Jun 25, 2009

Sipit, Juragan Kumbang dan Cuci Mobil

Sipit, Juragan Kumbang dan Cuci Mobil
Oleh: Jimmy S Harianto

Dari luar, pekarangan tempat cuci mobil milik Pak Sipit (57) tampak biasa-biasa saja. Tetapi, coba masuk lebih dalam lagi ke pekarangan CM 99 tempat cuci mobil milik Sipit ini di seberang Kampus Universitas Borobudur, Kalimalang, Jakarta Timur maka Anda akan menemukan daya tarik lain.

Pekarangan semen, yang dijajari tanaman hias rimbun jualan lelaki asli Madura ini, bisa menampung setidaknya 20 mobil. Terbilang paling mahal ongkos cucinya, Rp 8.500 per mobil, sementara rata-rata ongkos cuci di tempat lain hanya Rp 6.000.

Di latar belakang tempat parkir semen CM 99 ini menjulang rumah panggung, total dari kayu jati lama yang diserut kembali, arsitekturnya rumah tradisional Lampung dengan kaki-kaki panggung jati kekar.

Saya bikin rumah ini setelah melihat rumah panggung saat PON (Pekan Olahraga Nasional Red) Palembang, ungkap Sipit, yang nama aslinya Tri Susilo ini. Selain bertangan dingin menjalankan bisnisnya, Sipit juga sukses sebagai pelatih pencak silat. Tercatat, setiap kali membawa tim asuhannya bertanding, Sipit selalu membawa timnya juara.

Terakhir, tim pencak silat yang saya bawa tampil sebagai juara umum di (pekan olahraga) SEA Games Malaysia 2003, ungkap Sipit. Di PON Palembang (tahun lalu) pun, tim pesilat DKI asuhannya juga juara umum.

Sebagai juragan cuci mobil, ia juga juara. Sedikitnya 150 mobil sampai 300 mobil per hari omzetnya. Belum lagi usaha kandang bekisarnya (dari bahan beton), yang juga laris. Ia juga punya usaha tanaman hias (kebun pembibitannya di Parung ada kalau cuma dua hektar), dan dua tahun terakhir, Sipit juga laris dengan usaha ekspor kwangwung.

Kwangwung (Jawa), kumbang kelapa atau kelapa sawit yang notabene hama perusak batang pohon itu, merupakan salah satu komoditas bisnis larisnya ke Jepang, Taiwan, dan berbagai negara lain di dunia.

Koleksi kumbang kami termahal terjual seharga sekitar Rp 20 juta seekor, ungkap Andi Rafiandi, menantu Sipit yang saat ini diserahi penuh untuk meneruskan bisnis jual kumbang ini di kompleks cuci mobil CM 99 di Kalimalang.

Karena kumbang, hama kelapa, dan kelapa sawit ini memang diperuntukkan sebagai koleksi bagi para penggemarnya di Jepang dan Taiwan, keunikan koleksi kumbang miliknya tentu menjadi syarat utamanya, kata Sipit.

Jenis-jenis langka, seperti kumbang pemakan tahi (kotoran) gajah (andromorf dorcus bucephalus), harganya ratusan dollar AS per ekor, kata Andi Rafiandi pula.

Selain sudah mengekspor ribuan kumbang hama pohon dalam bentuk kering dan mati, Sipit dan menantunya, Andi, ini juga mengirim ribuan kumbang hidup-hidup untuk koleksi para kolektor kumbang (entomolog) mancanegara.

Kumbang-kumbang itu dibeli Sipit dari para petani yang berburu hama pohon itu di hutan-hutan, di Jawa maupun Sumatera. Gudang kumbang milik Sipit ada di belakang pekarangan tempat cuci mobil CM 99 di Kalimalang. Ada ratusan jenis kumbang, yang kesemuanya asli, dia dapat di Indonesia.

Sedangkan bisnis cuci mobilnya yang kini maju dulu bermula dari pengalaman pahit, jatuh nyaris bangkrut saat krisis ekonomi (krismon) melanda Indonesia sekitar tahun 1997. Sipit, yang penjual tanaman hias itu, waktu itu mendapat borongan besar-besaran untuk menggarap taman di real estat Bintang Metropole, Bekasi. Persis pada saat akan dibayar, krismon melanda, maka pembayaran pun macet.

Supaya tak semakin bangkrut, Sipit putar otak. Maka, sebagian lahan tanaman hiasnya di pinggir Kalimalang, Jakarta Timur, disisihkan buat mencuci mobil. Mula-mula untuk tiga mobil, dalam dua bulan kemudian diperluas lagi jadi enam mobil dan setelah mendapat pinjaman modal berkat kredit Bank Bukopin sebanyak Rp 1,2 miliar, Sipit pun memperluas usahanya: beli pekarangan di belakang lahannya (sehingga total seluas 1.750 meter persegi) dan meningkatkan fasilitas gudang penampungan kumbangnya.

Diam-diam, Sipit kini sudah berhasil mempekerjakan 86 pegawai di cucian mobil dan motor, serta 12 orang lagi untuk karyawan kandang bekisar serta tanaman hias.

Biar mereka semua S3 (sama sekali enggak sekolah), setiap hari penghasilan anak-anak pencuci mobil ini bisa mencapai Rp 70.000 per hari. Tempat cucian buka 24 jam dan penghasilannya patungan dengan mereka yang mencuci, ungkap Sipit. Lebih dari itu, anak-anak pencuci mobil yang berbakat disekolahkan Sipit sampai lulus SLTA. Sipit yang dulu hanya lulusan SMA Wijaya Kusuma Surabaya ini berhasil menyekolahkan tujuh dari delapan anaknya sampai sarjana (satu anaknya meninggal dunia).

Prinsip saya, daripada berumur panjang tetapi merepotkan orang lain, lebih baik hidup berguna untuk orang banyak, ungkap Sipit, yang kini terbilang kaya karena kerja kerasnya ini pula.

Sumber : Kompas, Senin, 19 September 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks