Jun 20, 2009

Sri Mulyati dan Perjuangan Susun Naskah Kuno

Sri Mulyati dan Perjuangan Susun Naskah Kuno
Oleh : Yenti Aprianti

Menerjemahkan naskah kuno tidak hanya mengharuskan penerjemah memiliki perbendaharaan kata dalam berbagai bahasa yang nyaris tidak lagi dikenal masyarakat. Tetapi, juga wajib menghafal bentuk dari berbagai jenis aksara sekaligus mengenali ciri tulisan tangan penulis.

Jangankan naskah kuno, tulisan tangan sendiri dengan aksara Latin saja kadang sulit dibaca”, kata Sri Mulyati (45) yang sering dipanggil Ati ini.

Kesulitan terbesar jika naskah tersebut ditulis oleh orang-orang awam. Biasanya susunan kalimatnya tidak keruan. Begitu juga dengan tanda-tanda baca dan bentuk hurufnya. Sementara naskah yang ditulis bangsawan lebih teratur.

Namun, seluruh kesulitan itu tidak membuat Ati kecil hati. Ati yang kini merupakan satu- satunya penerjemah naskah kuno di Museum Sri Baduga, Kota Bandung, ini sering membawa pulang naskah-naskah kuno untuk diterjemahkan, hingga larut malam. Dalam setahun Ati biasanya menyelesaikan satu naskah kuno.

”Mengalihbahasakan bukan hal yang sulit. Yang sulit adalah mengalihaksarakan sebuah naskah,” ujar Ati yang mampu membedakan aksara jawa kuno, jawa pertengahan, jawa modern, sunda kuno, sunda modern, arab melayu, arab pegon, dan arab asli.

Belum lagi, sering juga Ati yang telah menjadi penerjemah selama 13 tahun ini menemukan naskah yang halamannya hilang beberapa lembar. Untuk melengkapinya, ia harus mencari dan mempelajari naskah yang sama versi lain atau menganalisis bab per bab naskah untuk menemukan benang merah yang hilang.

Dulu lebih beretika

Banyak pengetahuan yang bisa Ati petik dalam naskah-naskah kuno, terutama pengetahuan-pengetahuan tentang sosiologi, etika, hingga obat-obatan tradisional. ”Ternyata orang zaman dulu lebih beretika daripada orang zaman sekarang,” kata Ati.

Ucapannya ini dilatarbelakangi oleh pengalamannya yang amat berkesan saat menerjemahkan naskah kuno berbahasa Cirebon dengan aksara-aksara campuran jawa kuno dengan Sunda cacarakan—aksara Sunda yang dipengaruhi aksara jawa kuno—berjudul Nitisastra Parwa-Parwa Gambaran yang ditulis pada abad ke-17.

Naskah tersebut berisi tentang etika yang berlaku dalam sebuah pemerintahan. ”Meskipun kita mengenal bahwa raja amat berkuasa, ternyata etika pemerintahan mereka tidak demikian. Di antara aturan bernegara, jika raja melakukan kesalahan, ia patut ditegur dan bisa juga sampai dihukum,” tutur Ati.

Sementara dalam naskah lainnya berjudul Nitisruti dinyatakan bahwa pegawai kerajaan diterima bukan berdasarkan keturunan, melainkan karena berkemampuan baik.

Sayangnya, tidak banyak orang muda yang tertarik mempelajari penerjemahan naskah kuno. ”Mahasiswa sekarang sebagian besar lebih tertarik mempelajari sastranya. Padahal, jika kita mempelajari ilmu menerjemahkan naskah kuno, tidak hanya sastra yang bisa dipelajari, tapi linguistik, serta bisa memahami berbagai bahasa kuno seperti sansekerta dan huruf-huruf kuno seperti palawa,” tutur Ati, alumnus Sastra Nusantara Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tahun 1988.

Benturan birokrasi

Ibu dari dua anak, Putu Ayu Sri Ratna Juwita Bumi Banten (20) dan Gede Putra Yogi Swara Jenana Walkiam, ini memperlihatkan kecintaannya pada naskah kuno dengan memberi nama anak-anaknya dengan bahasa-bahasa kuno.

Sementara suaminya adalah seorang seniman patung, yaitu Made Cangker (48), yang sering bepergian ke berbagai provinsi di Indonesia dan mancanegara, suka memberinya hadiah cerita- cerita lokal berbagai etnis dan buku-buku yang berguna untuk upayanya menganalisis dan mengkaji naskah kuno.

Kecintaan Ati terhadap naskah kuno muncul lewat perjuangan keras dan keteguhan. Ati yang berdarah Jawa dan Pontianak ini dibesarkan di Pontianak, Kalimantan Barat. Ia tidak pernah mengenal aksara lain selain aksara Latin. Sehari-hari ia pun berbahasa Indonesia.

Selulus sekolah menengah atas pada tahun 1981, ia memilih Jurusan Psikologi UGM Yogyakarta dan iseng-iseng memilih jurusan lain, Sastra Nusantara. Ternyata ia diterima di pilihan keduanya.

Semester awal perkuliahan Ati sempat putus asa dan memutuskan untuk berhenti kuliah lantaran ia sama sekali tidak mengerti semua mata kuliah yang diajarkan, terutama soal aksara dan bahasa.

Ia berubah setelah melihat ketekunan tiga mahasiswa asing seangkatannya. Saat itu di Jurusan Sastra Nusantara UGM terdapat tiga mahasiswa dari Australia, India, dan Jepang. ”Mereka saja mau belajar mempelajari naskah yang menjadi akar Indonesia, kenapa saya tidak?” ujar Ati.

Ati pun kemudian mencoba memahami berbagai mata kuliah di Jurusan Sastra Nusantara, dengan mempelajari pelajaran bahasa dan aksara-aksara dari berbagai etnis di Indonesia yang diperuntukkan bagi siswa sekolah dasar di wilayah lokal sebuah daerah.

Sayangnya, kini belasan naskah kuno yang telah diterjemahkannya lebih sering teronggok di mejanya karena benturan birokrasi yang mengakibatkan naskah tersebut tidak bisa diperbanyak untuk masyarakat dalam bentuk buku.

”Untuk menyebarkan isinya, dengan modal sendiri saya ringkas naskah itu untuk dimuat di koran, diseminarkan, atau dihadirkan dalam berbagai kongres,” ujar Ati. Hingga kini Ati terus menerjemahkan naskah kuno dengan hati khawatir. Ia khawatir tidak ada yang meneruskan profesinya jika ia pensiun kelak karena lambatnya regenerasi penerjemah naskah kuno.

Sumber : Kompas, Senin, 21 November 2005

1 comments:

Lee HyoKyo said...

Apa dari jurusan sastra indonesia bisa menjadi penerjemah naskah kuno?

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks