Jun 25, 2009

Oneng Suhara Terus Meneliti

Oneng Suhara Terus Meneliti
Oleh : Yenti Aprianti

Kata-katanya terdengar polos dan penampilannya amat sederhana. Padahal, ia anggota tim pembuat roket pertama di Indonesia, pembuat lampu laser pertama untuk Belanda, dan kini menjadi peneliti untuk petani.

Hari Kamis (21/7/2005), Oneng Suhara (63), datang ke Kantor Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Bandung. Ia menemui teman-teman peneliti dan penyuluh lapangan di sana.

”Maaf ya, kepentingan pribadi harus didahulukan daripada kepentingan negara. Saya butuh sopir. Kalau kendaraan sih tinggal ambil di dealer,” candanya. Yang sesungguhnya, dia sudah mendapat pinjaman mobil dari teman lain yang bukan penjual mobil. Temannya, Darsono dari bagian keuangan di Batan, langsung bersedia menjadi sopirnya.

Dengan mobil dan ”sopir” pinjaman, ia pergi ke Subang, Jawa Barat, membeli 40 kilogram benih padi untuk ditanam di dua hektar sawah. Benih itu akan ia bagikan gratis kepada 20 petani di Pameungpeuk, Kabupaten Garut. Ia juga akan membagikan pupuk organik hasil penelitiannya.

Meneliti dan mengembangkan produk ia sebut sebagai candu dalam dirinya. Ahli instrumen gelas yang pensiunan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini amat pedih melihat kehidupan rakyat yang sengsara di Indonesia yang kaya sumber daya alam.

”Waktu saya kecil, rakyat antre beras dan minyak. Sekarang itu terulang lagi,” kata Oneng.

Kesengsaraan itu mengingatkannya pada serumpun padi yang ia cabut dari sawah dan ia tanam dalam ember bertanah kering. Padi itu tetap menghasilkan bulir. ”Ini menunjukkan, meski sengsara, kalau ada kemauan pasti bisa. Padi saja bisa,” paparnya tentang falsafah hidupnya.

Anak ke-10 dari 13 bersaudara dari ayah seorang lurah di Tamansari, Bandung, pada masa penjajahan Belanda ini dulu juga sengsara. Untuk sekolah ia tak punya uang. Beruntung, saat itu anak-anak masih disediakan sekolah gratis.

Tahun 1963 dia lulus dari Sekolah Ahli Instrumen Gelas (SAIG), setingkat sekolah menengah atas, milik Institut Teknologi Bandung. Untuk masuk SAIG ia harus bersaing dengan 900 anak, sementara tempat hanya tersedia untuk 12 orang. Pada tahun terakhir dia mendapat beasiswa dari Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia yang kelak berubah menjadi LIPI.

Dia lalu bekerja di Laboratorium LIPI. Tetapi, karena LIPI belum mempunyai laboratorium, ia bekerja membuat tabung reaksi di Jurusan Fisika Teknik ITB dan Laboratorium Kimia Balai Tekstil. Tahun 1964. Saat itu dia masuk dalam tim pembuat roket pertama Indonesia, Kartika I.

Baru pada tahun 1968 LIPI memiliki laboratorium dan ia mulai bekerja di laboratorium Instrumen Gelas. Dua tahun kemudian ia mendapat beasiswa belajar instrumen gelas di Technise Hoogerschool Eindhoven, Belanda.

Seharusnya masa studinya lebih dari setahun, namun baru sembilan bulan sudah selesai. Akhirnya ia sekolah lagi di Technise Hoogerschool Delft dan masuk dalam tim penelitian laser pertama di Belanda. Ia dipercaya membuat lampu laser pertama untuk Belanda.

Terus meneliti

Setelah pensiun dari LIPI tahun 1997, ia banyak berjalan ke pelosok daerah, terutama di Jawa Barat. Suatu hari, saat di Garut ia melihat seorang peternak memiliki sapi bertubuh subur karena diberi suplemen urea molasses multinutrient block, produk Batan yang membuat bobot sapi naik 0,7 kilogram per hari dibandingkan 0,3 dengan pakan biasa.

Oneng tertarik pada kotoran sapi yang cepat membusuk yang mengingatkannya pada teori makin banyak protein dalam sebuah zat, makin cepat busuk zat itu.

Ia pun mengajari peternak untuk memanfaatkan kotoran sapi berprotein tinggi itu sebagai kompos. Hasil penjualan kompos dapat dibelikan suplemen untuk sapi mereka sehingga mengurangi biaya pemeliharaan sapi. Untuk petani, ia kembangkan kompos itu dalam bentuk cair agar petani tidak mengeluarkan biaya angkut kompos.

Percobaannya membuat kompos cair sempat menjadikan berang istri dan anak-anaknya, sebab Oneng menggunakan alat pengering di mesin cuci untuk memeras kotoran sapi. Ia juga menggunakan blender dan mesin giling daging untuk membuat pelet ikan dan ayam dari kotoran sapi.

”Nanti kotoran sapi ini akan mengganti barang-barang itu jadi baru,” ujar Oneng tenang menghadapi kekesalan Ny Margaretha Puspitasari (68) dan lima anaknya. Kini, ia sudah betul-betul mengganti barang rumah tangga itu dengan yang baru dari hasil penjualan kompos.

Selain itu, Oneng juga menghasilkan serum pengusir hama tikus yang ia buat dari organ tubuh tikus karena tikus takut terhadap baunya sendiri.

Oneng sangat senang jika ada orang meminta ilmunya. Baginya, makin banyak orang yang bisa mandiri dalam memecahkan masalah dengan ilmu dan kejujuran, ia makin optimistis rakyat akan sejahtera.

Sumber : Kompas, Senin, 1 Agustus 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks