Jun 12, 2009

Sahat Tambun : Sahat, Mengembangkan Uis Karo

Sahat, Mengembangkan Uis Karo
Oleh : Andy Riza Hidayat

Bagi penggemar kain adat, orang akrab dengan kain ulos Batak. Ulos, tampaknya hanya itu yang dikenal oleh banyak orang. Padahal, selain itu di wilayah Sumatera Utara sebenarnya juga ada kain adat yang lain, yaitu kain adat masyarakat Karo yang disebut uis karo.

Orang Karo sebagian besar membeli kain adat ke penenun tradisional dengan alat tenun gendong (gedokan) di sekitar Pangururan, dekat Danau Toba. Karena wilayah Pangururan merupakan wilayah masyarakat Batak Toba, dengan kata lain, selama bertahun-tahun orang Karo membeli kain adatnya ke penenun yang bukan orang Karo.

Adalah Sahat Tambun, pria kelahiran Kabanjahe 51 tahun lalu, yang bertahun-tahun menimba ilmu tentang kain. Setelah lulus dari sekolah menengah umum, dia melanjutkan studi ke Institut Teknologi Tekstil (ITT) Bandung, dan pada 1988 dia menyelesaikan studinya di ITT.

Tidak puas dengan itu, Sahat berkelana ke Pekalongan di Jawa Tengah dan Gresik di Jawa Timur untuk belajar kain tenun setempat. Untuk memahami kain adatnya sendiri, ia pun belajar kain adat di tanah leluhurnya, Karo.

Sahat kemudian merasa cukup memiliki ilmu tentang kain dan tenun. Sementara modal yang diperlukan untuk membuat usaha tenun kain adat tidak terlalu besar.

Keinginannya belajar kain adat mulai dari warna sampai motif. "Warna yang paling disukai orang Karo adalah warna gara-gara (merah kehitam-hitaman). Warna itu banyak dipakai orang Karo. Salah satu motif yang terkenal di Karo mengambil motif yang terdapat di rumah adat Karo, yaitu pangeret-eret (gambar seperti binatang cecak di dinding rumah adat Karo)," papar Sahat.

Motif lain yang banyak peminatnya adalah uis beka buluh (motif seperti belah bambu). Uis beka buluh adalah kain adat yang sering dipakai kaum lelaki suku Karo dalam acara adat sebagai bulang-bulang, dibelitkan di kepala ibarat mahkota atau dipakai sebagai cengkok-cengkok, diletakkan di atas pundak.

Tidak hanya itu, banyak ragam kain adat yang diminati sesuai keperluannya. Beberapa di antaranya, seperti kain polos, bergatip, berlegot, bulu torus, dan jungkit. Umumnya, jenis kain itu terbuat dari bahan katun dengan ukuran kehalusan benang yang beragam, sedangkan kemampuan alat tenun gedokan sangat terbatas.

Seorang penenun yang menggunakan gedokan tidak bisa bebas bergerak karena dia harus memangku alat tersebut. Jika memproduksi dalam jumlah banyak, penenun akan lekas capai. Dari sisi produksi, kemampuan gedokan hanya selembar kain setiap kali penenunan.

Bukan mesin

Dengan latar belakang itulah, timbul keinginan Sahat mengembangkan kain uis khas Karo di Karo sendiri. Modal pengetahuannya tentang kain sudah cukup baginya untuk memulai sesuatu yang baru. Untuk mencari alat yang memiliki kemampuan produksi tinggi dan mutu kain yang baik, Sahat memilih alat tenun bukan mesin (ATBM).

Pada 1992, Sahat memberanikan diri membeli satu ATBM. Dalam perjalanannya, alat tersebut sangat efektif. Ia menepis anggapan bahwa kain adat hanya dapat diproduksi dengan menggunakan gedokan. Sahat mengembangkan usahanya dan sekarang dia mempunyai sembilan ATBM. Masing-masing ATBM miliknya bisa memproduksi rata-rata satu lembar kain (1,75 meter) selama sembilan jam.

Dengan mempekerjakan 15 penenun, di tempat usahanya di Pertenunan Trias Tambun, ia menghasilkan 26,25 meter kain adat setiap hari. Kini, tidak hanya uis beka buluh yang bisa dia buat. Dengan ATBM, dia bisa membuat kain adat bercorak lain, seperti uis ragi barat, uis ragi cantik, uis nipes, uis gara, uis julu, dan uis teba. Semua pekerja Sahat berasal dari perajin tradisional uis karo yang sebelumnya menggunakan alat gedokan.

Bagi Sahat, salah satu keinginannya tidak saja mengembangkan warisan budaya, melainkan juga mengembangkan kemandirian ekonomi keluarga dan masyarakat sekitarnya. Paling tidak bersama anak-anaknya, Jem Persada (10), Joshua (8), dan Krisnando (3), ia bisa hidup sejahtera.

Selain itu, lewat usahanya itu ia telah membuka lapangan pekerjaan bagi belasan orang. "Tetapi, kepuasan saya bukan semata-mata pada uang, melainkan senang saat kain produksi saya dipakai orang," ungkap Sahat.

Tanah yang sebelumnya kosong di samping rumahnya menjadi tempat berkarya para penenun tradisional yang kini memakai ATBM. Suara derit ATBM akrab dengan Sahat serta keluarganya.

Usaha Sahat berkembang. Sebagai perusahaan modern, Sahat menjabat selaku manajer produksi, sedangkan istrinya, Christina beru Barus (50), sebagai manajer pemasaran. Dia pun kini mempunyai lapak sendiri di Pasar Kabanjahe di Jalan Upah Tendi Sebayang nomor 48.

Sore itu, pertengahan September 2006, Christina menerima tamu yang akan membeli kain adat. Mereka memesan untuk oleh-oleh sanak saudaranya yang ada di Jakarta. Itulah persoalan Sahat sekarang: menghadapi banjir order. Sejumlah pelanggannya meminta agar kain adat Karo dibuat dalam kemasan kecil.

"Selain harganya bisa lebih murah, juga praktis bisa dibawa ke mana-mana. Untuk satu lembar kain uis karo berkisar Rp 150.000-Rp 300.000 per potong. Tidak mahal," tutur Sahat seraya berpesan, kalau Anda ke Karo jangan lupa bawa cendera mata uis karo.

Sumber : Kompas, Kamis, 12 Oktober 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks