Jun 20, 2009

Robson De Souza : Tak Semua Kisah Seindah Robinho

Tak Semua Kisah Seindah Robinho
Oleh : Anton Sanjoyo

Dalam sebuah wawancara dengan jaringan televisi ESPN, mantan striker tim nasional Inggris, Les Ferdinand, ditanya tentang liga sepak bola mana yang menurut pendapat pribadinya terbaik di dunia. Paman dari Rio Ferdinand (bek Manchester United) ini dengan cepat menjawab, La Liga Spanyol. ”Di sana banyak seniman-seniman bola Brasil,” alasannya singkat.

Ferdinand mungkin benar. Liga Spanyol yang disesaki pemain-pemain bola Amerika Latin, utamanya Brasil, bagi sebagian orang memang liga paling menghibur. Ronaldinho, misalnya, bukan sekadar playmaker dan pencetak gol bagi Barcelona. Dia juga aktor brilian, seniman bola yang tidak hanya membuat histeris pendukungnya, tapi juga mengundang decak kagum lawannya.

Kedekatan secara kultur dan bahasa membuat Spanyol memang menjadi tujuan para seniman bola Amerika Latin untuk mencari hidup yang lebih baik. Pemain-pemain Brasil, meski berlatar bahasa Portugis, tidak terlalu sulit beradaptasi di negara itu.

Awal musim kompetisi 2005-2006, La Liga Spanyol kembali ”dianugerahi” seorang bintang Brasil. Setelah melalui alotnya negosiasi selama dua bulan, Robson de Souza, remaja fenomenal dari klub Santos, akhirnya memilih Santiago Bernabeu sebagai tempat pilihan mengasah kariernya. Real Madrid, pemegang sembilan gelar juara Liga Champions, memang sangat memikat bagi remaja yang lebih populer dengan nama Robinho itu. ”Memakai kostum putih Real Madrid adalah mimpi saya sejak kanak-kanak,” ujarnya.

Robinho memang sang fenomena terbaru yang, sekali lagi, dilahirkan Brasil. Namanya meroket sejak tahun 2002 setelah pada tahun pertamanya langsung mengantarkan Santos menjadi juara Brasil. Tahun itu juga dia dipanggil memperkuat tim nasional Brasil, sebuah pencapaian yang diimpikan semua pemain bola Brasil: memperkuat Tim Samba.

Santos yang tidak mau kehilangan ”tambang emas”, langsung mengontrak Robinho sampai dengan tahun 2007. Dalam klausul kontrak, klub yang menggaet Robinho sebelum tahun 2007, harus membayar senilai 25 juta pound. Tahun 2005, Real Madrid bahkan harus mengeluarkan dana senilai 30 juta pound untuk memboyong Robinho ke Santiago Bernabeu.

Dalam 24 menit debutnya bersama ”Los Galacticos”, Robinho membuat gempar seluruh negeri. Tampil sebagai pemain pengganti saat menghadapi Cadiz, Robinho membuat kawan dan lawan tercengang-cengang. Dia menggiring bola dengan gerakan seorang penari, meliuk-liuk melewati dua-tiga pemain lawan. Pergelangan kakinya yang kurus, namun kerap menipu lawan. Bola dicungkil melewati kepala lawan yang kebingungan menghadangnya. Orang Spanyol menyebut aksi ini sebagai sombrero.

Seniman ”pedalada”

Namun, dari semua aksinya, Robinho sangat memesona penonton dengan pedalada-nya. Aksi ini tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Orang Inggris menyebutnya step-over, atau orang Spanyol menyebutnya biciceta. Ini adalah rangkaian aksi menggiring yang dilakukan dengan gerakan, seperti menari melayang di atas bola. Bagi lawan yang menjaga, gerakan ini sungguh membingungkan karena tidak pernah tahu kaki mana yang akan terakhir menyentuh dan membelokkan arah bola.

Kebanyakan pemain lawan yang dikecoh Robinho dengan aksi ini dibuat terpesona dan tak jarang yang menyampaikan pujian. Namun, banyak pula yang kesal hati karena merasa menjadi manusia paling dungu di lapangan.

Saat masih memperkuat Santos, Robinho pernah mendapat kartu kuning karena beberapa kali melakukan pedalada. Sang wasit barangkali justru sangat sayang kepada Robinho karena pemain-pemain lawan mulai marah terhadap aksi itu dan cenderung berbuat brutal untuk menghentikan lajunya.

”Kalau dia (Robinho) terus- menerus melakukan pedalada dan membuat pemain belakang lawan seperti orang dungu, kakinya bisa patah ditebas,” ujar seorang pemain klub Sao Paolo.

Keluarga miskin

Seperti kebanyakan pemain bola Brasil, Robson de Souza datang dari keluarga miskin. Dia lahir di distrik Parque Bitaru, salah satu wilayah paling menderita di kota Sao Vicente, Brasil, pada tanggal 25 Januari 1984.

Seperti umumnya anak kecil di distrik kelas pekerja pabrik itu, Robson tumbuh dengan gizi pas-pasan, bahkan kurang. Saat berusia enam tahun, tubuhnya sangat kurus. Jika anak-anak seusianya asyik bermain sepeda, Robson kecil lebih banyak menghabiskan waktunya bermain layang-layang.

Keterampilan menggocek bola, diakui Robinho, datang dari jalanan serta permainan futsal. Robinho baru merasakan nikmatnya rumput saat direkrut klub Santos pada usia 15 tahun, setelah sebelumnya bergabung dengan klub fulsal, Beira-Mar.

Kini di Real Madrid, Robinho berpenghasilan sekitar Rp 1 miliar sepekan. Barangkali, saat menyepak-nyepak bola di jalanan Parque Bitaru, tidak pernah terbayang kepiawaiannya menggiring bola akan menghasilkan uang sedemikian banyak.

Sumber : Kompas, Kamis, 10 November 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks