Jun 20, 2009

Ratmini Soedjatmoko, Mensyukuri Hidup Bermakna

Ratmini Soedjatmoko, Mensyukuri Hidup Bermakna
Oleh : August Parengkuan

”I have a very good life with Koko. Dia adalah suami yang baik, guru yang baik, teman yang baik. Dari sebelumnya saya yang apolitik sampai mengerti politik, lingkungan hidup, humanisme.”

Itulah yang diungkapkan Ratmini Soedjatmoko, janda almarhum Dr Soedjatmoko (1922-1989), mengenai almarhum suaminya, yang selalu disapa teman-teman dekatnya dengan Koko. Hari Minggu (20/11/2005) Mini, demikian ia disapa oleh teman-temannya, merayakan hari jadi di Jakarta.

Ratmini ketika masih gadis bernama Ratmini Subranti Gandasubrata, pada usia ke-80 masih sangat bugar, selalu well dressed, dan lebih itu dari wajahnya terpancar sinar yang masih memesona dari kecantikan hakiki.

Ia menikah dengan Soedjatmoko tahun 1957, ketika Soedjatmoko berusia hampir 32 tahun, hanya dua bulan setelah mereka berkenalan di rumah Mr (Meester in de Rechter) Ali Budiardjo. Ketika itu sebagai penggemar olahraga layar, Mini menghadiri rapat di rumah Budiardjo sebagai ketua organisasi olahraga layar. Istri Ali Budiardjo, kemudian dikenal sebagai Prof Miriam Budiardjo, adalah saudara kandung Soedjatmoko.

”Kami jatuh cinta pada pandangan pertama,” tutur Ratmini. Waktu itu, Koko masih dirut penerbitan PT Pembangunan, saya menjadi guru gambar di SKP (Sekolah Kepandaian Putri), karena kebetulan saya lulus dari B1 untuk Art. Kursus B1 itu kemudian menjadi IKIP,” tutur Ratmini.

Belum lama menikah, suaminya meminta Ratmini belajar mengemudikan mobil. ”Kemudian saya mengerti akan dijadikan sopir keluarga, di antaranya antarjemput anak-anak ke sekolah.

”Dia pernah komentar mengenai saya, I want her to be independent. Buat saya tidak soal, sebab saya pernah sekolah satu tahun di Negeri Belanda pada awal tahun 1950-an. Dia memberi kebebasan berkarya. Koko itu selalu sangat sibuk menulis, membaca, berbincang, dan berdiskusi dengan tamu yang datang ke rumah. Saya sering ikut mendengarkan, hingga menjadi mengerti politik, sosial, humanisme, lingkungan hidup,” kata Ratmini, ibu tiga anak dan eyang empat cucu. Putri tertuanya, Kamala Chandra Kirana, adalah Ketua Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan.

Semasa remaja, Ratmini sering berpindah kota sebab ayahnya, Mr Sudirman Gandasubrata yang hakim pengadilan negeri itu, pernah ditugaskan di Indramayu, Sumenep, Purwokerto, Purbalingga, Banjarnegara, dan Banyumas. Ratmini lahir 18 November 1925 di Jakarta ketika ayahnya sudah kembali dari studi di Universitas Leiden, Belanda, dan berhasil menggondol gelar Meester in de Rechter.

Selalu aktif

Seperti ibunya, Satinah, yang tidak bisa tinggal diam, demikian pula Ratmini. Satinah suka menjahit, memasak, membatik, menembang, mengurus rumah besar, merawat lima anak, dan selalu ada saja yang dikerjakannya. Ibunya juga pandai menulis aksara Jawa. Demikian pula Ratmini yang hingga kini aktif di Women International Club.

Ia mengikuti perkumpulan poco-poco di antaranya dengan Ny Herawati Diah (87), Emil Salim dan istri, Ny Zena Hamid Algadri, Ketua Legiun Veteran Letjen TNI (Purn) P Suwondo, mantan Dubes Tetty Latupapua. Perkumpulan beranggotakan 20 orang, sebagian besar perempuan, berusia 60-88 tahun itu dinamai Diah Dance Group (DDG). Mereka mendemonstrasikan kebolehannya pada pesta ulang tahun ke-80 Ratmini.

Ratmini merasa beruntung pula ketika suaminya diangkat sebagai Dubes RI untuk AS (1968-1971). ”Koko banyak bergaul dengan kaum intelektual yang sering berdiskusi di kediaman kami, di antaranya Robert McNamara. Sering berdebat dengan kaum cendekiawan, bahkan sering mengunjungi berbagai perguruan tinggi di AS. Saya sendiri lalu masuk Academy of Fine Art, belajar melukis. Sebelumnya saya baru menjadi guru gambar, dari situ saya menjadi pelukis. Saya memilih belajar di Washington, sebab jenuh dengan kegiatan kaum ibu dari berbagai kedutaan besar,” Ratmini.

Ketika suaminya diangkat sebagai Rektor Universitas PBB di Tokyo (1980), Ratmini belajar membuat lukisan Jepang, sumie. Beberapa di antaranya masih tergantung di tembok rumahnya di Jalan Tanjung, Jakarta.

Bagaimana Ratmini mengisi hari-harinya setelah ditinggal mendiang suami? ”Kesepian terasa pada satu tahun pertama setelah Koko meninggal. Beruntung saya punya teman banyak. Mereka selalu mendorong saya tetap melakukan berbagai kegiatan. Kemudian saya harus membereskan banyak sekali kertas-kertas yang ditinggalkan Koko. Ia orang yang tidak tega membuang kertas-kertasnya. Bahkan ada undangan yang sudah diberi catatan berhalangan hadir, juga disimpannya. Jumlahnya berdos-dos, yang harus saya sortir. Yang saya rasa tak perlu, saya buang,” tutur Ratmini.

Ratmini mengungkapkan, Koko tidak pernah mengajaknya ikut bila memberi ceramah atau mengikuti berbagai kegiatan ilmiah. Tetapi, ketika ia harus menghadiri suatu diskusi di Yogyakarta, 21 Desember 1989, dia mengajak Ratmini ikut. ”Saya lalu mendampinginya. Dan ketika sedang bicara mengenai masalah pendidikan dan masyarakat madani, ia terkena serangan jantung, dan meninggal dunia,” kenang Mini.

Sumber : Kompas, Selasa, 22 November 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks