Jun 9, 2009

Endah Mulyani : Endah Melatih dengan Hati

Endah Melatih dengan Hati
Oleh : Lis Dhaniati

Endah Mulyani (47) bukan guru olahraga ataupun mantan atlet cabang olahraga atletik. Namun, itu tak menghalangi Endah menjadi pelatih olahraga yang melahirkan atlet dengan prestasi medali emas di tingkat nasional.

Kunci keberhasilannya adalah melatih atlet dengan hati dan perhatian penuh. Dua hal ini menjadi faktor sangat penting, karena yang dia latih bukan atlet dengan kelengkapan indra dan kemampuan komplet, melainkan mereka yang memiliki kebutuhan khusus.

Salah satu atlet yang ia dampingi adalah Ika Damayanti (20), peraih medali emas di nomor lompat jauh Pekan Olahraga Cacat Nasional Special Olympic Indonesia 2006. Sebelumnya, Ika juga telah meraih beberapa medali emas.

Selain menjadi pelatih olahraga, Endah mengajar bahasa Inggris dan bahasa Indonesia tingkat SMP dan SMA di SLB Cicendo, Kota Bandung. Persinggungan Endah dengan atlet berkebutuhan khusus diawali ajakan seorang teman pada tahun 1996 untuk bergabung di Badan Pembina Olahraga Cacat (BPOC) Kota Bandung.

"Waktu itu saya tidak tahu apa itu BPOC dan ikut-ikut saja. Namun, akhirnya malah ditunjuk untuk membina atlet tunarungu di bidang atletik," ungkap ibu dari Toni Nugroho (22) dan Dwi Prasetyo (16) ini.

Dalam perkembangannya, Endah juga mendampingi atlet tunagrahita. Berhubungan dengan mereka yang berkebutuhan khusus memberi kepuasan tersendiri di hati Endah. Terlebih bila melihat mereka bahagia karena meraih kemenangan dalam perlombaan.

Oleh sebab itu, istri Suroto Iman Subandi (52) ini tidak pernah menyesali keputusannya masuk Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB) pada tahun 1979. Padahal, awalnya ia masuk ke sekolah itu karena terpaksa akibat tidak lolos seleksi masuk perguruan tinggi negeri.

"Tidak lolos sipenmaru (seleksi penerimaan mahasiswa baru) membuat saya bingung. Tetapi, ada kakak yang sudah mengajar di SLB. Dia menyarankan saya untuk sekolah di SGPLB karena pendaftaran masih buka," papar Endah.

Bujukan dan penjelasan panjang lebar dari sang kakak mampu membuat hati Endah terbuka. Ia pun mengikuti kuliah dengan senang hati sehingga mampu berprestasi dan meraih beasiswa.

Menambal cita-cita

Saat itu, bahkan mungkin sampai sekarang, mengambil kuliah jurusan pendidikan luar biasa bukan keputusan populer. "Teman-teman saya banyak yang heran dan bertanya, eh, kamu di sini?" tutur Endah mengenang.

Namun, pertanyaan bernada sangsi itu tidak ia pedulikan. Bahkan, ia semakin menyukai kuliahnya karena ada pelajaran anatomi. Mata kuliah ini menambal cita-cita yang kandas, yakni menjadi dokter.

Ia pun lulus dan langsung bekerja sebagai tenaga honorer di SLB Cicendo. Sembari mengajar, Endah mengambil strata satu pendidikan tunarungu di Universitas Islam Nusantara dan lulus tahun 1996.

Keakraban dengan atlet-atlet berkebutuhan khusus ini tidak hanya sebatas di lapangan. Beberapa dari mereka sering datang dan menginap di rumah Endah di Jalan Melong, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung.

Dulu, kedekatan dengan anak-anak berkebutuhan khusus ini sering membuat dua anak kandungnya cemburu. "Mereka bilang, kok, Ibu perhatian sama mereka sih? Padahal ke kita enggak," tutur Endah.

Namun, kecemburuan ini justru dimanfaatkan Endah untuk memberi penjelasan kepada anak-anaknya. "Saya bilang, mereka harus diperhatikan karena mereka tidak senormal kita," ungkap Endah.

"Kampanye" terbatas ini membuat anak-anaknya bisa menerima anak-anak berkebutuhan khusus yang datang ke rumah dengan sikap bersahabat. Bahkan, aktivitas Endah juga membuat keluarga besarnya semakin memahami dunia orang- orang berkebutuhan khusus.

Butuh kesabaran

Membimbing murid-murid dan atlet-atlet berkebutuhan khusus juga menuntut kesabaran tersendiri. "Sering kali kepercayaan diri mereka sangat rendah dan mudah curiga," ungkap Endah.

Hal ini membuat atlet berkebutuhan khusus tak bisa diperlakukan seperti atlet pada umumnya. "Kalau sedang ngambek, bisa jadi mereka tak mau latihan. Akhirnya harus kita bujuk-bujuk dengan lembut," kata Endah. Namun, kelembutan tak boleh berarti memanjakan. Endah mengatakan, sikap tegas tetap harus diterapkan pada para atlet.

Pengetahuan psikologis memang sangat dominan dalam melatih atlet berkebutuhan khusus. Sedangkan mengenai teknik olahraga, Endah menyebutkan mereka sudah dibekali program latihan untuk atlet. Ia pun melengkapi pengetahuannya tentang teknik olahraga, antara lain dengan mengikuti kursus pelatih yang sering diselenggarakan KONI daerah Jawa Barat. Selain itu, Endah belajar secara otodidak.

Bagi para atlet, kata Endah, olahraga juga sekaligus merupakan upaya rehabilitasi. "Anak yang tadinya pendiam sekali jadi percaya diri," ujarnya.

Ia menyesalkan sikap orangtua anak-anak berkebutuhan khusus yang kadang lebih dulu sangsi daripada mendukung anaknya supaya berlatih cabang olahraga tertentu.

Dia mengatakan, olahraga untuk umum saja belum mendapat perhatian lebih, apalagi olahraga untuk atlet cacat. "Sampai sekarang masih dipandang sebelah mata," kata Endah. Hal ini, misalnya, tercermin dari jumlah bonus yang berbeda antara atlet cacat dan atlet normal meski sama-sama meraih medali emas dalam satu event.

Mendampingi atlet berkebutuhan khusus membuat ia merindukan orangtua asuh untuk mereka. Pasalnya, harga alat-alat olahraga berkualitas baik tergolong mahal. Padahal, banyak atlet yang berasal dari keluarga kurang mampu. "Lari yang kelihatan sederhana saja butuh sepatu dengan harga mahal," ujar Endah menyebut contoh.

Sumber : Kompas, Kamis, 14 Desember 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks