung jurusan pendidikan umum. Saat ini, tusing digunakan di seluruh Indonesia.

Seusai pensiun mengajar, Harto memainkan peran baru sebagai konselor tunanetra yang mengalami kesulitan hidup di Yayasan Wyata Guna dengan moto ”tunanetra hanya bisa dimajukan oleh kaumnya sendiri”.

Sekarang Harto mengisi harinya bersama istrinya, Sugiyarti, yang dinikahi tahun 1957 dan cucu-cucu dari empat anaknya. Namun, Suharto bukan tipe orang yang ingin menikmati hari tuanya dengan istirahat.

Setiap hari selalu ada saja kegiatan yang dilakukannya. Salah satunya memproduksi prasarana pendidikan tunanetra.

Namun, Harto buru-buru mengatakan, ”Saya bercerita seperti ini bukan untuk menyombongkan diri, bukan sama sekali. Saya hanya ingin menggugah kaum saya. Ternyata, kalau berusaha dengan baik, siapa pun dapat menikmati hasilnya.” (d03)

Sumber : Kompas, Rabu, 12 Oktober 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks