Jun 18, 2009

Robert Altman, Masih 40 Tahun Lagi

Robert Altman, Masih 40 Tahun Lagi
Oleh : Bre Redana

Terlalu terpana pada Reese Witherspoon yang cantik yang menjadi aktris terbaik lewat film Walk the Line dalam penghargaan Academy Awards yang baru lalu, orang barangkali sampai lupa memperbincangkan Robert Altman. Padahal, inilah tokoh yang sejak lama sangat dipandang di Eropa, berikut karya-karyanya yang dijuluki sebagai sinema seni Amerika.

Pada upacara penganugerahan Academy Awards di Hollywood, Minggu, 5 Maret lalu, dia menerima Piala Oscar untuk pengabdian seumur hidup(a lifetime achievement award). Seperti ironi yang terkandung dalam film-filmnya, Oscar ini juga terlihat ironik. Inilah Oscar pertama yang diterima sutradara yang kini berusia 81 tahun itu, di balik catatan panjangnya di dunia film. Sebuah nama besar, yang bahkan kurang dihargai di kandang sendiri.

Tak ada pembuat film menerima jabat (tangan) yang lebih baik dari yang saya terima, kata Altman ketika menerima piala. Saya sangat beruntung dalam karier saya. Saya tak pernah harus menyutradarai film yang saya tidak pilih atau kembangkan sendiri. Kecintaan saya pada pembuatan film telah memberi kesempatan kepada saya untuk memasuki dunia dan kondisi kemanusiaan, tambahnya seperti dikutip berbagai kantor berita, termasuk Associated Press.

Ia sempat berkomentar mengenai tidak sejalan-nya dirinya dengan Hollywood. Kami tidak bertentangan. Mereka (maksudnya Hollywood) menjual sepatu, saya membuat sarung tangan, katanya, masih seperti dikutip AP.

Dalam acara penganugerahan Piala Oscar itu pula ia mengungkapkan sesuatu yang tak kalah ironisnya. Saya selalu berpikir hadiah semacam ini (maksudnya anugerah pengabdian seumur hidup itu) artinya adalah seseorang sudah selesai. Sekarang, saya harus berterus terang kepada Anda sekalian. Sekitar 10-11 tahun lalu saya menjalani transplantasi jantung, transplantasi total. Saya memiliki jantung, saya kira, dari perempuan berumur sekitar 30 tahun. Dengan kalkulasi semacam itu, Anda memberi saya penghargaan ini terlalu awal karena saya pikir saya masih punya sisa waktu 40 tahun....

Meloncat lagi

Lahir di Missouri, Kansas City, 20 Februari 1925, Altman mulai magang di perusahaan film besar di kota kelahirannya sejak tahun 1947. Debutnya dimulai tahun 1957 dengan film The Deliquents, diikuti pada tahun yang sama The James Dean Story. Yang terakhir itu semacam dokudrama yang agaknya bisa dilihat bagaimana dia coba memetakan perhatiannya, menggunakan film untuk menggali realitas yang keras di balik para ikon kebudayaan pop.

Dari tahun 1957 sampai 1965, seperti terlihat dari berbagai sumber tulisan, Altman bekerja di Hollywood dalam berbagai program televisi. Acara-acara televisi itu sebutlah Combat, Alfred Hitchcock Presents, dan Bonanza. Pada saat itu, sikap tidak kenal komprominya agaknya menjadi ganjalan sehingga dia tidak bisa memproduksi film di Hollywood. Baru pada tahun 1968 Altman membuat film layar lebar lagi dengan Countdown (1968) dan That Cold Day in the Park (1969), yang membikin para kritikus film menoleh.

Setelah itu dia membuat film yang benar-benar meledak sekaligus menuai pujian di mana-mana, yakni M*A*S*H (1970). Banyak kritikus berpendapat, inilah film terbaik pada genrenya. M*A*S*H mengambil setting perang Korea, meski bisa dibaca pula itu sebenarnya sikap Altman yang anti terhadap perang Vietnam waktu itu. Menggambarkan bagaimana sejumlah tentara mengalami perawatan, di situ Altman menggabungkan plot yang berjalan dalam paduan yang kompak, menyajikan sesuatu yang mengejutkan dari keadaan sehari-hari. Dalam beberapa hal, gaya seperti itu terlihat pada film-film Robert Altman selanjutnya. Proses kreatif semacam itulah yang pernah dilukiskan sebagai ketidakteraturan yang terkontrol (controlled chaos).

Pernah punya perusahaan film sendiri, yakni Lions Gate, juga terjun ke penyutradaraan drama panggung, Altman menjelajah hampir pada semua jenis film. Dia pernah membikin satire dunia fashion tingkat tinggi melalui film Pret-a-Porter (1994). Ini hanya film bodoh- bodohan, bukan suatu epik yang serius. Jadi, nikmati saja, tertawa bersama, dan selamat bersenang-senang, kata Altman mengenai Pret-a-Porter.

Entah kata-kata itu dibuat untuk mengantisipasi film itu atau ia ungkapkan setelah ia sendiri melihat hasilnya, Pret-a-Porter nyatanya memang tidak seberhasil film-filmnya yang lain. Plot yang beragam-ragam dalam film itu seakan tak menuju ke mana-mana selain menjadi dagelan dangkal menertawakan kalangan mode.

Hanya saja, bagi seorang seniman, hasil atau tanggapan orang boleh jadi tidak terlalu penting benar. Yang lebih penting, seperti diucapkannya, Saya akan terus membuat film sampai saya berakhir.... Sementara tentang pujian orang terhadapnya, ia berujar, Kagumi saya bukan karena seberapa saya sukses serta seberapa bagus film-film saya, melainkan untuk fakta bahwa saya akan terus kembali ke tebing dan meloncat lagi....

Sumber : Kompas, Sabtu, 11 Maret 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks