Jun 28, 2009

Mukarim, Mengubah Cibiran Jadi Ucapan Syukur

Mukarim, Mengubah Cibiran Jadi Ucapan Syukur
Oleh : Gesit Ariyanto

SEPOTONG subuh pada tahun 1999 adalah jawaban kegelisahan Mukarim (57) sejak sepuluh tahun sebelumnya. Subuh itu gelombang pasang Pantai Penunggul, Pasuruan, Jawa Timur, yang selalu menyisakan lumpur di lantai tanah rumahnya tak lagi datang. Padahal, biasanya lumpur setinggi mata kaki setia menyambutnya begitu turun dari tempat tidur. "Semenjak itu enak tidur saya," kenang ayah tujuh anak tersebut.

MUKARIM adalah nelayan kecil di desa pesisir bergaris pantai 21 kilometer. Ia meraih penghargaan Kalpataru 2005 Kategori Perintis Lingkungan. Rumahnya yang berdiri sekitar seratus meter dari bibir pantai Penunggul, perlahan tetapi pasti akan habis dilahap gelombang.

Setiap hari bersama istrinya Satuha (52), ia memandang cemas abrasi yang terus berlangsung. "Kalau tanah yang hanya 9 x 7 meter itu hilang, mau ke mana kami tinggal?" katanya.

Sehari-hari ia gundah. Setiap hari, dari subuh hingga menjelang terik, ia setia menanti rajungan terjerat jaring yang ditebar dari perahu bertenaga 4,5 PK. Namun, penghasilannya tak pernah sisa. Bahkan, lebih sering kurang dari cukup.

Dengan perahu itu, ia mengarungi laut hingga Pulau Madura. Bahan bakar solar sepuluh liter yang dibelinya dengan berutang sering tak lunas dibayarnya. Setiap hari pula istrinya harus membersihkan lantai rumahnya dari lumpur yang terbawa pasang laut.

Di tengah segala impitan ekonomi dan kerusakan lingkungan yang mengancam hidupnya, Mukarim yang hanya berpendidikan sekolah rakyat itu menemukan penyebab ganasnya gelombang ke pantai, yaitu hancurnya ekosistem mangrove.

Ia tak paham apa itu ekosistem dan kegunaan mangrove. Yang ia tahu, tanahnya terancam gelombang air pasang setiap saat, sementara kawasan pesisir lain dengan pepohonan rimbun aman dari abrasi, seperti yang dilihatnya di pesisir Probolinggo, lima kilometer dari desanya.

POHON tinjang atau api-api, sebutan masyarakat lokal untuk bakau atau mangrove, menjadi jawaban kegundahan hati Mukarim. Tahun 1986 ia mulai mencari bibit tinjang hingga ke pesisir Probolinggo.

Namun, upaya pertamanya gagal. Bibit yang ditanamnya tak juga memunculkan tunas karena terlalu muda. Ia tak putus asa. Mendengar kabar banyak biji tinjang terbawa arus ke tengah laut, ia mencoba memburunya. Akhirnya lima biji tinjang yang sudah tua ia temukan.

Subuh hari ketika air surut, ia kembali ke pantai. Ia menggali pasir hingga 15 sentimeter dan menanam biji tinjang dengan penguat bambu. "Biar enggak kentir (terbawa arus)," ungkapnya.

Dua bulan kemudian tinjang tumbuh subur dan akarnya mulai menjalar. Hari-hari berikutnya, seusai melaut, Mukarim dan Satuha tekun mengikuti arus pasang untuk berburu biji tinjang. Tahun 1987 mereka berhasil menanami satu hektar lahan dengan 5.000 biji. Tanpa bantuan tetangga.

Mereka terus menanam sekalipun dicap "gila" oleh masyarakat sekitar. Tanpa peduli, tinjang demi tinjang terus ditanam dan dirawat. Bahkan, mereka rela "mengerik" satu per satu tinjang yang tertempeli tiram agar batang tak tumbang.

Cibiran dan komentar miring tak pula membuat sakit hati. Bahkan, ada tetangga yang menuduh ia menerima honor dari pemerintah daerah hingga rela berpanas- panas setiap hari. Padahal, semua dilakoni dengan modal sendiri. "Kalau sakit hati, saya tidak bisa menanam lagi. Usaha jadi sia-sia. Biar saja," kata dia.

Baru tahun 1989 datang petugas-yang ia sendiri tidak ingat lagi dari dinas apa-memberi bantuan 3.000 bibit. Petugas itu menyarankan membuat pembibitan lebih dulu dengan polyback. Tak kurang akal, Mukarim pun memanfaatkan plastik bekas gula pasir.

Lalu ia pun menyisihkan penghasilannya yang pas-pasan untuk membeli polyback Rp 15 per lembar. Ia menolak tawaran bibit lagi karena merasa kerepotan merawat. Katanya, jenis tinjang baru bisa dikatakan berhasil tumbuh setelah usia tanam dua-tiga tahun.

KINI kegigihan dan ketekunan merawat tinjang terbayar dengan hamparan hijau mangrove seluas 58,1 hektar berketebalan 871 meter di Pantai Penunggul. Abrasi pun terhambat.

Hasil kerja keras Mukarim sekeluarga ternyata juga mengubah nasib nelayan. Cibiran warga berubah menjadi ungkapan syukur. Tak perlu lagi jauh melaut menghabiskan puluhan liter solar, beragam biota laut dengan mudah ditangkap.

Maklum, ekosistem mangrove yang dirintis sejak 19 tahun silam menjadi hunian favorit rajungan, kepiting, ikan belanak, kerang, dan udang. Pada musim tangkap Mukarim rata-rata menangkap 10 kilogram rajungan per hari seharga Rp 20.000 per kilogram.

Musim paceklik, Mei-November, setidaknya dua kilogram rajungan dengan harga Rp 30.000-an per kilogram dapat dibawa pulang. Ia pun hanya butuh waktu dua jam melaut. "Dulu dapat seribu saja susah," urainya.

Dulu pula, untuk menghidupi keluarga di musim paceklik, para nelayan kecil harus mengadu nasib ke Tulungagung atau Jember, menjadi anak buah kapal nelayan yang lebih besar.

Kini semua tinggal cerita masa lalu. Di Penunggul, Kecamatan Nguling, pendapatan nelayan kini meningkat. Ditandai dengan bertambahnya jumlah perahu menjadi 60 buah (2005) dari sebelumnya yang hanya tiga buah (1986). Hasil tangkapan menjadi 285,6 ton (2004), sedangkan tahun 1996 hanya 24,8 ton.

Di Penunggul pun kini dijumpai para penjual wuwu (alat tangkap rajungan dan kepiting) dan perajin perakit senar jaring. Ada pula pengumpul rajungan sehingga nelayan tak perlu jauh-jauh menjual hasil tangkapannya.

PENGHARGAAN Kalpataru yang diterima Mukarim dan beberapa pejuang lingkungan lain di Istana Cipanas, Jawa Barat, mengukuhkan kepedulian mereka pada lingkungan.

Bagi Mukarim, penghargaan tak membuatnya lupa diri. Ditemui di rumah dinas Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar, ia berujar tak pernah berangan-angan bisa bertemu Presiden atau menteri untuk makan bersama. "Saya malah tiga hari enggak bisa tidur di hotel, enakan di gubuk kerja saya," kata dia sambil tertawa.

Di Penunggul gubuknya telah terbebas lumpur air pasang. Tinjang-tinjang yang kian melebat juga membawa kemakmuran. Maka Kalpataru pun ia dedikasikan bagi warga desa, yang dulu mencibirnya. (GESIT ARIYANTO)

Sumber : Kompas, Jumat, 10 Juni 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks