Jun 20, 2009

Pascal Couchepin : Tips Nol Korupsi Pascal Couchepin

Tips Nol Korupsi Pascal Couchepin
Oleh : Pieter P Gero

Pikiran langsung teringat pada Pascal Couchepin, begitu muncul berbagai kasus dugaan korupsi yang melibatkan pejabat tinggi di negeri ini. Couchepin adalah Konsuler Federal sekaligus Menteri Dalam Negeri Swiss. Sebagai pejabat dari negeri yang dikenal zero corruption alias nol korupsi, Couchepin banyak menyampaikan pandangannya soal korupsi yang masih pantas untuk disimak.

Pria tinggi besar dan suka humor ini suka bicara belak-belakan. Kalangan Kedubes Swiss di Jakarta sempat wanti-wanti untuk tidak mengutip begitu saja semua pembicaraan dengan Couchepin.

Bertemu pada suatu petang di kantornya di Bern, Swiss, beberapa waktu lalu, Couchepin memang bicara seperti tanpa beban. Apalagi ketika kepada mantan Presiden Konfederasi Swiss pada tahun 2003, dilontarkan pertanyaan mengapa Swiss bisa dikenal sebagai negeri tanpa korupsi, sementara Indonesia termasuk negeri ”superkorup”.

”Ini memang perlu waktu. Tetapi suatu hal yang utama adalah bahwa jangan pernah kompromi menghadapi korupsi,” ujarnya tegas. ”Berupayalah untuk tidak pernah menaruh respek kepada mereka yang korupsi. Di Swiss, begitu ada yang korup, langsung dimusuhi. Kalau dia pegawai negeri, maka akan dibenci seluruh rakyat,” tambahnya.

Karena itu, aksi pemberantasan korupsi ini, ujar Couchepin, harus melibatkan seluruh masyarakat. Di Swiss, masyarakat di tingkat canton (provinsi) bisa mengumpulkan tanda tangan untuk mengajukan petisi untuk meminta dilakukan referendum berkaitan dengan segala masalah yang timbul. Tentunya juga berkaitan dengan pemerintahan lokal ataupun pusat yang tak becus dan korup.

Keterlibatan rakyat dan juga kebencian yang diperlihatkan warga masyarakat pada yang korup membuat siapa saja takut dan segan.

Harus lebih baik

Couchepin yang lahir di Martigny, Valais, pada 5 April 1942, ini punya karier politik panjang. Begitu diwisuda sebagai sarjana hukum dari Universitas Lausanne, dia langsung terjun ke politik sebagai anggota Dewan Komunal di Martigny pada tahun 1968.

Dia terpilih sebagai deputi wali kota Martigny pada tahun 1976 dan selanjutnya wali kota tahun 1984 hingga tahun 1998. ”Saya selalu berprinsip harus menjadi lebih baik dari sebelumnya, terutama pada akhir dari setiap jabatan saya,” ujar Couchepin soal hidup dan karier politiknya.

Prinsip ini yang membuatnya menanjak dan bergabung ke arena politik federal (nasional) tahun 1979, saat terpilih sebagai anggota Dewan Nasional mewakili Partai Demokratik Liberal (LDP). Dia menjadi ketua Fraksi LDP di parlemen sejak tahun 1989 hingga 1996. Dia juga menjabat ketua Komite Sains dan Riset pada Dewan Nasional.

Perjalanan mulus membawanya mencapai Dewan Federal (Pemerintahan Pusat) di Bern pada 11 Maret 1998. Couchepin menjabat menteri ekonomi sampai Desember 2002. Dari sana, Couchepin pun menjabat menteri dalam negeri yang bertanggung jawab atas jaminan sosial, kesehatan, pendidikan, perguruan tinggi, riset, dan budaya.

Sesuai dengan sistem konfederasi Swiss, di mana jabatan presiden bergilir di antara tujuh anggota Dewan Federal, maka Couchepin pun menjabat posisi tertinggi dalam pemerintahan Swiss itu tahun 2003. Pengalaman panjang dan padat dalam politik ini yang membuatnya paham benar jangan sekali-kali korup.

Misalnya, Couchepin berpesan agar pejabat atau tokoh selalu mengawasi orang-orang di sekitarnya. ”Karena ketika kita keras dan menolak sogokan, maka pihak penyogok akan datang ke orang-orang sekitar kita,” ujarnya.

Couchepin juga berbicara soal uang politik. Memberi uang pada seseorang saat kampanye bukan suatu uang politik jika uang tadi hanya cukup untuk makan dan minum dalam sehari. Lain halnya jika uang yang diberikan itu ternyata bisa untuk hidup dalam jangka panjang.

Begitu juga setiap pejabat di Swiss diingatkan hanya bisa menerima hadiah atau suvenir dengan nilai tak lebih dari 500 franc Swiss (sekitar Rp 400.000). ”Saya pernah mendapat suvenir terbuat dari emas. Ketika ditanya harganya sekitar 2 juta dollar AS. Segera saja suvenir tadi dikembalikan,” ujarnya saat berkunjung ke sebuah negara di Timur Tengah.

Diakuinya, perlu waktu untuk mengatasi korupsi. Bisa dua sampai tiga generasi. ”Di Rusia tindakan korupsi kini banyak berkurang karena para koruptor yang bersalah langsung dikirim ke Siberia. Menurut saya, Indonesia sudah mulai melakukan langkah pemberantasan korupsi yang cukup baik,” ujarnya. Artinya, harus dikirim juga ke ”Siberia”.

Ayah dari tiga anak ini pun terlihat begitu antusias ketika kepadanya diberikan sepasang wayang golek yang bercerita soal Rama dan Shinta. ”Ini tidak apa-apa, karena harganya masih jauh di bawah 500 franc,” ujarnya sambil tertawa lepas ketika diberi tahu harga wayang golek tadi kurang dari 10 dollar AS.

Sumber : Kompas, Sabtu, 29 Oktober 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks