Jun 17, 2009

Ravenska Wagey dan Rumitnya Penyakit ALS

Ravenska Wagey dan Rumitnya Penyakit ALS
Oleh : Freddy Roeroe

Satu lagi perempuan ilmuwan Indonesia layak dibanggakan. Ravenska Wagey, ahli kelautan yang menyeberang ke kedokteran, berhasil memecahkan rumitnya penyakit amyotrophic lateral sclerosis yang menyerang saraf motorik.

Lulusan Institut Pertanian Bogor (1988) ini kemudian meraih gelar PhD untuk cabang ilmu kedokteran. Ravenska, istri Dr Ir Tonny Wagey (peneliti kelautan), memberi kontribusi dunia ilmu kedokteran lewat temuannya terhadap pemecahan penyakit amyotrophic lateral sclerosis (ALS).

Penyakit ini menjadi momok bagi manusia karena menyerang pusat saraf motorik (motoneuron dysfunction) yang mengakibatkan pasien sulit menggerakkan organ tubuh. Mulai dari gerakan tangan sampai akhirnya tidak bisa menggerakkan otot yang berfungsi untuk pernapasan.

Menurut Venska—begitu sapaan akrabnya—penyakit itu belum ada obatnya. Biasanya setelah didiagnosis, pasien hanya punya waktu hidup selama dua-lima tahun. Sebagai asisten peneliti yang bekerja di bawah bimbingan supervisor Dr Charles Krieger di Universitas British Columbia (UBC), Vancouver, Kanada, Venska mendapat kesempatan mendalami penyakit ALS.

Oleh karena Krieger amat sibuk dengan pasien di klinik dan tugas mengajar, penelitian serta eksperimen ALS dipercayakannya kepada Venska. Tugas pokok Venska ialah menganalisis postmortem tissue: otak dan sumsum tulang belakang dari pasien yang meninggal karena ALS dan pasien yang meninggal bukan karena ALS.

Penelitian itu untuk membandingkan analisis protein kinase dari dua kelompok pasien tadi. Berkat ketekunannya, seluruh proyek penelitian ALS akhirnya dipercayakan kepada Venska untuk penelitian PhD (1996-2000) pada program studi Experimental Medicine, Medicine Department, UBC.

Setelah lulus dan meraih gelar PhD dengan judul disertasi A Role of PKC and PI 3-K in Motoneuron Dysfunction, Venska bekerja di perusahaan bioteknologi, Kinetek, sekaligus sebagai postdoctoral fellow scientist. Selanjutnya, Venska memperoleh beasiswa dari NSERC (semacam LIPI di Indonesia) untuk bekerja dua tahun di perusahaan bioteknologi Kanada. Kemudian pada tahun 2002, putri kesayangan Pdt Dr Arnold Nicolaas Radjawane, mantan Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM), ini pindah ke perusahaan bioteknologi lain, Stemcell Technologies Inc.

Selama tiga tahun terakhir kegiatan Venska di Stemcell Technologies, katanya, adalah membuat riset untuk menghasilkan media yang optimal bagi kultur neural stemcell—sel induk isolasi dari otak (media untuk kultur sel induk dari otak tikus dan manusia). Kultur neural stemcell ini sangat penting untuk keperluan terapi pengobatan penyakit alzheimer, parkinson, serta penyakit pada jaringan saraf tulang belakang.

Seperti kloning, penelitian stemcell juga menimbulkan perdebatan tajam dalam soal-soal etik dan moral, terutama apabila sumber stemcell adalah embrio manusia (di Amerika Serikat, Presiden George Bush melarang pembiayaan federal untuk penelitian stemcell). Khusus tahun ini, kata Venska, ia mendapat tugas dan bertanggung jawab mengembangkan produk di bidang mesenchymal stemcell (transplantasi untuk pasien kanker, pasien penyakit tulang, otot, dan lain-lain).

Iman dan teknologi

Meskipun perkembangan ilmu dan teknologi berlangsung sangat cepat, menurut Venska, belum ada bukti nyata bahwa teknologi kloning mampu menghasilkan manusia yang sempurna seperti ciptaan Allah. Termasuk Dolli (produk domba kloning) ternyata tidak sempurna karena pada usia muda sudah mengidap penyakit (arthritis dan lain-lain).

Terlihat dia agak skeptik terhadap kloning. Menurut dia, ada memang manfaat kloning, yaitu memindahkan gen dari suatu makhluk hidup ke makhluk hidup lain dengan tujuan agar fungsinya bisa dipelajari. Misalnya, gen insulin manusia dipindahkan ke bakteri escherichia coli untuk diperbanyak dan dipelajari karakteristiknya. Ternyata, bioteknologi semacam ini sangat berguna karena insulin merupakan obat yang dibutuhkan oleh penderita diabetes.

"Sebagai orang beriman kepada Tuhan, saya percaya manusia ciptaan Tuhan paling unik dan sempurna yang tidak bisa dibuktikan oleh teknologi kloning," kata Venska yang pernah memenangi lomba karya ilmiah remaja (pemenang I) serta tokoh berbakat, pelajar teladan (1982), dan Puteri Remaja Indonesia versi majalah Gadis (1981).

"Saya merasa diberkati karena kesempatan bisa bekerja di bidang stemcell yang memiliki potensi besar terhadap pengobatan manusia. Karena itu pula, saya berharap Indonesia menaruh perhatian lebih besar di bidang pendidikan dan penelitian biomedical," ujar Venska yang menyelesaikan studi SD, SMP, dan SMA di Ambon.

Venska tidak disengaja beralih dari bidang studi kelautan ke kedokteran. Setelah lulus S-1 di IPB Bogor (1988) dan S-2 biologi kelautan pada Department of Biology di Universitas Ryukyus, Okinawa, Jepang (1991), Venska ikut suaminya, Tonny Wagey, yang melanjutkan studi S-3 di Vancouver, Kanada. Untuk mengisi waktu, ia melamar sebagai asisten peneliti serta ahli teknik di UBC dan selanjutnya ditunjuk bertanggung jawab atas program penelitian ALS.

Risalah itulah yang membawanya pada posisi seperti sekarang.

Sumber : Kompas, Selasa, 13 Juni 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks