Jun 25, 2009

Radi : Pengabdian Seorang Juru Pantun

Pengabdian Seorang Juru Pantun
Oleh : Indira Permanasari

”Saha iye nu bogana di gedong Sang Hyang nunggal paseban sakapat langit. Pulangken nu ka jeneng, pulangken nu ka jeneng. Ka jeneng Ratu Pakuan Menak Barat sewe Pajajaran di gedong Sang Hyang nunggal paseban sakapat langit.”

Ki Radi (50) melantunkan penggalan pembuka lakon Munding Jalingan yang dibawakannya dengan berpantun. Jemarinya memetik kecapi buatan tahun 1941. Sesekali dari jendela, angin malam berembus dingin mengantarkan bau bakaran kemenyan di depan Ki Radi.

Munding Jalingan mengisahkan Ratu Pakuan Menak Barat Pajajaran di Gedong Sang Hyang Nunggal yang menikahi Nyi Kentrik Manik Dayang Sunda dari Telemang Jajar. Ketika sedang mandi di jamban larangan, Nyi Kentrik diculik Helang Ngambang dari Cocongker Mega Malang. Cerita berakhir dengan kemenangan Munding Jalingan.

Lakon itu dibawakan Ki Radi setahun sekali sebagai bagian upacara seren taun di Ciptagelar, pusat kegiatan Kasepuhan Banten Kidul, Kecamatan Cisolok, Sukabumi.

Lima jam tanpa catatan

Malam awal Agustus lalu setelah kemeriahan seren taun usai, Ki Radi memulai aksi di ruang kecil tempat pimpinan kasepuhan, Abah Anom, biasa menerima tamu.

Di hadapannya terdapat berbagai jajan pasar dan sejumlah gelas, di antaranya berisi air dengan campuran ketimun, selasih, nangka, kopi, atau teh, selain nasi dalam bakul dan pisang. Semuanya merupakan lambang hasil bumi di kasepuhan itu yang dipersembahkan.

Sebelum berpantun Ki Radi harus melantunkan doa. Kata Ki Radi, doa itu tidak boleh dituliskan atau nanti terkena bencana. Menurut dia, doa itu merupakan ungkapan kepada Tuhan supaya lakon ini tidak ada yang mengganggu.

”Selamet…, selamet,” ujar Ki Radi menghela napas lega begitu jarinya selesai memetik dawai. Ketika itu sudah pukul 02.30 WIB. Selama lima jam sudah dia berpantun. Tanpa sehelai catatan pun. Selain Munding Jalingan, ada dua lakon utama lain yang dikuasainya, yakni Prenggong Jaya dan Badak Pamalang yang isinya adalah mengingatkan warga akan leluhur mereka.

Berpantun merupakan tugas utama Ki Radi yang awalnya adalah dalang wayang golek, selama 30 tahun ini. Keluarga Ki Radi, termasuk ayah dan kakeknya, ditunjuk sebagai juru pantun—tugas ini hanya diturunkan kepada anak laki-laki—di kasepuhan tersebut.

Ki Radi tidak pernah mengharapkan bayaran dari kasepuhan. ”Kalau dikasih, saya terima. Tidak diberi pun saya tetap berpantun untuk menolak bala. Kalau tidak, saya takut terjadi mamala (malapetaka—Red) di desa ini,” ujarnya.

Ki Radi yang menikah dengan Rupini dan dikaruniai empat anak berharap ada anaknya yang meneruskan tugas itu. ”Rukanda mengatakan tidak mampu meneruskan berpantun. Harapan saya pada Ruhendar yang sekarang penyiar radio komunitas adat di kasepuhan,” katanya.

Sumber : Kompas, Rabu, 31 Agustus 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks