Jun 12, 2009

Nyong Muhammad Rajib : Om Nyong Lestarikan Seni Maluku

Om Nyong Lestarikan Seni Maluku
Oleh : Subhan SD

Demi melestarikan seni tari dan sastra lisan Maluku Utara, Nyong Muhammad Rajib tak malu berutang. Tanpa modal sekalipun, dia terus menabuh tifa atau memetik gambus agar generasi muda daerah itu tak melupakan seni tradisi para leluhur.

Ketika menyaksikan kesenian tradisional Maluku Utara makin tergilas, hati Nyong amat sedih. Apalagi, di pesta-pesta perkawinan orang lebih suka memutar kaset musik pop atau dangdut. Maka, di rumahnya yang amat sederhana di Kampung Afe, di balik Gunung Gamalama, Pulau Ternate, Nyong mengajak anak-anak yang masih remaja untuk belajar menari.

Lewat Sanggar Kie Raha Makaraba yang dibentuknya tahun 1989, Nyong melatih puluhan anak usia sembilan hingga belasan tahun. Di ruang tamu rumahnya yang berukuran 2 meter x 3,5 meter, anak-anak berlatih menari di antara meja-kursi tamu, meja tempat puluhan trofi/piala, televisi, serta tumpukan alat musik seperti tifa, gong, gambus. Meski terasa sempit, Nyong mampu mengumpulkan anak-anak dari tiga kampung: Afe, Tadoma, dan Dorpedo (kemudian dikenal sebagai Desa Aftador).

Menurut Nyong, tarian Maluku Utara antara lain lala, togal, danadana, tujuh putri, yang diiringi alat musik, memiliki gerakan yang dinamis. Tiga hal yang menjadi penilaian tari adalah birama (kesesuaian irama), wiraga (keserasian gerakan), dan wirata (keseimbangan dengan kostum). "Setiap gerakannya punya makna," kata ayah dua anak, Irsan dan Susintia, ini.

Pada masa silam, tarian itu ditampilkan dalam pesta rakyat, perkawinan, bahkan penobatan sultan. Tarian itu hidup sejak zaman empat kesultanan Maluku Utara: Ternate, Tidore, Jailolo, Bacan, beberapa abad silam.

"Budaya (tradisional) perlu kita kembangkan supaya adik-adik generasi muda tidak terlalu terpengaruh budaya luar," papar Nyong Muhammad Rajib yang juga menguasai sastra lisan (doro bololo), yaitu semacam pantun atau petuah yang sarat pesan-pesan agama.

Ada ungkapan indah yang selalu tersimpan di benaknya, yang menyemangati aktivitasnya saat ini, Kahia magam ngolo si iwaro ngolo ua, muleou magam banga si iwaro banga ua (Ikan hiu bertempat di laut, tetapi tidak tahu kedalaman laut, burung hutan tinggal di hutan, tetapi tidak tahu luasnya hutan).

"Intinya kira-kira, saya ini anak daerah atau anak asli Indonesia, tetapi kenapa saya tidak bisa menampilkan diri sebagai anak daerah," kata Nyong yang membuat sendiri alat musik seperti gambus dan suling.

Tak pungut bayaran

Mengajak melestarikan kebudayaan leluhur itu saat arus modernisasi menembus bilik-bilik kampung bukanlah perkara gampang. Tetapi, Nyong tak mau menyerah. Selama ada anak muda Maluku Utara yang mau mempertahankan tradisi itu, buatnya sudah lebih dari cukup.

Karena itu, dia tak minta bayaran, bahkan iuran bulanan sekalipun untuk mereka yang aktif di sanggarnya. "Kalau disuruh bayar, nanti mereka malah pergi," kata lelaki yang biasa disapa "Om Nyong" ini.

Pada setiap pentas atau lomba, Nyong selalu berpikir ekstra agar bisa mengumpulkan dana, minimal buat transportasi atau konsumsi penari. Biasanya, untuk biaya sekali tampil dibutuhkan dana Rp 300.000 hingga Rp 350.000. Padahal, kalaupun menang, hadiah yang diperoleh tak sepadan dengan jumlah pengeluaran.

"Biasanya saya bilang ke orangtua mereka, barangkali ada yang mau menyumbang. Kalau tidak ada, tak apa-apa, saya cari sendiri. Kalau saya tidak punya uang, ya, ngutang dulu. Kendaraan (transportasi) akan saya bayar kalau sudah punya uang," ungkap lelaki kelahiran Ternate, 2 September 1965, ini.

Itu artinya, seusai pentas, dia segera merampungkan anyaman keranjang bambu (biti) yang menjadi mata pencariannya sehari-hari. Dalam tiga hari dia bisa menyelesaikan lima keranjang seharga Rp 30.000-Rp 35.000 per buah. Setelah barangnya laku, sebagian uang digunakan untuk melunasi utang, sebagian lagi diberikannya kepada sang istri, Noni, untuk biaya sehari-hari.

Dia terpaksa mencari dana dengan caranya sendiri setelah berbagai upaya donasi tak kunjung tiba, selain dari kepala desanya sebesar Rp 100.000 dan Wali Kota Ternate Syamsir Andili senilai Rp 5 juta tahun 2003. Dengan uang itulah akhirnya dia membeli peralatan seperti tifa, gong, amplifier, loudspeaker, juga kostum.

Dia juga bisa membagikan "honor" kepada para penari ciliknya dengan uang bantuan yang dia terima, yaitu berupa uang buku dan pena karena mereka masih bersekolah. Selain itu, Rp 1 juta ia sumbangkan ke masjid.

Buruh dan berkebun

Nyong mengaku darah seni mengalir dari orangtuanya, almarhum Muhammad dan Deis, yang penari dan budayawan. Tak heran sejak muda Nyong sudah tampil sebagai penari. Tetapi, sejak akhir tahun 1980-an, setelah membentuk sanggar, dia hanya bertindak sebagai pelatih.

Sanggar yang dikelola bersama anak-anak dan warga desa itu nyaris tak menonjol. Meski jaraknya kira-kira 15 kilometer dari Kota Ternate, Desa Aftador seperti tersembunyi di pesisir pantai di balik Gunung Api Gamalama (1.715 meter). Di rumah itu tersimpan puluhan trofi dan piagam penghargaan. Sebagai seniman, Nyong mahir memainkan alat-alat musik tradisional, seperti gambus, suling, tifa, dan gong. Sebaliknya, ia mengaku kurang menguasai alat musik modern.

Melatih menari dan melantunkan sastra lisan dilakoninya di antara pekerjaan membuat keranjang, menjadi buruh kasar harian, atau menanam sayur di lahan milik orang lain—semua dia lakukan agar bisa survive.

"Dari semua itu saya menghidupi keluarga sekaligus sanggar seni ini agar kebudayaan Maluku Utara tidak mati," ungkap alumnus Sekolah Pendidikan Guru Agama yang ijazahnya hangus terbakar pada saat konflik sosial tujuh tahun silam itu.

Sumber : Kompas, Jumat, 15 September 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks