Jun 21, 2009

Mohamed ElBaradei dan Hadiah Nobel Perdamaian

ElBaradei dan Hadiah Nobel Perdamaian


Bahkan sampai saat terakhir menjelang pengumuman resmi pemenang Nobel Perdamaian pada hari Jumat pukul 11 di Oslo (pukul 16.00 WIB), orang belum juga mengetahui siapa penerimanya tahun ini. Komite Nobel Norwegia tahun ini memang lebih berahasia, setelah dua tahun berturut-turut ada kebocoran mengenai pemenang beberapa saat sebelum pengumuman.

Walau nama-nama seperti pemusik Bono dari band U2 dan Bob Geldoff sempat dibicarakan, namun para pengamat umumnya sepakat bahwa hadiah Nobel Perdamaian tahun ini akan diberikan pada individu atau kelompok yang bekerja memerangi proliferasi persenjataan nuklir. Oleh karena selama setahun ini fokus internasional pada isu itu, terutama karena perundingan sulit di Iran dan Korea Utara serta gagalnya upaya untuk menghidupkan kembali traktat nonproliferasi.

Karena itu, ketika komite mengumumkan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan ketua badan itu, Mohamed ElBaradei, sebagai pemenang Nobel Perdamaian tahun ini, orang tidak terkejut. Mereka adalah satu dari tiga favorit menurut televisi Norwegia, NRK. Televisi ini selama dua tahun tepat meramalkan hadiah itu akan diberikan kepada tokoh lingkungan Kenya Wangari Maathai tahun 2004 dan pengacara HAM Iran Shirin Ebadi tahun 2003.

Favorit lainnya di antara 199 kandidat itu, menurut NRK, adalah dua Senator AS, Richard Lugar dan Sam Nunn, inisiator sebuah proyek perlucutan senjata di bekas Uni Soviet, dan Nihon Hindankyo, sebuah organisasi Jepang yang terdiri dari para korban bom atom Hiroshima dan Nagasaki.

Diplomasi dan verifikasi

Mohamed ElBaradei adalah mantan diplomat Mesir yang bergabung dengan IAEA tahun 1984 dan memegang serangkaian jabatan penting dalam organisasi itu sebelum menjadi ketua dengan sebutan direktur jenderal dari badan itu 13 tahun kemudian.

Lahir di Mesir tahun 1942, ElBaradei belajar ilmu hukum di Universitas Cairo dan mendapat gelar sarjana hukum tahun 1962. Kariernya di Kementerian Luar Negeri Mesir dimulai tahun 1964, dan dia bekerja di misi tetap Mesir di PBB di New York dan di Geneva. Tahun 1974 dia menerima gelar doktor ilmu hukum dari Universitas New York, tempat dia kemudian mengajar.

Dia menikah dengan Aida Elkachef, guru taman kanak-kanak, dan memiliki dua anak, Laila (pengacara) dan Mostafa (bioteknolog).

Sejak mengambil alih tugas dari diplomat Swedia Hans Blix tahun 1997, Dr ElBaradei telah menggunakan diplomasi untuk menangani pertikaian nuklir mengenai Irak, Korea Utara, dan Iran, serta menegaskan bahwa bahkan di situasi-situasi yang paling sulit pun kemajuan bisa dibuat.

Verifikasi dan diplomasi bila digunakan bersama, dapat menghasilkan, katanya.

Kala inspeksi disertai otoritas yang memadai, dibantu oleh semua informasi yang tersedia, didukung oleh mekanisme pematuhan yang dapat dipercaya, dan didukung oleh konsensus internasional, sistem verifikasi dapat berjalan, kata ElBaradei.

Lembaganya, IAEA, adalah badan PBB pengawas nuklir, yang mendorong penggunaan damai energi atom sekaligus berusaha menjamin bahwa teknologi itu tidak dimanfaatkan untuk keperluan militer.

Badan itu tidak mempunyai otoritas untuk bertindak sendiri, melainkan mengandalkan kemauan negara-negara untuk bekerja sama dengannya, atau mengandalkan mandat PBB.

ElBaradei dianggap telah memimpin lembaga itu untuk tampil dari sebuah lembaga tak jelas yang memonitor tempat-tempat nuklir di seluruh dunia menjadi sebuah lembaga penting dalam perkembangan persenjataan nuklir dan upaya perlucutannya itu.

Jubir IAEA Melissa Fleming mengatakan, mendamaikan kepentingan 139 negara anggota akan tidak mungkin tanpa kepemimpinan ElBaradei. Sedangkan Deputi Direktur IAEA David Waller yang telah bekerja bahu-membahu dengan ElBaradei selama hampir dua dekade, menyebut rekannya obyektif dan adil.

Dia sangat pandai dan kalau Anda menggabungkan itu dengan sikap adil, Anda mendapatkan seorang pemimpin yang besar, kata Waller.

ElBaradei sempat dicegat oleh sikap AS yang menentang pencalonannya untuk masa jabatan ketiga karena menganggapnya terlalu lunak pada Iran. Namun, itu berakhir secara resmi bulan lalu ketika negara-negara IAEA menyetujui penunjukannya kembali untuk masa jabatan ketiga.

Hadiah Nobel Perdamaian adalah nobel keempat yang diumumkan pekan ini. Namun dibandingkan dengan kategori lain, Nobel Perdamaian mendapat perhatian lebih, mungkin karena semua orang merasa mempunyai hak untuk menilai siapa yang pantas mendapatkannya.

Bahkan para ahli pun melakukan tebakan yang mungkin berdasar namun ternyata bukan tebakan yang tepat.

Tahun lalu pasar taruhan dan para ahli memperkirakan ElBaradei dan IAEA sebagai pemenangnya, namun itu baru terjadi sekarang.

Stein Toennesson, direktur Lembaga Penelitian Perdamaian Oslo, memperkirakan IAEA atau ElBaradei tidak akan menang karena tidak ada yang mereka hasilkan tahun ini yang membuat mereka pantas mendapatkan hadiah itu.

Alfred Nobel dalam wasiatnya menulis, Nobel Perdamaian harus diberikan pada siapa pun yang telah melakukan yang terbaik untuk penghapusan atau pengurangan bala tentara. Salah satu kriteria itu saja menimbulkan beragam interpretasi dari banyak orang. Bukankah masing-masing orang merasa punya kepentingan dengan perdamaian dunia? (AFP/AP/Reuters/ BBC News/DI)

Sumber : Kompas, Sabtu, 8 Oktober 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks