Jun 28, 2009

Rita Widagdo

Persona : Rita Widagdo
Pewawancara : Efix Mulyadi dan Putu Fajar Arcana

NAMA Rita Widagdo tak bisa dilepaskan dari kehadiran patung-patung modern abstrak di Indonesia. Oleh kritikus Sanento Yuliman (alm), Rita "dinobatkan" sebagai pematung yang pertama kali membawa seni patung abstrak, dalam pengertian tidak representasional, masuk ke Indonesia. Pamerannya bersama para seniman Bandung tahun 1966 di Balai Budaya Jakarta dianggap sebagai "kelahiran" patung abstrak "murni" dan terpampangnya masa depan baru seni ini di Tanah Air.

Selama kesibukannya sebagai akademisi di Institut Teknologi Bandung (ITB), nama Rita tak pernah dicatat secara gegap- gempita oleh media. Namanya hanya dikaitkan dengan sejumlah karya open space-nya di beberapa sudut Kota Jakarta. Pamerannya di Galeri Nasional Jakarta 15-25 April 2005 dalam judul Rita Widagdo Marking the 1965-2005 Journey menunjukkan bahwa ia tak pernah berhenti berkarya.

Perempuan dengan nama asli Rita Wizemann ini lahir 26 November 1938 di Rottweil, Jerman. Setelah menikah dengan Profesor Widagdo yang belajar desain interior di Jerman, ia lebih populer dengan nama Rita Widagdo dan mengikuti suaminya yang pulang ke Indonesia. Keluarga ini dikaruniai dua anak lelaki, yaitu Marc Wasistha dan Paul Gunawan. Rita menempuh pendidikan di Sttatliche Akademie del Bildenden Kunste, Stuttgart, Jerman, sekolah seni yang dikenal dengan metode pendidikan membangun inisiatif para mahasiswanya.

Berikut perbincangan dengan Rita Widagdo sesaat sebelum pembukaan pamerannya.

Abstrak itu seperti apa?

Abstrak selalu mulai dari sesuatu, mesti ada titik berangkat. Dan, titik berangkat ini sering sekali sesuatu yang nyata. Tetapi, dari sesuatu yang nyata ini, kita berusaha keras untuk lepaskan penampilan realistik ini dan maju ke sesuatu yang hanya asosiatif saja dengan asal- usulnya. Tidak meniru lagi, tetapi ambil beberapa sifat esensial saja.

Abstraksi itu mencari sari pati?

Ya. Sifat khasnya. Sebenarnya begitu. Ada juga pengertian abstraksi yang memanfaatkan unsur geometrik, misalnya. Ada yang mulai dari bola yang dipotong atau piramid yang dibelah, dibuka. Itu juga abstrak, itu abstrak murni. Kalau saya, sebenarnya masih ada kaitan dengan sesuatu yang nyata. Tetapi, diolah, dibawa dalam renungan agak lama sampai yang tersisa yang paling tipikal.

Semacam "gen" makhluk hidup? Nanti wujudnya bisa macam-macam?

Ya. Cukup bebas ya. Bisa saja asal-usulnya sama, tetapi yang keluar bisa begini atau begini, jadi satu tema, katakanlah soal famili ya nanti akan keluar beberapa varian, sama benar, sama juga ngambil intinya, tetapi mungkin hari ini dan esok beda.

Apakah mungkin sebuah karya dengan ide yang sama oleh seniman yang sama menjadi karya-karya yang berbeda?

Ehm, tidak bisa jauh sekali karena dalam hal patung untuk open space yang sangat ikut menentukan adalah lingkungan itu sendiri... patung ini (secara umum) harus bisa dilihat dari semua sudut. Dan, kalau patung yang bagus, dari setiap sudut dia lain. Tetapi, dalam keseluruhan, karakternya tetap sama.

Ide awal seperti apa lahirnya? Anda pernah mengikuti sayembara, itu kan dipicu orang lain?

Ya, kalau yang ini (menunjuk salah satu karyanya yang dipamerkan di Galeri Nasional), semuanya dari diri sendiri. Tetapi, kalau saya masuk ke lingkungan arsitektur atau lingkungan kota, saya tidak bebas, saya malah mulai dari membaca lingkungan untuk menyesuaikan diri. Saya senang bahwa oleh karena situasinya tiap kali beda, saya juga diantar ke ide yang tadi saya belum punya. Saya suka sekali bikin karya open space karena banyak sekali tantangan. Kadang-kadang cahayanya jelek, kadang-kadang ini suka keramik, ini suka marmer....

Dalam sayembara Anda merasa didikte?

Saya tidak pernah merasa terhalang, saya malah dipaksa untuk berpikir lain dari jalur sehari-hari. Saya keluar dari rel, saya senang sekali.

Kata kuncinya keluar dari rel?

Ya, itu... (diam sejenak). Itu juga kadang-kadang terjadi karena ada bahan yang memaksa saya untuk berpikir lain. Pengalaman kemarin tidak berguna sama sekali untuk teknik itu. Saya bisa belajar sambil bekerja, bisa berubah, dan saya mengharapkan saya selalu berubah, tak pernah ulang.

Patung indoor lebih bebas?

Ya. Yang masih menghalangi ya bahan dan tekniknya.

Apakah di sini jauh lebih puas?

Sebetulnya saya jauh lebih puas kalau bekerja dalam lingkungan yang ditentukan oleh orang lain.... Saya ingin menemukan bentuk yang tadi saya tidak bisa bayangkan. Saya diantar ke sesuatu di luar saya. Saya bisa berubah, singkatnya.

(Rita Widagdo beberapa kali memenangi sayembara pembangunan patung open space di beberapa kota. Tahun 1972 ia memenangi kompetisi perancangan monumen di Slipi, Jakarta; tahun 1973 monumen youth center di Kuningan, Jakarta. Bahkan, tahun 2001, ia memenangi kompetisi patung monumental di Ancol, Jakarta.)

Dalam studi akademis ada pelajaran tentang teknik konstruksi?

Waktu saya di sekolah sebenarnya tidak sejauh itu. Tetapi, saya dua kali membantu profesor saya waktu beliau bikin patung besar. Di situ saya belajar.

Anda selalu memakai maket?

Ya. Saya tidak pernah datang dengan gambar. Dengan maket sebenarnya saya belajar sungguhan. Itu selalu saya bikin sendiri, saya tahu di mana harus dilas. Kalau maket selesai, saya siap untuk sebuah pekerjaan.... Prinsipnya, patung yang besar harus persis seperti maket, enggak ada kompromi. Paling bisa beda tiga sentimeter.

Untuk karya open space, kemampuan mematung itu hanya satu unsur saja?

Ya, di situ ada arsitektur dan teknik konstruksi. Ini tidak mudah. Saya harus punya tukang juga. Tukang-tukang saya sudah ikut 10-20 tahun. Mereka sudah mengerti bahasa saya.... Tahun-tahun pertama saya bekerja sendirian.

Patung di Slipi itu juga pakai insinyur?

Sudah. Saya pakai tukang, insinyur, kadang-kadang saya juga minta tolong kepada mahasiswa untuk kontrol bentuk. Sekarang saya sedang bikin karya yang cukup besar di tengah-tengah Jakarta..., sudah lima bulan kita kerja.

Di mana itu?

Ah, itu masih rahasia. Abstrak juga.

Waktu patung air di Slipi itu dibongkar, gimana perasaan Anda?

Saya tidak pernah mengatakan ini tidak boleh dipindahkan (Rita lalu minta ceritanya seputar pembongkaran patung Duta Wangsa di Slipi tidak ditulis. Patung berbahan aluminium setinggi delapan meter dengan aliran air itu mengolah bentuk-bentuk geometris yang mengesankan harmoni antara kelembutan dan ketegasan. Berdiri tahun 1973 dan dibongkar Pemda DKI Jakarta tahun 1987 dengan alasan pelebaran ruas jalan layang).

Anda tentu concern...

Saya hanya concern bahwa seni modern di Kota Jakarta belum diberi ruang yang layak. Saya setuju ada patung pahlawan, tetapi seharusnya juga ada yang modern. Saya punya satu di Semanggi, tetapi tertutup pohon-pohon. Itu aja enggak diurus. Ada punya Pak Sidharta.... Tetapi, kurang itu untuk kota sebesar ini.

Masih ada berapa titik yang bisa dipasangi patung?

Banyak. Kira-kira ada 10 titik. Tetapi, no follow up....

Apa yang diberikan patung (modern) kepada sebuah kota?

Sebetulnya setiap orang suka dengan sesuatu yang indah ya, sampai orang yang sederhana orang kecil. Kalau ada yang bagus, mereka suka. Di Palembang, setiap malam ada orang foto di situ (di sekitar patung karyanya). Ada yang dagang... lingkungan sekitar sana jadi hidup setelah ada patung. Ada sesuatu yang bagus, mereka kira-kira bisa menangkap sesuatu dari sebuah patung.... Umumnya mereka mengerti, oh ya itu bunga... atau ekor ikan paus....

Selain keindahan?

Tentu message, yang bisa ditangkap oleh siapa saja. Kalau ada patung kuda, ya semua orang bisa bilang itu kuda, tetapi berhenti sampai di situ. Kalau ada seperti sesuatu yang mekar, atau yang lain, orang merasakan ini, oh garis ini dinamis sekali, dan ini cukup sebagai message. Jadi di lingkungan ini ada tanda yang mewakili dinamika hidup. Nilai abstrak ini menjadi visual.

Studi sosial apa selalu dilakukan untuk meletakkan sebuah patung di sebuah kota tertentu?

Dalam hal ini sebetulnya hanya sejauh optimisme bahwa mereka akan bisa maju, mereka bisa berharap hidup besok bisa lebih baik, bisa berkembang, lambang optimisme sebenarnya. Ini kan sambung dengan siapa saja yang ada di Palembang.

(Patung di Palembang itu patung yang terbesar yang pernah dikerjakan Rita Widagdo. Diselesaikan di Bandung dengan sekitar 50 bagian dan disambung-sambung di Palembang. Patung itu tingginya 17,8 meter.)

Abstrak Anda selalu berangkat dari sesuatu yang nyata. Apakah itu berarti kemungkinan kita untuk menemukan sebuah kejutan jadi semakin kecil?

Ya ya.., tetapi acuan ini kan hanya menjadi titik berangkat. Kita justru berupaya keras dalam proses berkarya melepaskan diri dari wujud semula. Yang kita pertahankan karakternya. Katakanlah kita melihat buah mangga, bentuknya begitu perfect ada yang gendut, agak runcing, ada yang melengkung sedikit. Andai kata ada mahasiswa yang pegang mangga ini, dan dia ingin pindahkan mangga ini ke batu marmer, misalnya. Tetapi, dia tidak (boleh) bikin mangga besar dari batu, itu bodoh... dia harus cari akal lagi... apakah mangga ini dia ambil satu iris, ditambah daun, dia harus berupaya keras untuk menyembunyikan asal-usulnya. Dia harus tetap pertahankan plastisitasnya, kencengnya, dan lembutnya waktu dia mengecil menjadi runcing ya, sifat ini harus dipertahankan. Tetapi, bentuk akhir dari patung ini harus cukup jauh dari titik berangkat awalnya....

Faktor tak terduganya di mana?

Itu harus ada, itu tuntutan, penemuan sesuatu yang inovatif. Inovasi menjadi unsur utama di dalam menilai sebuah karya, berhasil atau tidak, harus ada sesuatu yang surprising, aneh, asing, di situ kreativitas seniman kelihatan. Dia harus original, tidak saja dengan orang lain, tetapi beda dengan karya yang kemarin. Seniman tidak boleh ulang.

Anda menghindari duplikasi?

Jangan sampai. Kita hanya tahu duplikasi dalam arti, satu patung dicor lima kali, tetapi itu harus selalu ditulis (misalnya) nomor dua dari seri lima. Kalau di perunggu memang agak biasa.... Kalau saya, umumnya single pieces....

Apakah seni modern akan terus bertahan, karena selalu harus terjadi pembaruan?

Seperti pendulum, dari abstrak kembali ke sekitar tahun 70-an, foto realisme. Kemungkinan besar 10 tahun (nanti) muncul lagi naturalisme. Sekarang lagi model instalasi...., tetapi nanti akan redup cari problem lagi....

Instalasi akan terus karena terkait problem sehari-hari?

Seni lain juga selalu berkaitan dengan manusia. Seni mengolah dunia manusia, pikiran, perasaan. Tidak mungkin salah satu aliran akan bertahan selama-lamanya. Ada periodenya. Ada satu problem yang diolah dipikirkan sampai habis. Kalau habis, ya cari problem lain. Dalam seni, tidak ada yang usang. Pada teknik, yang usang ditinggalkan.

Pendapat Anda tentang seni yang dimanfaatkan di luar konteks kesenian?

Seni jangan dipakai untuk sesuatu yang bukan seni. Harusnya seni tetap bebas. Jangan terlalu dibebani dengan pesan yang sebetulnya bisa diurus orang lain... boleh menunjuk pada problem yang ada, tetapi jangan ikut teriak-teriak. Seni harus menghadirkan bentuk visual yang positif yang optimistis.... Kadang-kadang saya iri dengan musik. Mereka bisa bebas dari segalanya.... Kalau lagu cengeng jangan disebut ya, ini bukan musik lagi.

Apa yang membuat sebuah karya dinilai baik?

Ah, that’s a big question.... Kita sering mengatakan ada bobotnya. Karya ini memberikan bobot, strength, ada power, meaningfull. Sebelum mengerti (sebuah karya) sudah ada kesan yang kuat.

Sebelum nalar bekerja, dia sudah "sampai"?

Ya, sudah ada itu. Ia komprehensif, sebelum kita menganalisa komprehensif, kita melihat ini oh... lalu kita analisa yang pertama ya bahannya, bentuknya, it’s mean atau meaning.... Ada orang yang macet hanya sampai di situ. Tetapi, umumnya justru di seni abstrak semua pengamat bisa bereaksi sendiri, justru tidak dibatasi. Dengan pengalaman batin mereka, mereka bisa artikan sendiri, ada freedom yang luar biasa dalam seni abstrak, ada celah... (untuk ditafsir).

Semua karya Anda itu perfect sekali ya. Itu taste pribadi atau semacam keharusan di dalam seni abstrak?

Ya, semua begitu. Tidak harus di dalam seni abstrak. Ini memang kepribadian saya. Saya ingin sekali paling sedikit di dalam setiap karya yang mendekati sempurna. Kalau di dalam kehidupan sehari-hari hampir tidak mungkin, kita berusaha keras tetapi ternyata jarang dapat hasil yang utuh. Tetapi, dalam karya saya bisa pikir dan pikir lagi sampai....

Itu yang membuat Anda selalu ketagihan bekerja?

Ehm, ya... kadang-kadang saya pikir apakah saya melarikan diri sesungguhnya di dalam seni, supaya dapat sesuatu yang lebih sempurna....

Boleh enggak disebutkan di dalam berkarya semua ada di tangan Anda, kalau hidup sehari-hari tidak?

Oh ya betul. Saya bertanggung jawab penuh, kalau gagal ya.... Tetapi, di patung tidak boleh gagal. Materialnya terlalu mahal. Saya enggak boleh salah potong. Satu lembar kuningan itu Rp 800 ribu. (Rita menunjuk sebuah karyanya yang menghabiskan biaya untuk bahan senilai Rp 26 juta). Jadi enggak boleh gagal.

Selama 30-an tahun mengajar, bagaimana membagi waktu dengan jadi seniman?

Saya berhasil karena pandai membagi waktu. Keluarga nomor satu, lalu karya saya, lalu mengajar. Saya berani mengajar karena saya berkarya. Kalau saya tidak berkarya, enggak boleh omong. Orang yang tidak berkarya mau bilang apa sama mahasiswanya. Pengalaman berkarya itu harus dibawa ke sekolah. Mahasiswa bisa tanya apa saja kepada saya.

Dosen seni harus seniman?

Saya kira ya, kecuali untuk sejarah seni, pengetahuan bahan.

Apa yang Anda amati dari para mahasiswa di sini?

Orang Indonesia terus terang pada umumnya lebih berbakat dibandingkan dengan orang lain. Kalau saya bayangkan dengan sekolah saya dulu (di Jerman), mahasiswa sini sangat berbakat. Tetapi, karena sangat berbakat, kadang-kadang terlalu easy going.... Itu masalah utama. Relatif mudah untuk mendapatkan yang baik, mereka tidak menuju ke yang lebih baik. Itu sering saya lihat dengan sedih hati (Rita bercerita ada lima orang mahasiswa yang sangat berbakat, tetapi akhirnya tidak jadi).

Karena apa ini?

Terlalu yakin. Yang lemah, yang susah, yang harus berjuang keras, kadang-kadang keluarkan ide yang jauh lebih istimewa. Jadi, kalau susah, malah bagus gitu ya. Nah, lalu kalau mereka sudah lulus umur 26 atau 27 mertua tanya, kamu bisa kasi makan anak saya? Mereka memilih untuk kerja apa saja. Lalu enggak pernah kembali lagi.

Kalau pelukis hanya perlu satu kanvas, sedikit cat, ruang kecil bisa kerja. Kalau pematung perlu berbagai mesin, ruang cukup besar, untuk start pematung itu sangat mahal sangat berat. Karena itu, dari sekian banyak mahasiswa yang sangat berbakat, hasil nyatanya sedikit. Banyak yang hilang karena tidak kuat memikul beban finansialnya. Harusnya ada kesempatan, misalnya Kota Bandung menyediakan satu gudang untuk mereka kerja, kalau bisa ada orang atau pabrik sumbang mesin-mesin.... Jadi, kelompok- kelompok seniman bisa bersama-sama gunakan itu. Mungkin akan lain hasilnya. Tetapi, tidak ada dukungan apa-apa....

Tetapi, jumlah anggota API (Asosiasi Pematung Indonesia) lebih dari seratus?

Ya ya, tetapi yang benar-benar bisa hidup dari pekerjaannya berapa? Sedikit sekali. Mereka banyak bekerja di bidang lain. Kalau saya tidak bikin publik space, saya tidak bisa mengongkosi karya saya. Tabungan saya selalu untuk patung, jarang saya bisa jual.

Apa selama ini Anda hidup dari mengajar?

Oh enggak, (dari) mengajar hanya untuk bayar sopir... he-he-he... (Rita lalu cerita beberapa kali ia mengerjakan patung public space yang sama sekali tidak mempertimbangkan fee. Ia bahkan beberapa kali harus mengeluarkan uang dari kantong pribadinya).

Tetapi, saya bekerja dengan sungguh-sungguh. Untuk saya, saya mau berkarya. Kalau ada uang, ya senang ya.... Selama tukang-tukang saya dibayar it’s okay... saya berusaha keras supaya tukang-tukang dapat kerjaan. Ada beberapa orang di belakang mereka. Saya punya tukang kira-kira 35 orang. Ini harus diurus duluan, baru saya memikirkan diri sendiri.

Artinya selalu harus ada proyek?

Seharusnya begitu. Kalau sampai satu bulan mereka menganggur, itu sudah susah.

Sumber : Kompas, Minggu, 24 April 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks