Jun 18, 2009

Sahilin, Ikon Seni Batanghari Sembilan

Sahilin, Ikon Seni Batanghari Sembilan
Oleh : Ilham Khoiri

Umak-umak belikan sagu/ Aku kepingin makan pempek/ Umak-umak carikan aku/ Aku ni lah malas tiduk dewek.

Lemak pule makan pempek/ Ambek sagu buat tekwan/ Daripade tiduk dewek/ Lemak sekali lah meluk bantal.

Pantun bersahut itu dilantunkan Sahilin dan Siti Rahmah secara bergantian di pentas hajatan perkawinan di Kelurahan 9 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang, Sumatera Selatan.

Lelaki tunanetra itu memetik gitar tunggal sambil melontarkan pantun, sedangkan Siti menyahutinya dengan pantun lain. Puluhan penonton menyimak sambil tergelak-gelak, Sabtu (11/3/2006) malam itu.

Maklum, kedua pantun itu memang penuh kelakar. Diceritakan, ada seorang pemuda yang sudah malas tidur sendirian sehingga minta tolong ibunya untuk mencarikan istri. Pemuda itu disindir, lebih baik memeluk bantal daripada tidur sendirian. Cerita itu disampaikan dengan menggunakan sampiran pempek, makanan khas Palembang.

Pertunjukan musik tersebut dikenal sebagai batanghari sembilan. Seni ini menampilkan satu-dua penyanyi yang melantunkan pantun bersahut, dengan iringan petikan gitar tunggal.

Batanghari sembilan sendiri berarti sembilan sungai besar. Disebut demikian karena musik itu memiliki irama yang meliuk-liuk dan lirik berupa pantun bersahut yang panjang dan bersambungan, mirip aliran sungai.

Batanghari sembilan merupakan seni tradisional yang tumbuh di Sumatera Selatan (Sumsel) sejak ratusan tahun lalu. Masyarakat biasa menikmati seni ini pada malam hari setelah lelah kerja seharian. Seniman yang menekuni seni ini tinggal sedikit, salah satunya Sahilin.

Sahilin selalu tampil dengan mengenakan kacamata hitam lebar dan rambut tersisir rapi. Pertunjukannya selalu ditunggu masyarakat karena permainan gitarnya yang unik.

Setiap ganti lagu dia menyetel gitarnya sehingga menghasilkan irama yang berbeda. Dari delapan nada dasar pada gitar, dia kerap hanya mengandalkan lima nada. Nada-nada itu dipadukan secara pentatonis, mirip gamelan atau ketukan perkusi yang ritmis dan agak monoton.

Lelaki itu juga mahir menciptakan pantun dengan berbagai tema. Satu pantun berisi 30 bait hingga 50 bait. Ada yang menceritakan kisah sedih, pesan moral, atau kelakar yang lucu. Beberapa pantunnya menjadi lirik batanghari sembilan yang terkenal, antara lain Ratapan Mati Gadis, Kaos Lampu, Tiga Serangkai, Kisah Pengantin Baru, dan Bujang Buntu.

"Ada puluhan pantun yang saya buat. Banyak juga yang muncul spontan saat merasakan suasana di panggung, tetapi banyak yang tidak direkam sehingga sering terlupa," katanya.

Saat bernyanyi, dia melantunkan pantun-pantun itu dengan penuh penghayatan. Kadang suaranya melengking, kadang melemah seperti bergumam. Dengan kemampuan yang lengkap dan ketekunan selama 34 tahun lebih, Sahilin akhirnya menjadi ikon seni batanghari sembilan di Sumsel. Citra itu demikian lekat sehingga banyak orang menyangka, Sahilin adalah nama aliran musik itu sendiri.

Konsistensi lelaki ini dalam mengembangkan batanghari sembilan telah turut melestarikan seni pantun bersahut dengan bahasa lokal Benawe, Kecamatan Tanjung Lubuk, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumsel.

Pantun termasuk salah satu sastra tutur yang banyak memuat kearifan lokal, dari budaya masyarakat di pedalaman sungai yang kini semakin ditinggalkan. Atas pengabdiannya di bidang seni, Sahilin memperoleh penghargaan budaya dari Pemerintah Provinsi Sumsel tahun 2000.

Sahilin lahir di Kampung Benawe, yang terletak 45 kilometer selatan Palembang, sekitar 50 tahun lalu. Dia tidak pernah sekolah. Saat berusia lima tahun, kedua matanya terserang penyakit keras sehingga buta. Dalam kesendirian yang gelap, dia menemukan gitar sebagai instrumen untuk menghibur diri.

Sahilin lalu serius belajar bermain gitar untuk memainkan lagu-lagu batanghari sembilan dari ayahnya, Mat Sholeh. Dia juga tekun menyimak variasi batanghari sembilan yang kerap diputar di radio. Pantun dipelajari secara otodidak dengan mendengar dari sana-sini.

Ketika berumur belasan tahun, Sahilin telah muncul sebagai seniman batanghari sembilan yang mumpuni di kampungnya. Tahun 1972, ia mengadu nasib ke Palembang. Setelah manggung dari hajatan ke hajatan selama tiga tahun, dia menjadi seniman yang tenar.

Sahilin mulai masuk dapur rekaman Palapa Studio di Palembang tahun 1975. Kaset album pertama, yang berjudul Ratapan Mati Gadis, laku keras. Album kedua, Tiga Serangkai, juga meledak di pasaran. Demikian juga album ketiga, Serai Serumpun. Kaset-kaset itu memberikan penghasilan lumayan besar bagi dirinya.

"Uang dari rekaman kaset pertama saya gunakan untuk beli tanah. Kaset kedua untuk membuat rumah panggung kayu. Penghasilan dari kaset ketiga untuk menikah dengan Asma tahun 1977. Penghasilan selanjutnya untuk menghidupi keluarga," katanya sambil tersenyum mengenang.

Kreativitas seniman itu telah direkam dalam 10 album lebih, masing-masing berisi dua hingga empat lagu. Sebagian besar rekaman berduet dengan Siti Rahmah, yang mahir membawakan pantun-pantun bersahut berbahasa Benawe. Sebelumnya, Sahilin sempat berduet dengan Cek Misah, penyanyi batanghari sembilan yang telah meninggal.

Kaset-kaset Sahilin terus digemari hingga kini. Dia pun tetap manggung di berbagai hajatan meski tak sesering dahulu. Tahun 1970-an sampai 1980-an, dia rata-rata tampil lima kali seminggu. Sejak pertengahan tahun 1990-an, penampilannya menyurut, seiring maraknya hiburan televisi.

Saat ini, dia hanya tampil empat-lima kali sebulan. Apa mau dikata, warga yang punya hajatan lebih suka mengundang hiburan organ tunggal yang dinilai lebih atraktif ketimbang seni tradisional batanghari sembilan.

Sahilin tinggal di Kelurahan 35 Ilir, Kecamatan Gandus, Palembang. Ketiga anak lelakinya juga mahir memetik gitar, tetapi tak bisa membawakan pantun-pantun batanghari sembilan. Oleh karena itu, seni tradisional yang diwarisi dari nenek moyang tersebut terancam bakal berhenti hingga pada Sahilin saja.

"Anak-anak malas menghafal pantun-pantun lama yang dianggap rumit dan panjang. Kalau memikirkan siapa nanti yang mau meneruskan seni batanghari sembilan, saya sering sedih," kata Sahilin. Di luar rumah Sahilin, gerimis telah berubah menjadi hujan yang deras.

Sumber : Kompas, Senin, 27 Maret 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks