Jun 12, 2009

Sudarmasto : Pemulung yang Bergelar Master

Pemulung yang Bergelar Master
Oleh : Djoko Poernomo

Setiap kali melewati Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pikiran H Sudarmasto SH MPA (59) terganggu oleh banyaknya limbah buah, sayuran, serta bekas makanan dari warung dan rumah makan setempat yang menjadi barang tak berguna. Padahal, bahan-bahan itu sebenarnya masih bisa dimanfaatkan, misalnya, untuk makanan ternak.

Dalam hubungan itulah tiap pagi sekitar pukul 06.00 Sudarmasto memunguti sembarang limbah tersebut untuk kemudian diberikan kepada ayam peliharaannya.

"Ternyata ayam juga suka memakan buah dan sayuran. Kalau bekas makanan dari warung atau rumah makan, pasti disukai karena ada nasinya...," ujar pensiunan karyawan BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) ini.

Sudarmasto, antara lain, pernah menjabat Kepala Subbagian Perpustakaan selama 10 tahun serta Kepala BKKBN Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, sekitar tiga tahun.

Ayam jenis bukan ras (buras) yang ia beri pakan limbah pasar dan sisa makanan sekarang ini mencapai ratusan ekor dan ditargetkan jadi lima kali lipat pada akhir tahun mendatang.

Kotoran tak berbau

Oleh karena rumahnya di Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat, tak begitu luas, Sudarmasto meminjam sebuah rumah yang tak berpenghuni persis di depan rumahnya sebagai kandang ayam. Kebun kosong tak jauh dari sana juga dimanfaatkan untuk keperluan serupa, setelah pemilik yang sekurangnya mempunyai empat kapling tanah di kawasan yang sama sudah memberi izin.

Menurut Sudarmasto, kotoran ayam yang memakan limbah buah, sayuran, atau sisa makanan, tak berbau sama sekali. Ini sangat berbeda dibandingkan dengan kotoran ayam yang makan bahan buatan atau palet, di mana baunya bisa menjangkau hingga puluhan meter. Karena kotoran ayam tak berbau, Sudarmasto "berani" memelihara ayam di tengah kampung padat sekalipun.

"Tak ada tetangga yang protes. Padahal, rumah mereka mepet dengan kandang...," ujar bapak empat anak dan kakek satu cucu yang beristrikan Supi Maryati, asal Yogyakarta.

Sudarmasto dilahirkan di Kota Solo, tetapi sejak kanak-kanak ikut kedua orangtuanya, pasangan Idris Hadisunarso-Ny Suminah, pindah ke Yogyakarta hingga menamatkan Fakultas Hukum UGM tahun 1976. Adapun gelar Master Public of Administration (MPA) dari University of Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat, didapat tahun 1989 menyusul diperolehnya beasiswa bersama 40 teman satu instansi.

Ia tak menyesal seandainya ada orang yang mengikuti jejaknya, yaitu menghidupi ternak dari hasil memulung sisa-sisa buah dan sayuran dari pasar.

"Saya malah bangga karena lebih banyak orang yang ikut membantu membuang sampah. Kalau sampah yang ini tidak dibuang ke TPA, melainkan ke ’perut’ ternak, semisal ayam atau kambing," tutur Sudarmasto, penggemar olahraga catur yang semasa muda menjadi maskot klub catur Pranama, Yogyakarta.

Selama ini ayam peliharaannya tak perlu dijual ke pasar karena selalu habis dibeli para tetangga dengan harga Rp 70.000 per ekor.

Dari hasil penjualan ayam inilah ia bisa menutup kekurangan belanja dapur, mengingat uang pensiun dari BKKBN relatif sangat sedikit. "Separuh habis untuk membayar telepon, listrik, air, dan beli bensin. Jika tak dibantu dari pemasukan lain, begitu menginjak tanggal 20 setiap bulannya, uang pensiun sudah tandas," ungkap Sudarmasto yang akrab dipanggil Pak Haji.

Eksentrik

Anak nomor dua dari enam bersaudara ini memang dikenal "eksentrik". Ini, antara lain, ditunjukkan dengan peneraan kata "serabutan" di kartu namanya, bukannya jabatan formal selaku staf di BKKBN.

Mereka yang menerima kartu nama itu tentu tercengang. Kata serabutan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Depdiknas tahun 2000, artinya silang menyilang tidak menentu (tt arus lalu lintas); atau cenderung melakukan apa saja (tt pekerjaan, peran, dsb).

"Pekerjaan saya memang serabutan. Mulai jual beli barang, menyelesaikan persengketaan, supplier barang, sampai memulung...," tutur Sudarmasto. Biar kelihatan keren, di bawah kata "serabutan" kini diimbuhi kalimat Jack of all trade. Setahun terakhir predikatnya tambah satu lagi, menjadi peternak ayam.

Sebelum pensiun ia berada di jajaran eselon IIb atau berpangkat IVd di struktur kepegawaian. Ini setara dengan brigadir jenderal di kemiliteran. Namun, meski memiliki gelar SH dan MPA, ia mengaku tak risi menyebut dirinya selaku pemulung. "Ya, saya memang pemulung," tutur Sudarmasto.

Untuk membuktikan predikatnya itu, Sudarmasto menunjukkan bagian depan rumah yang dijadikan "semacam" gudang dengan aneka tumpukan barang bekas. Adapun sisa-sisa nasi berikut lauk-pauk, sayuran, dan buah dari hasil memulung di Pasar Kebayoran Lama dionggokkan di depan rumah. "Ngapain malu? Ini, kan, pekerjaan halal," tambah Sudarmasto yang bisa disebut sebagai perintis pendirian persewaan rumah murah untuk para turis asing di Kota Yogyakarta tahun 1970-an.

Selain itu, ia juga pendiri asosiasi guide (pemandu wisata) di kota yang sama, serta tokoh HTK (Himpunan Tenaga Kluyuran).

Sudarmasto menjelaskan, "Kluyuran artinya lontang-lantung, tak punya pekerjaan. Mereka saya himpun dalam satu wadah dengan usaha antara lain penitipan jasa sepeda di Pasar Ngasem, Yogyakarta." Berkat—antara lain—memulung itu pula, Sudarmasto bisa mengantar ketiga anaknya lulus antropologi (S1), akuntansi (D3), dan hukum (S1). Anak bungsu yang masih duduk di bangku SMP, katanya, bakal mengikuti jejak sang bapak kerja "serabutan".

Sumber : Kompas, Jumat, 13 Oktober 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks