Jun 12, 2009

Michael Schumacher : Senja Kala Era Schumacher

Senja Kala Era Schumacher
Oleh : A Tomy Trinugroho

Grand Prix Italia akhir pekan lalu tak pelak mengawali hari-hari terakhir sebuah era di ajang Formula Satu atau F1. Kurang dua bulan lagi, Michael Schumacher akan meninggalkan olahraga balap mobil yang telah membesarkan sekaligus dia besarkan itu.

"Kata-kata tak lagi cukup. Apa pun yang saya katakan tak bisa menggambarkan besarnya cinta saya kepada olahraga ini dan apa yang telah diberikan kepada saya. Saya sangat berterima kasih atas apa yang telah saya dapatkan," ungkap Schumacher penuh emosi saat mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pembalap F1 dalam jumpa pers GP Italia di Monza.

Pria kelahiran Jerman 37 tahun silam ini merupakan pembalap F1 paling sukses. Juara dunia Fernando Alonso meragukan ada pembalap di masa datang yang bisa menyamai 90 kemenangan Schumacher selama 15 tahun berkarier.

Karier Schumacher diawali tahun 1991 ketika secara dadakan menggantikan pembalap Jordan, Bertrand Gachot, pada GP Belgia. Gachot tak bisa berlomba karena dipenjara akibat menyemprotkan gas air mata ke pengemudi taksi di London, Inggris.

Kala itu, manajer Schumacher, Willie Weber, berhasil meyakinkan bos tim Jordan, Eddie Jordan, bahwa Schumacher mengakrabi Sirkuit Spa. Padahal, Schumacher baru satu kali mengelilingi sirkuit itu, yang dilakukan hanya dengan sepeda pinjaman.

Schumacher merebut posisi start ketujuh. Namun, saat satu lap lomba belum habis, ia berhenti akibat kerusakan kopling.

Manajer tim Benetton, Flavio Briatore, melihat potensi besar Schumacher. Briatore mengajaknya bergabung dengan Benetton di sisa seri pada musim 1991.

Setahun kemudian, di Belgia, Schumacher merebut kemenangan pertamanya di ajang F1. Pada tahun 1994, bertepatan dengan tahun kematian pembalap legendaris Ayrton Senna, Schumacher menggondol gelar juara dunia untuk pertama kalinya.

Kematian Senna menandai berakhirnya sebuah era. Namun, kemunculan Schumacher sebagai juara dunia juga mengawali era baru, era Schumacher.

Keberhasilan Schumacher menjadi juara dunia pertama kalinya tak berlangsung "mulus". Kontroversi besar menaunginya. Unggul satu poin dari Damon Hill, Schumacher memastikan gelar juara dunia dalam balapan di Australia setelah bertabrakan dengan Hill. Tabrakan itu dinilai sengaja dilakukan Schumacher. Setahun kemudian, Schumacher mampu mempertahankan gelar juara dunia.

Tahun 1996, Schumacher melakukan langkah berani dan penuh risiko. Ia hijrah ke Ferrari. Padahal, tim berbasis di Italia itu belum pernah menjadi juara selama 20 tahun terakhir.

Setahun pertama, Schumacher merasakan mobil yang tidak andal dan susah dikendalikan. Namun, ia mampu merebut tiga kemenangan.

Kontroversial

Kontroversi menghampiri Schumacher lagi pada tahun 1997. Kala itu ia unggul satu poin atas Jacques Villeneuve menjelang balapan terakhir di Jerez. Saat balapan, Schumacher menabrak Villeneuve yang tengah mencoba menyalipnya. Schumacher gagal finis, sedangkan Villeneuve finis ketiga walau mobilnya rusak.

Buntutnya, Schumacher didiskualifikasi. Federasi Otomobil Internasional (FIA) beralasan Schumacher sengaja menabrak.

Pada tahun 1998, Schumacher gagal merebut gelar juara dunia walau mengantongi enam kemenangan. Setahun kemudian, harapan menjadi juara dunia kembali sirna karena cedera akibat kecelakaan hebat di GP Inggris.

Baru pada tahun 2000, Schumacher merebut gelar juara dunia ketiga kalinya. Dominasi Schumacher berlangsung hingga 2004. Selama periode keemasan itu, ia minimal mengantongi enam kemenangan, yakni di musim 2003, dan paling banyak 13 kemenangan di musim 2004.

Periode keemasan dilalui Schumacher tidak dengan "mulus". Kontroversi menghampirinya tahun 2002. Rekan satu tim Schumacher, Rubens Barichello, diperintah tim memberi kesempatan kepada Schumacher untuk menyalip sehingga memenangi balapan di Austria. Sejak itu, team order, perintah tim kepada seorang pembalap untuk memberi kesempatan kepada rekannya, secara tegas dilarang.

Musim 2005 berisikan kisah kelabu Ferrari dan Schumacher. Tim ini hanya mengantongi satu kemenangan. Setelah mengawali musim 2006 dengan tertatih-tatih, Ferrari dan Schumacher terus mengilap sejak sekitar pertengah musim. Besar kemungkinan ia bisa merebut gelar juara dunia kedelapan kalinya.

Kontroversi tetap menghampiri Schumacher di musim terakhirnya sebagai pembalap F1. Di Monako, ia dihukum start dari deret paling belakang karena sengaja menghentikan mobil saat sesi kualifikasi berlangsung. Aksinya memaksa pembalap lain mengurangi kecepatan.

Pembalap hebat versus pembalap tanpa etika. Itulah penilaian seputar Schumacher. Dua pendapat ekstrem tersebut tak bisa dielakkan.

Namun, di luar urusan balap, putra pengelola sirkuit karting di Jerman, Rolf, ini jauh dari kontroversi. Tak diragukan dia sangat mencintai keluarga. Schumacher begitu melindungi istrinya, Corinna Betsch, dan dua anaknya, Gina Maria (9) dan Mick (7), dari publikasi media. Mereka menetap penuh kedamaian di Swiss.

Schumacher menggemari sepak bola, dan aktif dalam klub Echichens. Ia menjauhi pesta pora yang biasanya tak asing bagi orang sekaliber Schumacher.

Pria kelahiran 3 Januari 1969 di Hurt Hermulheim, Koln, itu berpenghasilan 80 juta dollar AS per tahun. Namun, dia juga senang menolong. Schumacher mendonasikan 10 juta dollar AS bagi korban tsunami di kawasan Asia tahun lalu. Dalam bencana itu, pengawal Schumacher, Burkhard Cramer dan dua anaknya tewas Thailand.

Schumacher yang mencicipi gokart pada usia tiga tahun aktif dalam kampanye keselamatan berlalu-lintas. Ironisnya, keterlibatanya dalam kampanye itu diawali setelah insiden di Jerez tahun 1997. Sebagai bagian dari hukuman FIA, Schumacher ditugasi mendorong perbaikan keselamatan di jalan raya.

Setelah musim 2006 berakhir, Schumacher mungkin masih akan sering ditemui dalam berbagai kegiatan sosial atau amal. Namun, ia tidak lagi ditemui berada di dalam kokpit mobil F1 dengan wajah tegang.

Sumber : Kompas, Rabu, 13 September 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks