Jun 18, 2009

Sugiman, Pelestari Wayang Topeng

Sugiman, Pelestari Wayang Topeng
Oleh : Irma Tambunan

Sugiman (70-an) termangu hampir tak percaya. Tari wayang topeng yang lebih dari 10 tahun lamanya meredup kini diminta ditampilkan lagi. "Ya tentu bisa, nanti saya ajak teman-teman yang masih tersisa untuk ikut menari," ujarnya memastikan.

Memang tinggal segelintir orang tua di Dusun Bobung, Desa Putat, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi DI Yogyakarta, yang memiliki kemampuan menari wayang topeng.

Tarian yang pernah hidup subur pada tahun 1950 dan 1960-an ini vakum seiring dibakarnya topeng-topeng mereka pada suatu malam oleh sejumlah orang tak dikenal di tengah maraknya penumpasan komunis tahun 1965. Tak hanya topeng yang ludes dibakar, kelompok tari wayang topeng pun dibubarkan karena dianggap bagian dari Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra). Sugiman sendiri ditangkap, lalu diasingkan ke Pulau Buru selama 11 tahun 10 bulan.

Namun, darah penari yang hidup dari ayahnya, (alm) Kartodibejo, terus mengalir. Seakan tak dapat meninggalkan kegairahan seniman, dalam pengasingan Sugiman kerap berlenggak-lenggok mengikuti penggalan adegan pada lakon Wayang Topeng "Panji Kromo", dengan iringan drum dobol yang ditabuh menjadi gong. Sejumlah tahanan yang tertarik dia ajari pula.

Sepulang dari Buru, Sugiman melihat perubahan pada kampung halamannya. Tradisi menari wayang topeng betul-betul redup, bekas penarinya sibuk menggeluti kerajinan topeng kayu.

Meski turut membuat kerajinan topeng kayu — karena ia sendiri belum mendapat pekerjaan — Sugiman mengajak teman-teman seangkatan yang dulu untuk kembali menari. Maka, latihan pun kembali digelar, dan masih ada satu atau dua undangan mengajak mereka berpentas.

Demi mengangkat semangat para penari tua serta anak-anak muda yang diharapkan untuk meneruskan tradisi ini, Sugiman membelikan sekitar 30 paket kostum dan aksesori seperti mahkota, kalung, gelang, probo, sampur, kelat bahu, dan membuatkan topeng-topengnya. Sugiman bukan orang kaya. Seluruh peralatan tersebut dibeli dari hasil tabungan receh atas penjualan topeng kayu. Saat itu, dalam ingatan Sugiman, para penari menjadi begitu antusias untuk kembali melanjutkan kejayaan mereka di atas panggung.

Terganti dangdut

Kenyataannya, para orang tua ini makin kesulitan mendapatkan penari-penari muda. Sangat sulit melakukan regenerasi, ujar Sugiman, karena anak muda lebih tertarik pada tarian modern. Berbagai macam tayangan hiburan juga mengisi tiap saluran televisi. Sementara, wayang topeng tergantikan dangdut dan campursari yang mengisi acara hiburan pada syukuran atau kondangan di desa-desa.

Pentas terakhir kelompok penari-penari tua ini adalah tahun 1989 pada peresmian sebuah yayasan di Kota Yogyakarta. Praktis setelah itu tak ada lagi tari wayang topeng. Kostum dan aksesori tari terbungkus dalam plastik dan disimpan di sudut kamar Sugiman.

Karenanya, saat mendapat tawaran kembali menari wayang topeng, 30 Maret lalu, meski tanpa bayaran sepeser pun, kegairahan Sugiman muncul. Malam itu, bersama istri, Ngadirah (70), dia membawakan busana dan aksesori lengkap yang telah lama terbungkus itu bagi para penari. Sugiman menampakkan kesungguhannya untuk menunjukkan tari wayang topeng masih layak dinikmati. Bahwa tari klasik dan tradisi rakyat ini perlu dilestarikan.

Satu jam sebelum jadwal pentas, rombongan kecil ini sudah tiba di rumah Kemiran, kepala dusun setempat. Mereka segera mengganti kostum dan berias. Saat iringan musik gamelan ditabuh, satu per satu penari-penari tua ini muncul, lengkap dengan kostum dan topeng kebanggaan yang menutupi wajah keriput mereka.

Pentas kecil pada malam itu mengingatkan Sugiman kembali akan kenangan 40 tahun lalu, sebelum topeng-topeng para penari dibakar. Masa di mana mereka menjadi penari-penari tenar, setidaknya untuk wilayah Gunung Kidul, yang hampir setiap minggu "ditanggap". Lalu, pria yang sudah lupa pada tanggal lahirnya ini membuat skenario, merangkap sutradaranya. Dialah yang mengatur karakter puluhan penari untuk memainkan lakon yang terdiri atas sekitar 10 adegan, dengan durasi tujuh hingga delapan jam alias semalam suntuk tiap pentas. Ia pula yang paling lihai menyelipkan ide-ide dagelan antar-adegan supaya mata penonton tak berpaling sedikit pun dari atas panggung. Di masa itu, hampir semua dusun di Gunung Kidul mereka jelajahi dengan berjalan kaki demi memenuhi undangan berpentas wayang topeng.

Kini, harapan Sugiman untuk terus melestarikan tari wayang topeng tumbuh. Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul mencanangkan Dusun Bobung sebagai desa wisata. Dan, sejalan dengan itu, mereka diharapkan nantinya mampu menyuguhkan sejumlah kesenian tradisional bagi wisatawan.

Sugiman langsung mempersiapkan pemuda dan remaja setempat untuk menjadi calon-calon penari topeng, terlebih dahulu dengan melatih anak-anak muda menabuh gamelan. "Katanya, desa ini akan kedatangan banyak wisatawan. Saya jadi semangat lagi. Saya ingin kembali menghidupkan kesenian wayang topeng," tuturnya.

Sumber : Kompas, Rabu, 12 April 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks