Jun 18, 2009

Hermawan, Tak Ingin Disebut Bos Batu Fosil

Hermawan, Tak Ingin Disebut Bos Batu Fosil
Oleh : d03

Debu mengepul dari sebuah bangunan tanpa dinding di dekat jembatan Sungai Cicareuh, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi. Tertiup angin, debu itu menempel di semua media yang dilewatinya, tak terkecuali sejumlah orang yang sedang sibuk bekerja.

Rambut mereka tak lagi hitam, tetapi menjadi putih kecoklatan tertutup debu. Mereka adalah orang-orang yang sedang mengerjakan pesanan suvenir batu fosil, batuan yang berasal dari pohon-pohon yang terpendam selama ribuan tahun.

Saat pengunjung menanyakan siapa pemilik atau bosnya, mereka justru saling tunjuk sambil tersenyum. Mereka bukannya mau melecehkan pengunjung yang bertanya, tetapi memang itu kebiasaan yang sudah mereka sepakati.

Pemilik atau bos kerajinan batu fosil itu sebenarnya berada di antara mereka. Penampilannya sama seperti pekerja lainnya. Dia tak terusik dengan pertanyaan itu, tangannya justru sibuk menggosokkan alat penghalus ke permukaan batu fosil berbentuk lonjong.

Saya memang tidak ingin disebut bos karena memang saya bukan bos. Kalau saya bos, mereka yang bekerja di sini berarti anak buah. Mereka bukan anak buah, tetapi teman-teman saya, ujar Om Hermawan (46), pemilik sentra kerajinan batu fosil itu.

Ada yang janggal sebenarnya menyaksikan Hermawan berada di antara debu-debu bekas penggosokan dan berbagi minum dengan para pekerjanya. Bagi kebanyakan pemilik bisnis, terjun langsung menangani pekerjaan mungkin hanya akan dilakukan saat tahun-tahun pertama saja.

Setelah cukup mapan, mereka akan memercayakan pekerjaan-pekerjaan itu kepada orang-orang yang membantunya. Tidak demikian dengan Hermawan. Tak ada kosakata berhenti menggosok batu fosil itu walaupun dia sudah memiliki 20 pekerja.

Bukan tanpa alasan kenapa Hermawan tetap menjadi bagian dari gelak tawa dan canda para penggosok batu fosil itu saat bekerja. Kesulitan hidup saat kecil hingga tiba saatnya membangun bahtera keluarga membuat Hermawan tak bisa lepas dari pekerjaan kasar itu.

Kesulitan hidup itu lebih pas kalau dikatakan sebagai kemiskinan. Saat menikah tahun 1982, Hermawan yang hanya bisa menyelesaikan pendidikan sampai kelas V madrasah ibtidaiyah atau setaraf dengan sekolah dasar tak punya modal sama sekali.

Jangankan modal untuk membangun keluarga, penghasilannya sebagai kuli angkut batu dari sungai pun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, bahkan sering juga tak cukup.

Kedua orangtuanya sebenarnya menawari mereka untuk tetap tinggal bersama mereka setelah Hermawan menikah. Namun, Hermawan dan istrinya, Ai Sopiah (45), bersikeras untuk berpisah dengan orangtua.

Dengan meminjam sana-sini berdirilah sebuah rumah berdinding anyaman bambu berukuran 3 x 3 meter.Ya memang hanya cukup untuk tempat tidur saja, ujar Hermawan. Sambil menjadi kuli angkut batu, Hermawan sedikit demi sedikit mengumpulkan batu-batu berwarna dari sungai dan dipajang di depan rumahnya yang berada di pinggir jalan raya menuju Palabuhanratu, Sukabumi.

Setiap akhir pekan, ternyata batu-batu sungai yang hanya mendapatkan sedikit gosokan itu selalu laku. Idenya membuat suvenir dari batu kemudian muncul. Hermawan pun mulai keluar dari Sukabumi untuk mencari batu-batu yang strukturnya unik dan memungkinkan untuk dipoles.

Hermawan kemudian menemukan batu fosil yang dapat dipoles sehingga menghasilkan tekstur yang menarik. Tahun 1994, setelah mendapatkan batu-batu antik untuk persediaan, Hermawan membuka sendiri kios suvenir tak jauh dari rumah kecilnya.

Suvenir dari batu fosil itu ternyata disukai para turis asing yang melewati depan kiosnya saat menuju Pantai Palabuhanratu. Selera turis mancanegara itu ternyata sama dengan ide Hermawan. Semakin lama, turis yang memesan suvenirnya semakin banyak.

Mereka berasal dari Australia, Korea, Amerika Serikat, dan sejumlah negara Eropa. Tahun 1996, Hermawan berani mengambil kredit empat mobil bak terbuka selama satu tahun saja untuk mengangkut batu itu. Rumah kecilnya pun tergantikan oleh rumah permanen yang layak huni.

Kendati tahun 1997 dihantam badai krisis moneter, bisnis yang ditekuni Hermawan masih tetap bisa bertahan. Kini setiap bulan, 10 hingga 20 ton batu fosilnya bisa terjual. Dengan harga Rp 3.000 hingga Rp 15.000 per kilogram tergantung pada jenis dan kondisi batu, omzet penjualan Hermawan lebih dari Rp 60 juta setiap bulan.

Bukan kebetulan saja ayah enam anak ini bisa merasakan semilirnya angin kesuksesan. Sejak awal, saya sudah bertekad untuk menjadi perajin yang jujur dan menepati janji kepada konsumen. Setiap janji yang saya ucapkan kepada konsumen berusaha saya tepati, baik ukuran batu atau ketepatan pengiriman. Ternyata itu mampu membuat konsumen lain tertarik dan ini akan saya pertahankan terus, ujar Hermawan.

Hermawan juga selalu yakin akan apa yang dibuatnya. Saya terus-menerus berlatih mengenal batu yang kira-kira disukai konsumen. Dari situ, saya juga harus kreatif untuk membuat motif yang harus selalu mengikuti keinginan konsumen, ujar Hermawan.

Hermawan pun sebenarnya tak menyangka bahwa kerja kerasnya akan membuahkan hasil yang menggembirakan. Hampir tak terbayang di benak Hermawan kecil yang dikenal sangat nakal dan berasal dari keluarga tidak mampu bahwa sekarang bisa memiliki tiga mobil dan rumah tingkat yang luas.

Untuk menghentikan kenakalan anak tertuanya yang kurang serius kuliah di Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, Hermawan memintanya untuk keluar saja dan menekuni bisnis batu fosil yang dirintisnya itu. Kini, Hermawan pun menuai batu-batu kesuksesan yang masih terus dicarinya. (d03)

Sumber : Kompas, Jumat, 10 Maret 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks