Jun 28, 2009

Prakoso Heryono, Ingin Lengkeng Pingpong jadi Unggulan

suntycicPrakoso Heryono, Ingin Lengkeng Pingpong Jadi Unggulan
Oleh : Yovita Arika dan Robert Adhi KSP

MEMBANJIRNYA buah-buahan impor yang akhir-akhir ini diperjualbelikan di pasar-pasar tradisional membuat Prakoso Heryono (47) prihatin. Dari lima jenis buah-buahan yang dijual di beberapa pasar tradisional di Kota Semarang, tiga di antaranya adalah buah impor. Buah lokal yang dijual seperti salak, mangga, dan rambutan sesuai dengan musimnya.

KALAU ada jeruk, yang dijual jeruk dari China, apel washington, lengkeng bangkok, anggur juga impor. Padahal, buah-buahan itu kan bisa dihasilkan di Indonesia, ada apel malang, jeruk pontianak, lengkeng pringsurat (Temanggung), dan anggur bali. Tanaman-tanaman buah impor itu pun kalau kita mau mengembangkan, pasti bisa ditanam di sini," kata Prakoso.

Mengapa Indonesia tak mampu menggandakan bibit seperti yang dilakukan Thailand? Plasma nuftah lebih banyak, tanah lebih luas. "Thailand berhasil karena pemerintahnya menggratiskan ke kelompok tani, sedangkan kita, di Indonesia, malah lebih kental nuansa proyek," katanya dalam percakapan dengan Kompas di rumahnya di Demak, pekan lalu.

PRAKOSO tak sekadar berbicara atau melemparkan ide karena ia telah membuktikan bahwa buah-buahan impor tersebut bukan tidak dapat dikembangkan di Indonesia, khususnya di daerah dataran rendah yang iklimnya relatif panas. Ini dibuktikannya dengan menanam dan mengembangkan berbagai jenis tanaman buah dari luar negeri, bukan hanya dari negara tropis, tetapi juga subtropis, dan terbukti berhasil berbuah di kebunnya. Ada ratusan tanaman buahan-buahan dengan puluhan varietas dari berbagai negara di kebunnya.

Bagi Prakoso, jangan pernah mengatakan tak bisa jika belum mencoba. Oleh karena itu, ia tidak memedulikan cibiran orang ketika berupaya mengembangkan tanaman buah lengkeng varietas pingpong di dataran rendah (panas). Selama ini tanaman lengkeng identik dengan iklim sejuk seperti di Pringsurat, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Semarang, dan Kota Salatiga. Tiga daerah ini terkenal sebagai penghasil lengkeng lokal.

"Tanaman lengkeng seperti di Pringsurat itu kan tidak bisa dikembangkan di daerah lain yang iklimnya berbeda. Akibatnya, perkembangannya terbatas, apalagi tanaman lengkeng di sana (Pringsurat) buahnya belum tentu stabil sehingga tak jarang warga Pringsurat menjual lengkeng bangkok dengan latar belakang tanaman lengkeng lokal. Ini kan memprihatinkan," kata lelaki kelahiran Yogyakarta, 4 November 1958 itu.

Oleh karena itu, ketika ke Thailand, Prakoso melihat pengembangan tanaman lengkeng di sana sangat menjanjikan. Buahnya besar-besar sehingga disebut lengkeng pingpong dan masa berbuahnya pun relatif pendek. Berbekal keyakinan, Prakoso membawa beberapa pucuk tanaman lengkeng tersebut ke Demak. Agar tidak layu, pangkal pucuk tanaman lengkeng dibalut tisu basah dan dimasukkan ke dalam koper.

Sampai di rumahnya di Demak, pucuk tanaman lengkeng disambungnya dengan tanaman lengkeng bangkok yang berasal dari biji. Hasilnya, satu tahun kemudian tanaman lengkengnya berbuah dan besar-besar, lingkar buahnya bisa mencapai 11 sentimeter. Melihat hasil percobaannya ini, Prakoso mempunyai obsesi menjadikan lengkeng pingpong sebagai buah unggulan di Demak.

"Saya undang Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Demak. Mereka datang, tetapi tidak ada tanggapan. Saya ditanya kenapa harus tanaman buah dari luar, kan ada yang dalam negeri. Bagi saya mengapa harus anti dari luar kalau memang bisa dikembangkan di sini daripada kita impor buahnya," kata Prakoso.

Akhirnya, Prakoso bergerak sendiri dengan menggandeng kelompok-kelompok tani dan teman-temannya sesama penggemar tanaman di Jawa Tengah untuk memperkenalkan dan mengembangkan lengkeng pingpong. Hasilnya, tanggapan mereka sangat positif, terutama kalangan kelompok tani.

Meski sebenarnya bisa mengembangkan sendiri tanaman lengkeng pingpong, Prakoso memilih berbagi pembudidayaan bibit pada petani. "Tujuan saya penyebaran dulu. Saya ingin membantu petani karena merekalah ujung tombak pertanian. Soal produksi (memproduksi sendiri) nanti dulu," kata Prakoso yang tidak pernah khawatir orang lain memanfaatkan ilmunya.

SAAT ini puluhan ribu bibit lengkeng pingpong sudah tersebar ke seluruh Indonesia, sekitar 40.000 batang ke kelompok tani, 20.000 batang ke masyarakat umum, dan 15.000 batang ke kalangan penggemar. Harga bibit siap tanam Rp 150.000 per batang, usia empat bulan atau pascasambung pucuk Rp 40.000 per batang.

Sebagai permulaan, Prakoso mulai mengembangkan sendiri tanaman lengkeng pingpong di Boja (70 batang) dan di Kendal (120 batang). Prakoso juga menjadi konsultan tanaman, menangani kebun-kebun buah milik beberapa pengusaha di Semarang, beberapa di antaranya juga mengembangkan tanaman lengkeng pingpong dan itoh.

Dari usahanya di bidang tanaman dan juga konsultan tanaman, Prakoso boleh dibilang cukup berhasil. Perkenalannya pada dunia ini awalnya karena hobi sang ayah, Sarjono, yang pernah menjabat sebagai Kepala Kepolisian Resor Demak tahun 1969-1975. "Ayah sejak dulu suka bercocok tanam di rumah dinas, mulai dari belimbing sampai mangga lokal," ceritanya. Hobi itu ditekuni Prakoso sejak ia duduk di bangku SMA sampai kuliah di Fakultas Hukum Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang. Setelah lulus dari Unissula tahun 1979, Prakoso mulai merintis usaha pembibitan ini.

"Kalau bisa ditanam di sini, mengapa tidak dikerjakan?" demikian pikirnya saat itu. Dia pun berburu bibit sampai ke Vietnam, Thailand, dan berbagai daerah di Indonesia. Prakoso membangun jaringan penggemar atau pehobi, kemudian membantu kelompok tani mengembangkan bibit-bibit itu.

Kini di halaman rumahnya seluas 7.000 meter persegi dan dipenuhi bibit tanaman, Prakoso menikmati hidupnya sebagai petani. "Saya lebih suka disebut petani daripada wiraswasta atau pengusaha," ucapnya. "Saya ini petani, kalau pengusaha itu kan tinggal memerintah. Saya menangani sejak awal tanaman itu tumbuh sampai berbuah. Istri pun saya tantang, mau tidak jadi mbok tani, hidup di desa," kata suami Ratih Maya Ningrum (47), mantan karyawan sebuah perusahaan di Jakarta.

Meski semula tak mau mengikuti langkah Prakoso kembali ke Demak, akhirnya Ratih mau menjadi mbok tani di Demak, mengikuti suaminya. Awalnya, Ratih stres karena terbiasa sibuk di Jakarta sebelum akhirnya terbiasa. Prakoso berpendapat, apa yang dicapainya kini terwujud karena dia melakukannya dengan senang hati dan tekun. "Itu kuncinya. Saya senang dengan tanaman sehingga saya kerjakan urusan tanam-menanam ini seperti mengerjakan hobi," kata Prakoso.

DENGAN usahanya tersebut, ayah Vera Eka (21) dan Danny Dwi (19) ini tetap mengejar obsesinya menjadikan buah produksi petani sebagai raja di negeri sendiri. Ini akan memberi nilai tambah pada petani buah yang selama ini hanya gigit jari menyaksikan maraknya buah impor di pasaran. (YOVITA ARIKA/ROBERT ADHI KSP)

Sumber : Kompas, Rabu, 4 Mei 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks