Jun 9, 2009

Martinus Miroto : Miroto, Hidupnya untuk Tari

Miroto, Hidupnya untuk Tari
Oleh : Tonny D Widyastono

Gempa bumi yang menghancurkan sebagian wilayah Yogyakarta, akhir Mei 2006, masih menyisakan kesedihan. Itulah yang dirasakan Martinus Miroto, penari asal Yogyakarta, pemeran Setyo dalam film Opera Jawa.

Ketika film garapan sutradara Garin Nugroho itu diputar di Gartenbaukino di Vienna, Austria, pertengahan November lalu, Miroto tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Film Opera Jawa sengaja dipakai sebagai pembuka Festival Film New Crowned Hope, sebuah acara yang digelar untuk memeriahkan peringatan 250 tahun kelahiran Mozart.

Kok sedih? Pasalnya, pada akhir film tertera titel, "Film ini dipersembahkan untuk korban gempa di Yogyakarta..." dengan terjemahan bahasa Inggris. Penonton yang memenuhi ruangan itu pun terenyak, menyadari sebagian besar setting film Opera Jawa dilakukan di wilayah Yogyakarta yang terkena gempa.

Karena itu, ketika Peter Sellar, artistic director New Crowned Hope Festival meminta para pemeran film Opera Jawa memberi sambutan, Miroto tak tak bisa mengingkari perasaannya.

"Maaf, saya agak emosi, sebab sebagian besar tempat untuk shooting film ini sudah rata tanah, akibat gempa. Bagi saya, film ini sekaligus menjadi dokumentasi terakhir," kata Miroto, kelahiran 23 Februari 1959

Pertama kali

Meski sudah beberapa kali main sinetron, Miroto mengaku baru pertama kali main film, ya dalam Opera Jawa itu. "Maka, ketika ditawari main film, saya menyambutnya dengan antusias sekaligus cemas. Lha, enggak punya pengalaman je. Setelah jadi, baru sadar, dunia film amat berbeda dengan panggung," kata Miroto yang meraih Bachelor of Arts di ISI Yogyakarta dan Master of Fine Arts di University of California, LA dengan judisium cum laude tahun 1995 itu.

Suatu saat, Garin ke Yogyakarta menemui Miroto. Malam itu, sambil makan gudeg, terjadilah diskusi tentang Ramayana. "Saya ditawari jadi Rama. Siapa yang menjadi Sinta dan Rahwana? Ide pun terus menggelinding diikuti adu tafsir. Sebagai penari, saya memegang tradisi," lanjut Miroto.

Pertanyaannya, apakah film bisa menjadi media yang pas untuk ekspresi tari? Bagi Miroto film bisa membuat mata amat dekat dengan tubuh, otot, raut muka penari. Apalagi tarian Jawa yang rumit, dengan desain gerak kecil-kecil.

Sebenarnya, sejak tahun 1960-an, film dan tari sebagai karya seni sudah banyak dilakukan di Barat. Kamera dimanfaatkan di panggung guna mengekspos bagian tubuh yang tidak terlihat mata. Kamera untuk bedah digunakan untuk menunjukkan gerak lorong hidung, tenggorokan, usus, dan lainnya saat aktor membaca puisi.

"Saya pernah melihat adegan ini di Adelaide Fest beberapa tahun lalu. William Forsythe, koreografer dari Jerman, juga membuat film tari untuk karya koreografinya. Merce Cunningham, koreografer Post modern Amerika, tak ketinggalan, membuat film tari di New York. Di Barat, semua film tari hadir tanpa cerita, benar-benar seni koreografi yang difilmkan, terlihat gerak tubuh sendiri," kata pendiri Sanggar Miroto Dance ini.

Gempa Yogyakarta

Ihwal gempa 27 Mei 2006 lalu, selain membuatnya sedih juga menyadarkan betapa gerakan kebudayaan mampu memecah kesedihan. Usai membentuk Forum Doa Sadar (Fordosa) Alam bersama sejumlah seniman Solo, bersama seniman dari Yogyakarta, seperti Joko Pekik, Bondan Nusantara, Sumaryono, Kasidi, Sarjiwo, Nano Asmorodono, Miroto membentuk Forum Seniman Gumregah (FSG) di Yogyakarta.

"Tujuannya mendorong semangat masyarakat untuk bangkit lagi," ujar Miroto yang banyak mengikuti training dan workshop di luar negeri ini.

Melalui FSG ini, dicoba dihidupkan kembali kesenian tradisional, seperti jatilan, ketoprak, dan selawatan untuk mengangkat korban dari kesedihan. Hasilnya, yang pentas maupun yang menonton sama-sama senang.

Sebelum gempa, Miroto berencana mementaskan karya terbarunya, Panji Penumbra dengan dukungan dana dari Kedutaan Besar Belanda.

Namun, niat itu diurungkan. Seluruh energi dan dana dialihkan untuk mementaskan Ketoprak Saidjah & Adinda yang dimainkan seniman tradisional korban gempa. Tetapi, aktivitas dalam FSG membuat Miroto tak punya waktu lagi untuk menari.

Nah, sebelum ke Vienna pertengahan November lalu, Miroto membubarkan FSG. Di Vienna, ia tidak tahan untuk menari. Maka, saat ada konser musik dari Etiopia dalam New Crowned Hope Festival, ia meminta izin panitia dan seniman Etiopia untuk menari dengan musik mereka. Penonton pun antusias.

Berita ini sampai ke telinga Direktur Artistik Festival, Peter Sellars. Miroto ditawari untuk menari pada beberapa seni instalasi dari Afrika dan Meksiko. Di Vienna, Miroto menari tiga kali, tiga malam berturut-turut.

"Saya ini penari, tidak bisa hidup tanpa menari. Tari menjadi ekspresi tubuh saya. Gerakan tubuh adalah ekspresi paling jujur dari kegelisahan batin termasuk yang ada di bawah sadar. Tanpa menari, saya bisa senewen. Dengan menari, saya segar, apalagi kalau dapat honor he-he-he...," guraunya.

Miroto mengaku belajar tari Jawa, Bali, Sumatera (di SMKI, ISI, IKJ), balet, tari modern (Folkwang Schule, Jerman, UCLA-USA), tai chi (Taipei), silat (Yogyakarta), pilates, gyrotonic (New York), dan lain-lain.

"Saya merasa, tari Jawa telah mengangkat saya ke dunia internasional. Seni tari Jawa sendiri sudah dikagumi di Barat sejak lama, bahkan memberi inspirasi pelopor tari modern Barat," ungkapnya.

Sumber : Kompas, Jumat, 15 Desember 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks