Jun 18, 2009

Mawardi, Penyelamat Kain Perca

Mawardi, Penyelamat Kain Perca
Oleh : Khaerul Anwar

Perca umumnya menjadi penghuni bak sampah. Namun, di tangan Mawardi (36), warga Dusun Adeng, Desa Tegal, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, barang-barang sisa itu menjadi produk berharga.

Suami Sanawiah (33) ini memanfaatkan limbah kain itu untuk pakaian bayi, anak-anak, dan orang dewasa berupa baju, celana, selain selendang, kain sarung, taplak meja, dan lainnya.

"Kalau tidak telaten, lihat tumpukannya saja sudah jenuh," ucap Mawardi. Kejelian dan ketelitian diperlukan untuk membongkar tumpukan perca yang beragam ukuran itu, kemudian memilah, memotong, serta memadukan warna dan motifnya biar tampak trendi di mata calon konsumen.

Pekerjaan itu ditangani Mawardi dan istrinya. Sebelum pakaian dibikin, Mawardi sering mengintip model pakaian yang dipajang di etalase toko pakaian di Mataram. Model-model busana yang dianggap memenuhi selera konsumen itu lalu ditiru, kemudian dilempar ke pasaran.

Usahanya itu memang masih dalam skala industri rumah tangga. "Saya cuma ngambil untung Rp 500-Rp 1.000 tiap produksi," katanya. Jika dirata-ratakan, pemasukannya Rp 200.000-Rp 500.000 sehari setelah dipotong upah bagi enam tenaga kerjanya (penjahit). Pekerjanya rata-rata mendapat upah Rp 8.000 sehari dari menjahit celana anak-anak sebanyak dua kodi (satu kodi = 20 lembar).

Sekitar 20 pedagang memasarkan barangnya, di samping Mawardi sendiri yang sekali tempo ikut menggelar dagangan di pasar. Daerah pemasaran umumnya di Pulau Lombok dan Sumbawa Besar, ibu kota Kabupaten Sumbawa, Pulau Sumbawa. Segmen konsumen umumnya kalangan bawah, meski tidak sedikit kalangan menengah yang mengenakan produknya. Karena itu, Mawardi harus pandai-pandai membaca situasi pasar agar produknya cepat laku.

Misalnya permintaan relatif ramai saat musim panen komoditas pertanian. Kondisi pasar yang membaik itu menjadikan kebutuhan bahan baku lebih besar dua kali daripada biasanya.

Umumnya Mawardi dkirimi tiga-empat kuintal bahan baku dari seorang pengepul perca yang mendapatkannya dari perusahaan garmen dan konfeksi di Denpasar, Bali. Harga pembelian tergantung panjang-lebar perca, tetapi Mawardi membelinya Rp 2.000-Rp 3.000 per kilogram.

"Dulunya saya mengambil sendiri ke Bali, sekarang saya dapat kepercayaan dari pengepul sehingga cukup kirim uang pembayaran, termasuk ongkos kirim, ke Bali," ujarnya.

Dari omzet, pemasaran, dan rekrutmen tenaga kerja, mungkin masih relatif kecil apa yang diberikan Mawardi. "Kami sangat ingin mengembangkan dan memperluas jaringan usaha, tapi tidak ada modal. Biaya proses produksi selama ini dari keuntungan sejuta-dua juta. Tapi alhamdulillah usaha saya jalan terus."

Artinya, aktivitas usahanya menjadi jawaban konkret di tengah sulitnya mendapatkan pekerjaan dewasa ini. Apalagi delapan pekerjanya adalah perempuan muda: seorang siswi SMA dan tsanawiyah, sisanya kalangan perempuan berusia 16-20 tahun, yang dalam usia itu di banyak desa rata-rata sudah menikah. Setidaknya, dengan kesibukan itu, mereka bisa menunda perkawinan di usia muda, membantu sumber nafkah orangtua, dan membeli keperluan sekolah.

Memburuh dan berguru

Tentu saja dampak positif usaha Mawardi ditempuh dengan etos kerja tinggi mengingat orangtuanya hidup miskin. Karena itu, sejak lulus SD, ayah dua anak ini langsung mencari kerja. Mulanya belajar menjahit, kemudian menjadi sopir angkutan barang toko penjualan elektronik lantas toko penjualan bahan bangunan di Cakranegara, Mataram, dengan gaji Rp 300.000 sebulan.

Mawardi tidak bertahan lama bekerja di situ karena upahnya tidak sesuai dengan tenaga yang terkuras dari pagi hingga menjelang maghrib. Alhasil dia keluar, lalu ikut membantu Anwar, tetangganya yang bekerja selaku penjahit pakaian dan punya jaringan pemasaran yang kerap mendapat pesanan pengusaha dari Solo, Jawa Tengah. Atas izin Anwar, Mawardi menyelipkan hasil kerjanya.

Tidak puas dengan cara itu, Mawardi pergi memburuh dan berguru pada perusahaan konfeksi ke Klungkung, Bali, tahun 1989. Dari situ dia belajar teknik menjahit yang baik, di mana mendapatkan bahan baku, bagaimana membangun hubungan bisnis, dan sejenisnya. Lima bulan kemudian Mawardi pulang kampung dan mengelola usaha sendiri secara bertahap mulai tahun 1996. Dia mengawali usahanya dengan modal minim yang disisihkan dari hasil memburuh tadi.

Pertimbangan memilih segmen usaha yang ditekuninya kini karena nyaris tidak ada orang yang tertarik dengan usaha seperti itu. Apalagi sasaran pengguna adalah kalangan bawah yang selama ini dianggap lebih membutuhkan pangan ketimbang sandang. Karena itu, Mawardi mencoba menyiasati kebutuhan dengan produk yang bisa dijangkau kocek rakyat kecil.

Dengan aktivitas bisnisnya yang relatif lancar saat ini, sadar atau tidak, Mawardi menjadi ’pahlawan’ penyelamat perca sekaligus membuktikan bahwa potongan-potongan kain bukan dibuang percuma, tetapi lewat kreativitas dan keterampilannya, perca menopang hidup keluarga dan sejumlah warga di desanya.

Sumber : Kompas, Selasa, 28 Maret 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks