Jun 4, 2009

Jonotoro, Keresahan Pencinta Hutan

Jonotoro, Keresahan Pencinta Hutan
Oleh : Agnes Rita Sulistyawaty

Sebagai ahli flora, Jonotoro (48) menghargai hutan, lebih dari sekadar penyedia kayu yang bernilai ekonomis. Di dalam hutan, terdapat ratusan tanaman yang bisa mencukupi kebutuhan manusia dari hasil nonkayu. Hutan juga menjadi sumber gen ribuan tumbuhan.

Hutan bernilai ekonomis lebih dari sekadar kayu saja. Contohnya, hutan bisa dipakai untuk wisata, hasil hutan nonkayu seperti madu dan damar juga bisa dimanfaatkan. Hutan juga berfungsi sebagai daerah tangkapan air dan masa depan hutan juga bisa dimanfaatkan untuk carbon trade. Ini kan sangat menarik, bahwa kita bisa mendapatkan uang tanpa harus menebang hutan," papar Jonotoro.

Jonotoro telah menghasilkan puluhan penelitian tentang tumbuhan di hutan, termasuk penelitian bidang ekologi atas hutan bernilai konservasi tinggi (high conservation value forest/HCVF) bersama World Wildlife Fund (WWF) tahun 2003.

Kelestarian hutan merupakan jaminan keutuhan ekosistem. Sayangnya, hutan yang tersisa saat ini bukan lagi berupa satu blok hamparan, melainkan berbentuk kumpulan pohon yang jumlahnya sedikit. Akibatnya, ekosistem hutan tidak bisa berfungsi maksimal dan akhirnya menyebabkan pembunuhan alami atas hutan yang tersisa.

Keprihatinan akan hutan yang semakin menipis terus membayang, terutama saat ini, ketika staf pengajar di Balai Pendidikan dan Latihan Kehutanan Pekanbaru ini baru saja menyelesaikan penelitian kerja sama dengan Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari), tentang kondisi Semenanjung Kampar di Provinsi Riau.

Semenanjung Kampar yang merupakan lahan gambut terbesar di Riau mulai dirambah untuk kepentingan hutan tanaman industri atau perkebunan sawit. Kebakaran lahan pun semakin marak terjadi di wilayah ini.

Dari 700.000 hektar luas wilayah lahan gambut, sekitar 350.000 hektar telah habis dirambah dan lahan yang tersisa kini menjadi incaran perusahaan. Padahal, keragaman hayati yang tersimpan di areal rawa gambut ini sangat beragam.

Pada 1 hektar lahan gambut yang masih terjaga baik, dapat ditemukan 57 jenis pohon dengan total 287 batang pohon berdiameter lebih dari 20 sentimeter. Belum lagi, ragam jenis pohon yang dilindungi—seperti ramin, rasak paya, dan beragam jenis meranti—ada di daerah ini.

Artinya, semenanjung Kampar pada awalnya bukanlah daerah kritis yang bisa dikonversi menjadi perkebunan atau hutan tanaman industri. Justru daerah yang masih berupa hutan alami ini perlu mendapatkan perlindungan dari tangan-tangan perambah.

"Tetapi, di republik ini, dokumen apa yang tidak bisa dipalsukan. Semua data bisa dibeli dan akhirnya perambahan tetap terjadi," ungkap Jonotoro.

Buktinya, perusahaan masih tetap mengantongi izin perambahan di hutan yang masih lebat dan alami. Para pemegang konsesi lahan di areal gambut yang masih baik ini mendapatkan keuntungan yang bertumpuk-tumpuk.

Kayu dari pohon-pohon bisa ditebang dan dimanfaatkan untuk perdagangan atau bahan baku industri, sementara lahan bekas hutan menjadi "milik" yang bisa dipakai untuk kepentingan industri selama masa konsesi yang berlangsung puluhan tahun. Padahal, menurut peraih gelar master pada Program Pascasarjana Ilmu Lingkungan Universitas Riau ini, tingkat keberhasilan berkebun di lahan gambut cenderung lebih rendah dibandingkan dengan penanaman di lahan datar.

Yang tersisa tinggal kerusakan lingkungan. Salah satu dampak yang mudah dirasakan atas pembukaan lahan ini adalah rusaknya daerah tangkapan air, sehingga banjir terjadi dan meluas hingga ke berbagai daerah.

Belum lagi kebakaran hutan di lahan gambut. Kandungan air di areal gambut membuat pemadaman api semakin sulit saja. Akibatnya, kebakaran meluas dan asap semakin tebal.

"Inilah akibat hutan dipandang hanya bernilai ekonomis dari kayu," ucap pria kelahiran Berau, Kalimantan Timur, 20 Mei 1959 itu.

Impian yang berbelok

Mimpi menjadi rimbawan telah membawa Jonotoro menempuh pendidikan strata satu di Jurusan Lingkungan Hutan, Fakultas Kehutanan, Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur. Ketika itu, ia masih mematri harapan menjadi seorang yang kaya dengan bekal gelar sarjana kehutanan.

"Saya melihat orang-orang lulusan fakultas kehutanan itu kok kaya-kaya. Saya juga ingin kaya, punya mobil mewah, dan rumah besar. Karena itu, saya memutuskan untuk masuk ke fakultas kehutanan," tutur Jonotoro.

Namun, impian itu sirna setelah ia terjun meneliti di hutan-hutan. Praktik "penjualan" hutan merupakan bagian yang memperkaya para pejabat. Kilau materi duniawi yang sempat diangankan Jonotoro berubah menjadi sebuah keprihatinan.

Ia akhirnya memilih menjadi pegawai negeri di Balai Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan Samarinda, Kalimantan Timur, yang dianggap sebagai "ladang kering", ketimbang mendaftar sebagai pegawai negeri di dinas kehutanan.

Karena gaji yang tidak seberapa sebagai pengajar, Jonotoro juga sering memberikan pelatihan cara mengenal tumbuhan kepada karyawan perusahaan pemegang hak pengusahaan hutan (HPH) serta masuk-keluar hutan untuk melakukan penelitian.

Kerja sama mengadakan penelitian dijalin dengan berbagai pihak, baik dengan LSM maupun dengan perusahaan industri perkayuan. Kendati mengerjakan penelitian untuk perusahaan, Jonotoro mengaku tetap menyuarakan hasil obyektif atas penelitian yang dihasilkannya. Kepuasan diperolehnya bukan dari balas jasa berupa material, melainkan dari kedekatan dengan hutan.

Ilmu tumbuhan yang dimilikinya serta pemahaman tentang seluk-beluk hutan dan pemanfaatan hutan membuat Jonotoro didaulat memberikan pelatihan tentang tumbuhan di berbagai tempat. Ia juga pernah diminta Kepolisian Daerah Jambi untuk memberi pelatihan kepada ratusan polisi tentang pengungkapan praktik pembalakan liar dengan pemalsuan dokumen. Pembalakan liar diketahui dari pencocokan titik koordinat lokasi pembalakan dengan dokumen yang ada. Di sinilah biasanya penyelewengan itu terjadi.

Pada banyak praktik pembalakan liar dengan pemalsuan dokumen, areal yang tertera pada dokumen merupakan tanah belukar yang sudah ditinggalkan beberapa tahun. Artinya, kayu yang telah diangkut oleh sebuah perusahaan berasal dari tempat lain. Praktik ini, menurut Jonotoro, tentu melibatkan oknum yang memiliki kewenangan mengeluarkan perizinan dan dokumen.

Perhatian atas lingkungan sekitar membuat pria yang dipercaya sebagai tenaga ahli bidang lingkungan hidup oleh sejumlah perusahaan besar ini, juga dipercaya oleh Departemen Kehutanan untuk ikut mengolah lahan seluas 2 hektar di Pasir Pangaraian, Kabupaten Rokan Hulu, Riau. Lahan kritis itu dihijaukan kembali menjadi hutan sejak September 2005. Kerap kali Jonotoro mendampingi Menteri Kehutanan MS Kaban untuk melihat hutan buatan itu.

"Kini, sudah ada perluasan lagi di sekitar hutan kritis itu, seluas 16 hektar dan 7 hektar. Rencananya, akan ada satu blok seluas 83 hektar yang akan dihutankan lagi. Ini adalah program nyata menghijaukan kembali hutan tanpa biaya yang terlampau besar," papar Jonotoro.

Di tengah kelebatan tajuk pepohonan, Jonotoro percaya tersimpan puluhan kehidupan flora dan fauna. Kelangsungan tumbuhan juga terjaga oleh gen alami yang tersimpan di setiap pohon.

"Seleksi alam membuat pohon yang tumbuh di hutan merupakan varietas yang tahan terhadap perubahan cuaca, kondisi tanah, serta serangan hama. Bila suatu waktu kita ingin mendapatkan hasil buah-buahan yang prima, perkawinan silang antara pohon buah hutan dan bibit yang ada akan menghasilkan varietas yang unggul. Ini merupakan keuntungan dari hutan," ungkap Jonotoro yang juga mengembangkan bibit tanaman keras di belakang halaman rumah dinasnya, di kompleks Balai Pendidikan dan Latihan Kehutanan Pekanbaru.

Sumber : Kompas, Sabtu, 16 Juni 2007

0 comments:

 
Powered By Blogger
Powered By Blogger
Powered By Blogger

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks