Jun 25, 2009

Ruth Sahanaya : Nyanyian Hidup Ruth Sahanaya

Nyanyian Hidup Ruth Sahanaya
Oleh : Frans Sartono

Ruth Sahanaya memang segalanya. Dalam konser Ruth Sahanaya Live in Concert di Jakarta Convention Center, Kamis (15/9/2005) malam, ia membuktikan diri sebagai penyanyi yang mempunyai massa riil. Nyatanya, sekitar 5.000 pengunjung konser larut dalam koor massal mengikuti lagu Ruth, seperti, Memori, Astaga, sampai Kaulah Segalanya.

Ruth tampil bersama Erwin Gutawa Orchestra dengan 60 musisi di bawah konduktor Aminoto Kosin. Ia membuka konser dengan potongan lagu spiritual How Great Thou Art. Lagu ciptaan Carl Boberg dan RJ Hughes yang dibawakan dalam versi bahasa Indonesia itu ditampilkan sebagai semacam doa syukur. Lalu, disambunglah dengan lagu kondang Ruth, Bawa Daku Pergi disusul Pesta.

Lagu-lagu Ruth dalam konser yang digelar Marvel Communication itu menghadirkan suasana semi-nostalgia. Setidaknya banyak lagu yang diambil dari album Ruth yang dibuat pada sepuluh sampai delapan belas tahun lalu. Penonton yang kebanyakan berusia di atas 30 tahun itu tampak menikmati konser dengan ikut bernyanyi.

Penyanyi kelahiran Bandung, Jawa Barat, 1 September 1966, itu hadir di belantika musik Tanah Air di paruh kedua era 1980-an. Ruth menawarkan suara yang terbukti berkenan di telinga publik. Pentas musik pop Indonesia saat itu dimeriahkan oleh suara Iis Sugianto, Dian Piesesha, sampai Betharia Sonata. Lagu-lagu Ruth oleh pelaku industri musik saat itu dikategorikan sebagai pop kreatif, sedangkan lagu Betharia Sonata disebut pop ”doang” tanpa embel-embel kreatif.

Mezosopran

Lewat album pertama, Seputih Kasih, terbitan Aquarius tahun 1987, Ruth menyodorkan suara cantik berjenis mezosopran atau setengah sopran. Ini adalah jenis suara perempuan yang berada di antara soprano dan contralto. Suara Ruth terdengar lebih rendah-rendah berat dibandingkan dengan sopran. Jika berbicara, suara Ruth terdengar serak-serak berat.

Akan tetapi, lagu yang ia bawakan sering merambah wilayah kekuasaan mezosopran. Ia lalu bernyanyi dengan mengerahkan tenaga atau setengah ngeden. Otot-otot leher Ruth tampak menegang.

Justru dengan tabiat nyanyi seperti itulah orang kemudian mengenal karakter nyanyi seorang Ruth Sahanaya.

Ingat Ruth saat melantunkan lagu Keliru. Bagian awal lagu ia bawakan dengan suara alami pemilik jenis mezosopran. Memasuki bagian refrein, Ruth mulai ngeden dengan jernih dan lantang.

Jika dituntut nada lebih tinggi, ia juga menyiasati nada tinggi dengan teknik falsetto seperti pada akhir lagu Memori. Dalam konser, Ruth lebih banyak membelokkan nada-nada tinggi ke nada lebih rendah, misalnya pada lagu Memori dan Tak Kuduga.

Kecantikan mezosopran Ruth itu kurang tersampaikan dengan optimal dalam konser. Sistem tata suara terkesan memendam suara Ruth. Penggarapan tata musik yang lebih berorientasi ke penghadiran suasana cenderung mengurangi kecantikan vokal Ruth.

Toh dengan kondisi seperti itu, Ruth masih mampu menghidupkan suasana. Itu dimungkinkan karena di depan publiknya, ia telah berhasil membentuk citra diri sebagai penyanyi lewat vokal, lagu, dan mungkin juga kepribadian.

Dua dekade

Konser Ruth pada Kamis lalu menandai kiprahnya di belantika musik selama dua dekade ini. Anak bungsu keluarga Sahanaya itu mulai bernyanyi di lingkungan gereja di Bandung. Suara Ruth sejak awal tampaknya sudah berkenan di telinga orang— tanpa pertimbangan komersial. Itu terbukti ketika ia menjadi juara pertama festival penyanyi pop tingkat Bandung pada tahun 1983.

Pengakuan akan suara Ruth itu diperkukuh oleh kemenangan sebagai juara II pada festival penyanyi pop se-Jawa Barat. Keluar dari lingkup Jawa Barat, Ruth pun tetap diakui, yaitu lewat gelar juara II di ajang Bintang Radio dan Televisi tingkat nasional. Itu semua diraih Ruth dalam tahun 1983.

Di belakang hari, pengakuan akan olah vokal Ruth masih terus berlanjut. Pada tahun 1992 ia menjadi pemenang grand prix dalam Midnite Sun Song Festival di Finlandia.

Ketika pada tahun 1994 ia menikah dengan Jeffrey Daniel Waworuntu dan kemudian menjadi ibu dua anak, popularitas Ruth tidak menurun. Dalam jajak pendapat yang diadakan harian Kompas pada akhir tahun 1999, nama Ruth Sahanaya dan Broery Marantika sama-sama menempati urutan teratas untuk kategori penyanyi favorit pembaca.

Ruth memang hidup sebagai penyanyi. Menyanyi disebutnya sebagai pengabdian pada kehidupan, bukan sambilan atau main-main. Itulah mengapa di tengah industri musik yang setiap hari menghasilkan penyanyi baru ini Ruth tak tersisih.

”Aku bersyukur masih bisa bertahan. Itu tidak mudah lho. Aku ingin nyanyi terus sampai tua,” katanya.

Sumber : Kompas, Sabtu, 17 September 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks