Jun 20, 2009

Lalu Hilal : Hilal, Pembuat Biola dari Lombok

Hilal, Pembuat Biola dari Lombok
Oleh : Khaerul Anwar

Jemari tangannya tidak selincah ketika dia masih relatif muda, 40-50 tahun lalu. Namun, kepiawaiannya menggesek tongkat biola pada dawai, dan mana dawai yang stelannya sumbang, masih tersisa dalam dirinya. Itulah Lalu Hilal (87), warga Dusun Dasan Tinggi, Desa Loyok, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Hilal mungkin satu-satunya yang memiliki keterampilan membuat biola, dibanding rata-rata warga desa itu yang terampil sebagai perajin bambu, kendati secara teknis keterampilannya juga bersinggungan dengan segmen kerja kerajinan. Apalagi biola yang dibikinnya bukan menggunakan alat modern, melainkan memakai alat pertukangan yang semuanya digerakkan dengan tangan.

Hilal alias Mamiq Padlan mengaku tidak pernah belajar khusus membuat biola, hanya melihat bentuk biola produk luar negeri, lalu nalurinya seakan membimbingnya untuk membuat alat gesek serupa. Bahkan memainkan dawai alat musik yang badannya berpinggang ramping dan ujung lehernya melengkung itu dilakukan secara otodidak.

”Kalau terlalu lama main, tangan saya gemetaran,” ujarnya setelah memainkan sebuah lagu Jepang, yang nyatanya juga dia lupa judulnya.

Kemudian, mengenai awal mengakrabi salah satu alat musik gesek orkes simfoni modern itu, dia bilang, ”Nenek saya punya biola yang rusak, lalu saya perbaiki.”

Dari memermak sekaligus pemain piol (mungkin asal kata violin dalam bahasa Inggris) yang kerap diundang memperkuat grup orkes keroncong lokal, nama Hilal dikenal sebagai pembuat biola sampai di Mataram, ibu kota NTB, bahkan di Pulau Sumbawa. Ayah 15 putra dari enam istri itu tidak hafal lagi jumlah biola yang dibuatnya. Yang diingatnya, selain mendapat pesanan dari Mataram dan Jakarta, karya Hilal banyak diboyong turis Australia, Perancis, dan Amerika Serikat yang datang ke rumahnya diantar rekan-rekannya di Mataram.

Katanya, wisatawan yang singgah ke kediamannya biasanya para pemain biola. Mereka memesan rata-rata lima biola, yang dijual rata-rata Rp 1,5 juta per buah, sedangkan harga untuk pesanan pengusaha dalam negeri Rp 750.000 sebuah. Para pemesan menyerahkan uang panjar dulu sebagai modalnya bekerja. Satu biola diselesaikan selama 20-30 hari.

Daya tarik karyanya, kecuali bentuknya yang tidak kalah dengan buatan luar negeri, juga dikerjakan dengan tangan menggunakan peralatan sederhana, seperti gergaji, pemaja (pisau kecil biasanya digunakan untuk meraut, juga dipakai sebagai pelengkap busana adat), dan alat lain yang dibuatnya sendiri.

Bahannya pun terdiri atas kayu lokal pilihan, berupa kayu cempaka untuk bagian kepalanya, stang dan tempat dagu—di mana biola digepit saat dimainkan—terbuat dari kayu kelicung. Rampangnya (penutup rangka) terbuat dari kayu jati lenek dan rangkanya dari kayu berora.

Setelah dipotong sesuai peruntukannya, kayu-kayu itu dilem menggunakan bahan alami yang diambil dari getah pohon tanaman yang istilah lokalnya disebut pohon puan, sejenis umbi-umbian yang populasinya di kawasan hutan Rinjani. Serabut yang direntang pada tongkat penggesek biola dibikin dari bulu ekor kuda.

Kayu paten

Dengan bahan kayu paten berikut perekat dari bahan alami, biola bikinannya, katanya, ”bisa bertahan selama kita hidup asalkan tidak jatuh saja”.

Berkat keterampilannya itu pula, Hilal pernah dibawa ke Jakarta saat Asian Games tahun 1962. Saat itu dia membawa 40 biola untuk pameran. Seluruh biolanya terjual, bahkan Idris Sardi bersama orkestranya yang menggelar pentas musik menggunakan sebagian besar biola bikinan Hilal.

”Wah, saya bangga luar biasa karena Pak Idris Sardi terus mengacungkan jempolnya kepada saya. Mungkin dia merasa cocok memainkan biola saya,” ujarnya. Pengalaman manis itu selalu dia kenang sampai saat ini.

Kesempatan selama dua bulan di Ibu Kota dimanfaatkan Hilal untuk ”buka praktik” memperbaiki biola yang rusak maupun yang rongsok. ”Bagaimana saya tidak bilang rongsok, kayu penutup rangkanya sudah retak dan retak-retak. Saya kemudian akali agar bisa bagus seperti semula,” sahutnya. Melihat biolanya menjadi baik, pemiliknya senang luar biasa. Hilal mendapat bayaran di samping tip atas jasa-jasanya itu.

Karena banyaknya pemilik biola yang memanfaatkan jasanya, suatu hari Hilal kehabisan bahan lem. Dia pun berjalan-jalan di seputar tempat penginapannya di Jakarta Selatan, dan di seputar pedagang bunga, dia melihat rumpun tanaman poan. Dia pun menghampiri pemiliknya yang kebetulan berada di situ. ”Pak, saya minta sedikit tanaman ini, buat bahan bikin obat,” katanya kepada pemilik yang kemudian memenuhi permintaan Hilal. Hilal pun bisa melanjutkan praktiknya.

Kini hampir lima dekade sudah Hilal melayani pesanan biola, dan sangat sedikit kalangan mengetahui karyanya yang telah dijajal para musisi di Jakarta 40 tahu silam. Dia memang enggan ”publikasi”, minta modal usaha meski order sepi tiga tahun terakhir. ”Walaupun tidak ada pesanan, saya tetap sedia bahanbahan biar, kalau sewaktu-waktu ada pesanan, saya langsung bisa kerjakan,” ucapnya.

Selain membuat dan memperbaiki biola yang rusak, Hilal yang mahir memainkan alat musik gamelan juga mengisi hari-harinya dengan membuat pegangan dan pembungkus keris maupun pemaja yang umumnya berbahan kayu berora. Jenis kayu yang seratnya berwarna hitam ini sulit diperoleh karena populasinya kian terbatas dan dianggap memiliki ”kekuatan” sehingga diburu banyak orang sebagai ”senjata”.

Sumber : Kompas, Selasa, 8 November 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks