Jun 16, 2009

Ricardo F Tapilatu : Ricardo Tapilatu, Kuncen Penyu Belimbing

Ricardo Tapilatu, Kuncen Penyu Belimbing
Oleh : Aryo Wisanggeni

Sampai menyelesaikan studi S-2, Ricardo F Tapilatu, 39 tahun, belum mengenal penyu, satwa langka yang dilindungi itu. Tetapi, kini dia seakan menjadi "kuncen" atau "juru kunci" penyu belimbing di Pantai Jamursba Medi, Kabupaten Sorong, Irian Jaya Barat.

Tapilatu tak hirau berjalan kaki menyusuri belasan kilometer pantai yang letaknya terpencil di sudut Kepala Burung itu. Dia telaten memeriksa puluhan sarang penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Bahkan, di tengah malam pun ia menyusuri pasir putih, memeriksa kondisi penyu yang sedang bertelur.

"Di seluruh Pasifik, inilah pantai yang paling banyak dikunjungi penyu belimbing yang akan bertelur," tutur lelaki yang lebih memilih masuk hutan meneliti penyu ketimbang duduk di balik meja di kampusnya, di Fakultas Kelautan Universitas Negeri Papua (Unipa), di Manokwari.

Pantai Jamursba Medi memang identik dengan penyu belimbing. Peneliti penyu belimbing di seluruh dunia pasti mengenal Jamursba Medi yang panjang pantainya kira-kira 17,9 kilometer. Pada tahun 1984, jumlah sarang penyu di pantai itu diperkirakan mencapai 13.360. Kini, sayang, jumlah itu merosot drastis. Pada tahun 2004, jumlahnya tinggal 3.871 sarang telur. Selain karena faktor penurunan kualitas lingkungan, perburuan manusia juga tak kalah hebatnya beberapa waktu silam.

Mencapai Pantai Jamursba Medi bukan perkara mudah. Akses paling gampang mendatangi pantai itu adalah menumpang speedboat sewaan dari Kota Sorong, yang memakan waktu lebih dari tujuh jam.

"Kalau sudah masuk Jamursba Medi, minimal akan bermalam dua minggu. Selama itu hubungan dengan keluarga terputus sama sekali karena telepon genggam praktis tidak berfungsi," ungkap Tapilatu.

Pantai yang terletak di sisi atas Kepala Burung Pulau Papua itu memang bebas dari jaringan telepon, listrik, televisi, radio, juga koran. Pendek kata, akses informasi terputus sama sekali.

Di Jamursba Medi, Tapilatu yang tinggal di tenda sepertinya jauh dari tugas-tugasnya sebagai kepala keluarga. "Di rumah, saya biasa bangun jam 05.00 karena saya harus menyiapkan dua anak saya berangkat ke sekolah. Saya harus membangunkan mereka, menyuruh mereka mandi, mengajak sarapan. Jika tidak begitu, anak-anak sering kacau, bisa terlambat masuk sekolah," tutur ayah dua anak ini.

Arahan pembimbing

Pergumulannya dengan penyu dituntun oleh garis hidup yang tidak direncanakan. Pada tahun 1986 dia diterima kuliah di Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Cenderawasih di Manokwari, cikal bakal Unipa. Tiba-tiba, universitas tersebut ingin membangun jurusan perikanan dan kelautan. "Akhirnya, mahasiswa Jurusan Peternakan dikuliahkan ke Jawa untuk dipersiapkan menjadi dosen jurusan baru itu," ujar Tapilatu.

Sejak 1987, Tapilatu pun kuliah di Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Diponegoro, Semarang. Tahun 1991, ia meraih gelar sarjana dengan skripsi tentang populasi dan karakter morfologi ketam kelapa. "Saat itu, penyu belum terlintas di kepala saya," ungkapnya.

Setelah kembali, ia pun menjadi dosen di Manokwari. Tahun 1996, ia melanjutkan studi dan lulus program pascasarjana di Institut Pertanian Bogor. "Tesis saya tentang budidaya udang air tawar, masih jauh juga dari penyu," katanya. Persentuhannya dengan penyu justru terjadi saat dia mengambil program doktoral di James Cook University, Townville, Queensland, Australia. "Itu pun karena diarahkan pembimbing saya," ucap Tapilatu.

Namun, ia gagal meraih gelar doktor dari James Cook University. Pada tahun 2001, ia hanya meraih gelar S-2 dari universitas yang sama, dengan tesis tentang pengurangan dampak predasi telur penyu di pantai Robert Wecks Laboratory di Negeri Kanguru itu.

Akan tetapi, itulah titik awal Tapilatu mulai bersinggungan dengan satwa laut liar, khususnya penyu. Berawal dari studinya di Australia itu pula Tapilatu masuk jaringan peneliti penyu dari berbagai negara.

"Sejak itu, saya mulai terlibat berbagai penelitian penyu di Papua," tutur Tapilatu, yang kemudian kembali mengajar di Unipa. Ketika Fakultas Peternakan, Perikanan, Kelautan Unipa mulai dibuka tahun 2001, peluang Tapilatu untuk terus menggeluti penyu dan satwa laut liar lainnya justru semakin terbuka.

Sejak tahun 2004, ia mulai terlibat penelitian populasi penyu belimbing yang dilakukan Unipa, bekerja sama dengan World Wide Fund (WWF) Indonesia Region Sahul, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Papua II Sorong, dan NOAA. Penelitian itu dilakukan di Pantai Jamursba Medi dan Pantai Warmon, dua pantai yang bersebelahan dan "kaya" akan sarang penyu belimbing. Ia juga terlibat beberapa penelitian satwa laut liar lain, seperti paus.

Kepakaran Tapilatu tentang penyu mulai menyedot minat mahasiswanya. Tapilatu pun membuka pintu bagi mahasiswanya yang berniat meneliti penyu. Satu demi satu, peneliti-peneliti penyu terus bermunculan dari Unipa.

"Tahun 2004 saya mulai mengajak mahasiswa melakukan praktik kerja lapangan di Jamursba Medi dan Warmon. Awalnya, hanya dua mahasiswa yang ikut. Tahun 2005 bertambah menjadi empat orang. Tahun ini, ada lima mahasiswa yang ikut. Selain itu, akan ada enam mahasiswa yang mengikuti praktik kerja lapangan di Pulau Sayang, Kabupaten Raja Ampat," papar Tapilatu pula.

Sumber : Kompas, Rabu, 5 Juli 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks