Jun 28, 2009

Nane Annan-Lagergren : Nane Annan dan Dukungan Hadapi AIDS

Nane Annan dan Dukungan Hadapi AIDS
Oleh : Agnes Aristiarini

KONFERENSI Asia-Afrika (KAA) baru saja usai. Tak ada perubahan berarti dalam pertemuan para pemimpin dunia yang kebanyakan dari negara berkembang itu karena bahasan utamanya tak jauh dari politik dan ekonomi. Nyaris tak terdengar adanya upaya kerja sama di bidang pendidikan, kesehatan, apalagi pemberdayaan perempuan.

PADAHAL, Human Development Index (HDI) yang mengukur keberhasilan suatu negara menyejahterakan rakyatnya justru menggunakan tingkat pendidikan, kesehatan, maupun kesetaraan jender sebagai bagian dari parameter utamanya. Lebih ironis lagi, banyak negara Afrika dan Asia yang peringkat HDI-nya rendah, termasuk Indonesia.

Kalaupun ada perhatian ke bidang-bidang yang masih marjinal tersebut, itu lebih ke minat pribadi yang belum dikaitkan dengan agenda KAA secara keseluruhan. Demikian pulalah yang terjadi dengan kunjungan Nane Annan, istri Sekjen PBB Kofi Annan, yang Sabtu (23/4/2005) siang sempat menengok Spiritia. Ini suatu lembaga nonpemerintah yang memberi dukungan kepada mereka yang hidup dengan HIV/AIDS secara luas, termasuk keluarga, pasangan, maupun teman-temannya.

Kunjungannya sungguh singkat karena harus diselipkan di antara acara protokoler, termasuk jamuan makan siang yang molor hingga dua jam. Dalam pertemuan yang "sepi"-jauh dari sorotan media dan hanya didampingi lembaga PBB untuk menanggulangi AIDS (UNAIDS)-Nane menyebut Spiritia sebagai rumah yang sarat warna dan spirit dalam perjuangan antidiskriminasi.

Lalu matanya mendadak berkaca-kaca dan suaranya tersekat ketika menceritakan pertemuannya dengan orangtua Suzana Murni, pendiri Spiritia yang menutup mata tahun 2002 pada usia 30 tahun. "Sungguh mengagumkan melihat bagaimana mereka mendukung penuh putrinya, termasuk saat Suzana membuka status dirinya di depan publik. Saya selalu terharu kalau ingat mereka bilang bahwa putrinya selalu bisa pulang ke rumah setiap saat, apa pun yang terjadi," katanya.

NANE Annan-Lagergren, yang menikah dengan Kofi Annan tahun 1984, memang tertarik dengan isu-isu kemanusiaan, terutama perempuan, anak-anak, dan HIV/AIDS. Perempuan Swedia yang tadinya adalah pengacara komisi tinggi PBB untuk pengungsi (UNHCR) ini hidupnya berubah drastis sejak suaminya diangkat menjadi Sekjen PBB tahun 1996.

Ia berhenti dari pekerjaannya dan melupakan hobi melukisnya karena sering bepergian mendampingi Annan dan mengunjungi proyek-proyek PBB di berbagai negara. Namun, semua tak sia-sia.

Pertemuannya dengan berbagai kegiatan kemanusiaan membuka matanya akan berbagai ketimpangan yang masih terjadi, dari kemiskinan hingga ketidakadilan terhadap hak-hak perempuan dan anak-anak. Ketika mengunjungi rumah sakit yang merawat pasien HIV/AIDS dan bertemu dengan mereka yang terinfeksi, ia menyadari bahwa masalah kesehatan pun bisa memicu stigmatisasi dan diskriminasi.

Maka Nane pun belajar mengupayakan berbagai cara untuk mendukung perjuangan mereka yang hidup dengan HIV/AIDS. "Saya sadar posisi saya sebagai istri Sekjen PBB. Mungkin saya bisa membantu dengan memberi perhatian, bertemu dengan para istri pemimpin negara yang saya temui untuk mengingatkan masalah itu," kata ibu tiga anak ini.

Sabtu sore, dalam pertemuannya dengan media yang terbatas, ia menceritakan keprihatinannya atas meningkatnya kasus-kasus HIV/AIDS pada perempuan, terutama di kawasan Asia dan Afrika. "Saya memahami bahwa perempuan terinfeksi karena posisi mereka yang belum setara. Perempuan belum dilihat sebagai orang yang paling rentan di seluruh dunia," jelasnya.

Karena itu, Nane senang sekali ketika berbincang dengan Ny Kristiani Yudhoyono dan menemukan bahwa istri Presiden Indonesia itu menyadari adanya permasalahan serupa di negerinya. Ia berharap kesadaran ini bisa memicu berbagai implementasi yang mempercepat penghapusan stigma dan diskriminasi bagi yang terinfeksi HIV/AIDS.

"Perempuan juga manusia, baik yang tertular maupun tidak. Adalah tugas kita bersama untuk mendukung mereka mendapatkan hak-haknya dan menanggulangi masalahnya. Mengutip ucapan suami saya, maka pemberdayaan perempuan adalah strategi terbaik untuk memperbaiki masa depan dunia," tegas Nane yang didampingi penasihat program UNAIDS untuk Indonesia Jane S Wilson PhD dan Frika Iskandar dari Asia Pacific Network of People Living with HIV/AIDS.

DATA UNAIDS menunjukkan, jumlah perempuan yang terinfeksi HIV/AIDS terus meningkat di berbagai kawasan. Kalau pada awal epidemi ini jumlah laki- laki yang terinfeksi jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan, maka sejak tahun 1998 proporsi perempuan dengan HIV/AIDS meningkat menjadi 41 persen.

Sejak tahun 2002, peningkatan paling tajam terjadi di kawasan Asia Timur yang selama dua tahun telah naik 56 persen, diikuti kawasan Eropa Timur dan Asia Tengah dengan 48 persen. Kini perempuan dewasa yang terinfeksi HIV/AIDS hampir 50 persen, bahkan di Sub-Sahara Afrika mendekati 60 persen.

Masalah ini masih ditambah lagi dengan jutaan kaum muda yang masuk periode seksual aktif namun tidak memiliki akses untuk upaya pencegahannya. Tidaklah mengherankan bila di kawasan Sub-Sahara Afrika saja, 76 persen remaja perempuan berusia 15-24 tahun yang terinfeksi HIV/AIDS. Penelitian sudah membuktikan bahwa remaja perempuan tiga kali lebih rentan tertular HIV/AIDS dibandingkan dengan remaja laki-laki pasangannya.

Maka Nane terus mengajak para perempuan di seluruh dunia untuk memberdayakan kaumnya. "Tidak ada jalan lain. Anak perempuan harus terus bersekolah, mampu memutuskan sendiri apa yang mereka inginkan, bisa mengatakan tidak bila diperlukan, dan tahu cara menyiasati lingkungan yang belum mendukung," tuturnya.

Sebagai istri Kofi Annan, barangkali dalam pertemuan-pertemuan internasional selanjutnya Nane juga bisa menyarankan kepada pihak protokoler untuk memasukkan kunjungan ke berbagai kegiatan kemanusiaan dalam "ladies program" para istri pemimpin negara-yang lebih sering diisi acara belanja. Sebagai ahli hukum yang biasa bernegosiasi, ini tentu bukan tugas sulit baginya. (Agnes Aristiarini)

Sumber : Kompas, Selasa, 26 April 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks