Jun 20, 2009

Sarwoto Atmosutarno : Sarwoto, Orang Indonesia di Ruang Kendali

Sarwoto, Orang Indonesia di Ruang Kendali
Oleh : Pepih Nugraha

Di area pusat peluncuran satelit Centre Spatial Guyanais (CSG) di Kourou, Guyana, Perancis, yang superketat dari segi pengamanan, ada orang Indonesia yang bisa keluar masuk kawasan tersebut dengan leluasa.

Dialah satu-satunya orang Indonesia yang berada di ruang kendali Jupiter, menyaksikan detik-detik tombol pemantik roket ditekan oleh Dan Mure, Mission Director Arianespace.

Sarwoto Atmosutarno, itulah dia yang saat ini menjabat Kepala Divisi Long Distance di PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. Bersama Wakil Direktur Garuda Sugardo dan Direktur Network and Solution Abdul Haris, Sarwoto bersama beberapa awak Telkom lainnya adalah orang di balik suksesnya peluncuran Satelit Telkom-2 yang diluncurkan 17 November lalu, setelah sebelumnya sempat tertunda sampai sembilan kali.

Penundaan peluncuran yang berkali-kali oleh pihak Arianespace jelas membuat frustasi rombongan Indonesia yang berada di Kourou, kawasan yang dari Paris berjarak sekitar delapan kali panjang Pulau Jawa. Bahkan ada pejabat tinggi Indonesia dari sebuah departemen yang tidak sabar atas penundaan itu dan memilih pulang sebelum Satelit Telkom-2 diluncurkan.

”Jika persiapan belum sempurna seratus persen, akibatnya bisa fatal. Roket bisa terbakar dan bahkan meledak. Uang triliunan rupiah bisa hangus seketika,” katanya saat berbincang dengan Kompas, beberapa jam seusai Satelit Telkom-2 berhasil diluncurkan.

Di luar keberhasilan peluncuran Roket Ariane 5 ECA yang membawa Satelit Telkom-2 dan Satelit Spaceway 2 milik DirecTV Amerika Serikat dengan segala tetek bengeknya, terbersit rasa bangga dalam diri Sarwoto menjadi orang Indonesia yang ”setara” dengan para teknisi Arienaspace di Ruang Jupiet CSG. Orang asing lainnya yang berada di Ruang Jupiter adalah Jeff Seto, mewakili DirecTV Amerika Serikat yang meluncurkan satelit terbesar dan terberat yang pernah diluncurkan ke orbit, Spaceway 2.

Berada di ruang kaca dengan dua layar televisi raksasa di depan, plus masing-masing komputer di depan meja, mereka menjadi semacam makhlukmakhluk super di dalam akuarium. Memang, nasib roket plus satelit yang berharga puluhan triliun rupiah itu berada di tangan mereka, termasuk di tangan Sarwoto yang sudah sebulan lamanya ditanam di CSG.

Selaku Mission Director Satellite yang disandangnya, jatah ini seharusnya disandang oleh setingkat Dewan Direktur. Tetapi, mengapa Sarwoto yang dipilih, dia beralasan bahwa ini hanyalah tugas fungsional semata atas proyek bernilai triliunan rupiah, mulai tender pembuatan satelit yang dipercayakan pada Orbital Sciences Corporation milik Amerika Serikat, pengangkutan satelit bersama roket Ariane 5 ECA dari Les Moreaux (45 kilometer dari Paris) ke CSG, perakitan roket dengan tempat peluncuran atau launch pad, hingga mengawasi detik-detik akhir peluncuran.

”Saya berterima kasih atas tugas yang diembankan kepada saya untuk menjadi mission director ini. Modal saya untuk menjalankan misi ini hanyalah percaya diri,” katanya.

Cukup terpukul

Dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 2 Oktober 1957, Sarwoto memulai karier di PT Telkom dari bawah. Setamat Sekolah Menengah Atas (sekarang SMU) di tahun 1977, dia tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, tetapi disekolahkan sebagai teknisi Telkom di Bandung selama dua tahun atau setingkat D2.

Kurang lebih sepuluh tahun bekerja sebagai teknisi, pada tahun 1980 dia melanjutkan studi S1-nya di Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga hingga lulus tahun 1985.

Kesempatan menambah ilmunya di bidang telekomunikasi terbuka saat Sarwoto disekolahkan untuk mengambil S2-nya di Ecole Superieur des Telecommunication de Bretagne, Paris, tahun 1992 hingga 1995. Itu sebabnya suami dari Hendrastien ini begitu ringan berbicara bahasa Perancis dengan sesama teknisi Arianespace di kompleks CSG. ”Lumayan, mengerti bahasa mereka (Perancis) juga sebagian dari modal percaya diri saya yang lainnya,” katanya.

Anaknya yang paling besar, Sesarina Prameswari, lahir 10 November, enam belas tahun lalu. Itu sebabnya Sarwoto cukup terpukul saat Satelit Telkom-2 gagal diluncurkan pada 10 November atau bertepatan dengan Hari Pahlawan di Indonesia.

”Secara pribadi saya kecewa dengan penundaan. Bayangkan kalau peluncuran itu pas dengan hari kelahiran anak saya,” katanya seraya terkekeh. Dua putranya yang lain adalah Samuel Adi Prakosa (14) dan si bungsu Joshua Adi Prayogo (12). Baik istri dan anak-anaknya berdomisili di Bandung, sementara status kerja yang disandangnya mengharuskannya tinggal di Jakarta. ”Saya bolak-balik Jakarta-Bandung saja,” ujar pria yang selalu berpenampilan santai ini.

Sumber : Kompas, Jumat, 25 November 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks