Jun 12, 2009

Shinzo Abe Keturunan Politisi

Shinzo Abe Keturunan Politisi
Oleh : Simon Saragih

Ia lahir di lingkungan keluarga yang turun-temurun memang sudah menjadi politisi kawakan di Jepang. Ayahnya Shintaro Abe, mantan Sekjen Partai Demokratik Liberal (LDP), juga mantan Menlu. Kakeknya adalah mantan PM Jepang Nobusuke Kishi. Adik kakeknya, Eisaku Sato, juga seorang PM pasca-PD II.

Kakeknya pernah ditangkap sebagai tersangka pelaku kejahatan perang setelah PD II tetapi tak pernah diadili.

Tak heran jika Abe dikatakan berasal dari keluarga yang benar-benar beda. Akan tetapi siapa sesungguhnya Abe? Demikian pertanyaan banyak kalangan. Tidak banyak track record yang tercatat soal tokoh yang satu ini.

Yang jelas ia adalah lulusan dari Fisip di Seikei University pada 1977. Kemudian ia melanjutkan belajar politik di Universtity of Southern California, AS.

Sebagai bapak, ia hanyalah suami dari Aike, yang belum dikaruniai anak. Pria penggemar lagu "Can't Help Falling in Love ini" ini kelahiran 21 September 1954.

Sekembalinya ke Jepang, Abe mulai bekerja di Kobe Steel Ltd hingga 1982. Kemudian ia bekerja sebagai asisten eksekutif untuk menteri luar negeri, sekretaris pribadi untuk ketua Dewan Umum LDP dan kemudian menjadi sekpri untuk Sekjen LDP.

Setelah kematian ayahnya pada 1991, pengagum Elvis Presley ini Abe mengembangkan sebuah jaringan kantor untuk para pendukung Shinzo Abe.

Itulah karir Abe dari segi eksekutif. Tak terlalu istimewa walau terus menapak. Kelebihan lainnya, ia dianggap telegenik, tampil bagus di televisi dan berpenampilan menarik.

Kemudian ia mencoba karir di jalur legislatif. Pada 1993, Abe menerima suara tertinggi pada pemilihan parlemen mewakili LDP di distrik Yamaguchi saat bertarung menjadi anggota parlemen untuk pertama kali.

Ia lalu diangkat menjadi Komite Parlemen untuk Urusan Internasional, dan juga menjabat sebagai Direktur Divisi Masalah Sosial LDP dengan fokus kepada isu pensiun dan jaminan sosial. Ia juga kemudian menjabat sebagai Wakil Sekretaris Utama Kabinet periode 2000-2003 dan menjadi Sekjen LDP.

Untuk kelima kalinya, ia terpilih sebagai parlemen pada 2003 lalu.

Faktor Korea Utara

Jika bisa dikatakan, Abe memang sudah tertakdir jadi PM walau bisa juga dibilang secara kebetulan. Abe juga diuntungkan dengan keadaan sejarah. Sudah lama Jepang mendengar soal penculikan sekitar delapan warga Jepang oleh agen intelijen Korea Utara. Isu ini mencuat pada 2003 setelah Koizumi mengunjungi Pyongyang dan Korea Utara mengakui telah menculik beberapa warga Jepang.

Saat itu ia termasuk yang menangani isu-isu internasional. Ia aktif sebagai perunding mewakili pemerintahan Jepang soal pembebasan keluarga Jepang yang diculik Korea Utara.

Ia mengusahakan agar warga Jepang yang diculik itu, yang masih hidup, bisa berkunjung ke Korea Utara. Abe kemudian berjuang keras untuk pengembalian warga yang diculik.

Rakyat Jepang menyukai hal itu. Ia pun seperti mendapat tempat di hati rakyat Jepang. Setelah itu, ia juga menyuarakan dengan lantang soal pengenaan sanksi ekonomi pada Korea Utara, yang selalu mencoba mengancam dengan menembakkan rudal.

Abe telah menuai popularitas karena isu Korea Utara.

Isu kedua yang menjadi penentunya adalah sikapnya yang relatif garang yang disebut sebagai hawkish.

Reformasi

Di dalam negeri, Jepang sedang gencar melakukan reformasi ekonomi. Menghapuskan monopoli, mengundang peran swasta yang lebih luas ketimbang sekadar pemain lama, yang sudah usang, juga kebutuhan Jepang.

Koizumi mendorong hal itu, walau mendapatkan perlawanan dari tokoh-tokoh LDP. Namun, Koizumi tak perduli, bahkan rela dengan mengorbankan hubungan dengan sesama LDP. Abe senada dengan itu. Karena itu, Koizumi suka dengan Shinzo Abe.

Peran Koizumi, yang juga populer di mata rakyat Jepang, juga sangat penting membuat Abe mendapat tempat.

Mengubah Jepang

Dalam konteks sebagai sebuah negara, Jepang hanyalah punya pamor dari segi ekonomi dengan kekuatan ekonomi nomor dua di dunia. Jepang bukanlah sebuah negara yang normal, dalam arti mempunyai peran aktif dan disegani di dunia internasional seperti AS, Inggris, Jerman dan lainnya.

Saat bercerita di The Brookings Institution pada 2005 lalu, lembaga think-tank tertua di AS, Abe menceritakan soal posisi relasi Jepang-AS-Jepang yang tidak seimbang.

Ia menginginkan Jepang tidak hanya sekadar memiliki pertahanan diri. Ia langsung menyuarakan amandemen terhadap Konstitusi 1947, yang mengubah Jepang tidak lagi sekadar memiliki pertahanan sendiri. Ini merupakan simbol dari keinginan Abe mengubah Jepang, yang juga sekaligus memenuhi hasrat warga Jepang. Ia mendapat tempat di hati rakyat karena itu.

Namun jangan lupa, Abe juga dianggap berbahaya. Ia adalah pengunjung kuil Yasukuni. Ia pun menggugat legimitasi pengadilan atas penjahat perang Jepang. Hal itu dianggap tak akan bisa bisa membuat hubungan dengan China dan Korea Selatan membaik.

Jangan tanya pula rencananya dengan China dan Korea Utara. Ia menyebutkan dengan jelas bahwa dua negara itu belum demokratis.

Di sisi lain, ia masih mengutamakan aliansi AS-Jepang dalam segala hal. Alasannya, hal itu akan memberi kontribusi pada perdamaian dunia. Dan, tentunya dengan menekankan pentingnya demokrasi di kawasan.

Lalu bagaimana ke dalam LDP sendiri? Ia meniru gaya Koizumi untuk meneruskan reformasi. Namun, kelompok status quo menentang itu, termasuk LDP. “Ia melakukan sesuatu yang sensitif," kata Yamaguzi, dari Hokkaido University.

Bisakah ia mengatasi LDP. Permainan baru saja dimulai. Kita akan melihat, demikian ditulis di majalah Times edisi 18 September 2006.

Sumber : Kompas, Kamis, 21 September 2006

0 comments:

 
Powered By Blogger
Powered By Blogger
Powered By Blogger

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks