Jun 12, 2009

Nursamsi Pelestari Musik Blas

Nursamsi Pelestari Musik Blas
Oleh : Emilius Caesar Alexey

Tujuh pemusik yang rata-rata berumur di atas 50 tahun langsung memainkan nada-nada pada tempo di marcia dalam harmoni lagu Maju Tak Gentar, saat seorang pejabat lokal mengunjungi Pulau Lepar, di selatan Pulau Bangka. Harmoni musik tiup dan tabuh itu terdengar rancak sehingga membangkitkan gairah semua warga yang berkerumun menyambut sang pejabat.

Lagu-lagu nasional terus diperdengarkan mengiringi kedatangan rombongan di Desa Tanjung Labuh, bagian barat Pulau Lepar. Uniknya, lagu-lagu itu diisi dengan variasi-variasi cengkok Melayu yang khas.

Bagi masyarakat Pulau Bangka, yang menjadi salah satu pulau induk di provinsi muda itu, kelompok musik tersebut mungkin hanya dianggap sebagai kumpulan seniman desa. Tetapi, bagi masyarakat Pulau Lepar, kelompok kesenian musik blas adalah napas seni tradisi mereka.

"Tidak boleh ada pernikahan atau hajatan lainnya tanpa hiburan musik blas. Sebab musik blas merupakan sebuah kesenian pelengkap dan wajib bagi warga Pulau Lepar," ungkap Nursamsi, pemimpin kelompok kesenian musik blas.

Kesenian musik blas adalah perpaduan alat-alat musik tiup modern dan perkusi. Alat musik tiup yang digunakan itu yakni terompet, klarinet, seruling, tenor, dan bass trombone. Sedangkan perkusi yang digunakan adalah tambur dan tanjidor.

Warisan kolonial

Kesenian musik blas sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Kolonialis mengajari penduduk Pulau Lepar bermain musik untuk menghibur mereka. Kemudian pada masa penjajahan Jepang, Jepang melestarikan kesenian ini dan memberikan nama blas sebagai nama pembeda dari jenis kesenian musik lainnya.

Musik itu diajarkan turun-temurun. Namun, seiring berjalannya waktu, musik blas mulai kehilangan para pemainnya. Lebih parahnya, para pemain yang memiliki bakat alam tersebut hanya mampu memainkan alat musik tertentu dan tidak mengerti notasi nada sehingga tidak ada yang mampu menyelaraskan semua alat musik.

Kekhawatiran itu muncul sejak tahun 1980-an ketika generasi pemusik pertama yang hidup pada zaman penjajahan Belanda sudah habis. Tidak ada lagi yang mempersatukan para pemusik yang tersisa.

Beruntung kesenian musik blas masih dapat dipertahankan ketika Nursamsi pulang lagi ke kampung halamannya pada tahun 1997, setelah merantau selama sembilan tahun di berbagai wilayah. Nursamsi berhasil menciptakan lagi harmoni musik blas, dan terus menyemangati anggota yang tersisa untuk tetap berkesenian.

Nursamsi sebenarnya juga merupakan warga Pulau Lepar, dari Desa Tanjung Labuh. Seperti layaknya anak kecil di desanya, Nursamsi juga belajar kesenian musik blas dari orangtuanya.

Beruntung bagi Aci—nama panggilan Nursamsi—karena ayahnya adalah penjaga SD di desanya sehingga dia berkesempatan untuk mencoba semua jenis alat musik yang dititipkan di SD itu. Pria kelahiran 29 Oktober 1949 ini juga sempat mendapat pendidikan not balok dari seorang guru musik bernama A Rahman, yang khusus didatangkan dari Baturusa, Bangka, untuk mengajar kesenian.

Di penjara

Bermain musik, bagi pemuda desa saat itu, tidak dapat mendatangkan penghidupan yang layak. Oleh karena itu, Nursamsi memutuskan merantau ke Belitung.

Pengalaman menarik didapatkan ketika dia merantau ke pulau ini. Karena sebuah perkelahian, Nursamsi terpaksa mendekam di penjara Tanjung Pandan. Saat di penjara, dia sering memainkan alat musik tiup yang ada.

Kemahirannya bermusik membuatnya terkenal, mulai di antara para narapidana sampai ke para pejabat Belitung. Bahkan, pemimpin Angkatan Udara (AU) di Tanjung Pandan sempat memintanya melatih tim musik AU untuk perayaan 17 Agustus. Sebagai balas jasanya, masa hukuman Nursamsi dipersingkat oleh pemerintah.

Nursamsi kemudian merantau ke berbagai kota di Jawa dan mendapatkan berbagai pengalaman. Kemampuan bermusiknya semakin terasah setelah bertemu dengan banyak seniman di berbagai kota.

Di perantauan, Nursamsi yang flamboyan mempunyai sembilan istri dan sepuluh anak. Namun, seluruh pernikahannya kandas meskipun akhirnya mereka tetap berhubungan baik.

Pada tahun 1997, jiwanya sebagai anak pulau membuat Nursamsi kembali lagi ke Desa Tanjung Labuh, Pulau Lepar. Di kampung halamannya itu, dia melihat bahwa kesenian blas sudah hampir punah. Tidak ada lagi yang dapat mengatur harmonisasi setiap alat musik dan tidak ada pemusik-pemusik baru. Kesenian musik blas juga mulai ditinggalkan karena kurang sedap didengarkan.

"Ketika saya pulang, permainan musik blas sungguh tidak nyaman didengar. Tidak ada harmonisasi dan terasa tidak ada yang mampu memimpin kekompakan paduan bunyi," papar Nursamsi.

Ia kemudian mengumpulkan lagi para pemusik kesenian blas yang masih hidup dan kuat bermain musik. Kebanyakan dari antara mereka adalah orang-orang yang sudah tua, yang pertama kali belajar musik itu pada tahun 1950-an sampai 1960-an, dari orangtua mereka.

Nursamsi mulai mengajarkan sekitar 15 judul lagu untuk dihafalkan dan dimainkan bersama. Beberapa lagu itu adalah lagu-lagu perjuangan dan lagu pop melayu sepanjang masa, seperti Ayam Hitam dan Lajang Kawin.

"Saat ini, musik blas sudah kembali diterima oleh masyarakat sebagai bagian integral dalam budaya mereka. Tidak ada acara hajatan, baik kecil maupun besar, yang tidak menggunakan kesenian musik blas sebagai hiburan," kata Nursamsi.

Sumber : Kompas, Kamis, 14 September 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks