Jun 20, 2009

Djoni Santoso : Djoni, Dukun Kamera yang Tak Pernah Puas

Djoni, Dukun Kamera yang Tak Pernah Puas
Oleh : Ichwan Susanto

Kecintaan Djoni Santoso (49) pada kamera mendorongnya tak henti untuk berkreasi. Di rumahnya di Karangwulan Sari II/18, Semarang, yang juga sebagai studio tempatnya berkarya, dipajang rak lemari berisi ratusan kamera bekas dari berbagai merek dan tahun. Selain itu, ia juga merangkai kamera-kamera bekas itu menjadi berbagai bentuk untuk menyemarakkan hari raya.

Hobi yang tak murah ini merupakan cerminan kreativitas Djoni. Saat Natal 2004, ia menciptakan replika pohon natal dari 102 kamera bekas. Saat Imlek kemarin, pria berjenggot berewok ini membuat replika naga yang dirangkai dari 84 kamera.

Karena tak memiliki studio yang memadai, kedua karya ini hanya dipajang di ruang tamu. Alhasil, ruang tamu yang hanya berukuran 4 x 4 meter dan tinggi tiga meter itu penuh sesak.

Keterbatasan dana dan ruang tak mengurangi semangatnya. Pada bulan Ramadhan 1426 Hijriah kemarin Djoni membuat replika masjid yang tersusun dari 90 kamera. Bangunan setinggi 2,5 meter dan selebar dua meter ini dipajang di depan rumahnya. Untuk menyemarakkan suasana kampungnya, replika masjid dipasangi lampu-lampu dan bahan mika iluminasi bertuliskan huruf Arab, Allahu Akbar.

Tukang reparasi

Awal mula Djoni tertarik mengumpulkan kamera dimulai pada tahun 1982. Saat itu ia telah berprofesi sebagai tukang reparasi kamera. Karena kemampuannya memperbaiki kamera yang dikolaborasikan penampilannya, ia lebih dikenal dengan sebutan Dukun Kamera.

Panggilan ini memang pantas dikenakan pada Djoni. Perawakannya yang tampak sangar, dengan rambut gondrong dan berewok panjang, membuat penampilan dirinya sepintas mirip dukun.

Lewat profesi yang bersentuhan langsung dengan pemilik kamera membuatnya mudah mengumpulkan kamera-kamera bekas. Kamera paling tua yang dimiliki Djoni adalah kamera berbahan kayu buatan Inggris sekitar tahun 1900. Kamera ini masih menggunakan film ukuran 18 x 24 milimeter dan hingga kini masih dapat difungsikan.

Koleksi lain adalah alat cetak film buatan Jerman tahun 1899. Barang antik ini dibelinya dari seorang dari generasi keluarga kaya seharga Rp 2,5 juta. Kamera ini masih terpelihara dan dijejer bersama kamera-kamera lawas di lemari kamar tidurnya.

Lewat perburuan dan investasi selama 23 tahun, hingga kini Djoni memiliki 250 kamera bekas dari berbagai tahun dan merek. Jumlah ini tak termasuk kamera-kamera yang disusunnya menjadi pohon natal, naga, dan masjid.

Kamera pertama suami dari Sumaryati (35) ini dimiliki sejak duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Kameranya saat itu adalah jenis boks Agfa buatan Jerman tahun 1950.

Kamera boks Agfa ini belum ada lampu blitz sehingga hanya mampu foto di luar ruangan, ujar Djoni, yang wajahnya tampak bersinar-sinar ketika diajak berdiskusi mengenai hobinya.

Djoni mengakui dirinya termasuk tipe fotografer konservatif yang masih mengandalkan kamera SLR. Meskipun zaman sekarang kamera SLR hampir pasti tergeser kamera digital yang semakin canggih, Djoni memiliki pandangannya sendiri.

Djoni masih setia memakai kamera SLR. Ia berargumen, kamera dengan film membuat seseorang pintar dalam mengatur kecepatan, diafragma, maupun ISO. Jika dengan kamera digital, hasil akhir sudah pasti diketahui lewat layar LCD.

Kalau kamera SLR, hasilnya diketahui setelah dicuci. Ini membutuhkan insting dan pengalaman memakai kamera, imbuhnya.

Pria kelahiran Pekalongan, 13 Juli 1956 ini kemudian mulai menuturkan pengalamannya ketika pindah ke Semarang pada tahun 1970. Di Kota Lunpia itu, Djoni bertemu dengan Koo Lian Bie, ahli reparasi kamera yang terkemuka saat itu.

Seperti anak kunci bertemu gemboknya, demikian pula dengan Djoni dan gurunya. Berbekal minat dan semangat, selama enam tahun Djoni membantu Lian Bie sembari belajar mereparasi kamera.

Walaupun tidak dibayar, tidak jadi masalah. Yang penting saya dapat ilmu dan menyalurkan hobi, tutur ayah dua anak, Feri Budi Santoso (21) dan Sherly Aristina Santoso (19), itu.

Merasa telah mampu dan matang, ia perlahan-lahan melepaskan diri dari gurunya dan mendirikan Pustaka Kamera Classic di rumahnya. Alhasil, usahanya berhasil dan mulai kebanjiran pelanggan, termasuk wartawan dan fotografer yang ingin membetulkan kamera maupun belajar fotografi.

Hingga kini ia tetap menjadi teman favorit fotografer di Semarang untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Djoni pun masih gemar mengumpulkan kamera sebagai investasinya. Sampai kapan? Djoni menjawab enteng, Mungkin kalau benar-benar tak tak ada uang dan sampai mati.

Sumber : Kompas, Jumat, 11 November 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks