Dase, Kesohor berkat Wayang Golek
Oleh : FX Puniman
Selain Kebun Raya Bogor yang pada 18 Mei 2007 berusia 190 tahun, ada pula dua perajin di Kota Bogor yang cukup dikenal oleh turis asing, daripada oleh turis domestik. Satu dari mereka adalah Dase Adang Spartacus, perajin wayang golek di Kelurahan Sempur, Kecamatan Bogor Tengah. Perajin lainnya adalah Karna, perajin gong di Jalan Pancasan, Bogor Selatan.
Kedua perajin warga Kota Bogor ini kesohor di mata wisatawan mancanegara (wisman) berkat tiga buku panduan wisata Jawa dan Bali yang dibuat oleh sejumlah penulis luar dalam bahasa Belanda, Jerman, dan Perancis pada tahun 1993 dan 1996.
Dase (52) mengungkapkan, sebagai perajin wayang golek, ia tidak bermimpi dirinya bakal dikenal oleh kalangan wisman. Sebelum menjadi perajin wayang golek, ia pernah menjadi kuli bangunan dan kernet angkutan kota.
Hidupnya berubah semenjak ia memutuskan menjadi pengasong cenderamata di Kebun Raya Bogor tahun 1976-1978. Cenderamata yang diasong Dase saat itu berupa kupu-kupu yang dikeringkan dalam kotak kaca serta batu cincin.
Setelah menjadi pengasong cenderamata, dia melihat ada potensi untuk menjual kerajinan khas Sunda, yakni wayang golek.
"Semula saya tidak tahu, apakah wisman suka atau tidak akan wayang golek. Yang penting saya mau mencoba menjual wayang golek. Saya beli wayang golek dari Pak Oyang di Cinangneng, Kabupaten Bogor. Lalu saya poles kembali, saya beri baju dan aksesori yang lengkap. Tiga pasang wayang golek Rama dan Sinta, yang saya beli Rp 1.300, setelah saya percantik dengan biaya sekitar Rp 2.000 per pasang, bisa laku terjual Rp 10.000," tutur Dase.
"Selamat Jalan"
Awal tahun 1979 merupakan titik mula Dase menjadi perajin wayang golek.
"Uang hasil jualan tiga pasang wayang golek Rama dan Sinta, setelah sebagian saya sisihkan untuk makan, lalu saya borongkan untuk membeli wayang golek setengah jadi. Ada sebanyak 10 pasang, terdiri dari pasangan Rama-Sinta, Arjuna dan Srikandi, serta Gatotkaca," ujar Dase.
Lokasi untuk mengasong cenderamata, selain di Kebun Raya, juga dia kembangkan ke sejumlah restoran di kawasan Puncak.
Usaha Dase lebih berkembang setelah kapal pesiar dari Belanda dan Australia singgah di Pelabuhan Tanjung Priok, setiap dua pekan sekali, pada 1979. Para wisman dari dua kapal pesiar itu dipandu oleh dua biro wisata melancong ke obyek wisata di seputar Jakarta dan Bogor.
"Ternyata wayang golek yang saya jajakan menjadi rebutan mereka. Saya melihat ini bisa jadi peluang usaha yang besar. Saya tidak mau kehilangan kesempatan emas ini. Langsung saya boyong pengukir wayang golek dan saya cari bahan bakunya," ceritanya bersemangat.
Lalu, kata Dase menambahkan, "Setiap wayang golek yang jadi saya bayar dua kali lipat. Kalau biasanya Rp 650, saya bayar Rp 1.250 per buah. Adapun penyelesaian akhirnya saya kerjakan dengan dibantu istri saya yang membuat busananya. Harga jual wayang golek saat itu sekitar Rp 10.000 per pasang."
Setahun kemudian Dase mulai dikenal oleh wisman dari Belanda. Lebih-lebih lagi setelah dia didatangi oleh Postuman, pria asal Belanda, yang istrinya, Sofia, berasal dari Ciomas, Bogor.
Kedua orang itu membuka biro perjalanan dengan nama Selamat Jalan di Belanda. Pelanggannya adalah orang-orang Belanda yang bertujuan wisata dan menginap di Bogor. Para turis Belanda yang sebelumnya telah memperoleh informasi tentang kerajinan Dase lalu berdatangan ke bengkel kerja dan ruang pamernya.
"Selain belanja wayang golek, mereka ingin menyaksikan pembuatan wayang golek. Wayang golek dijual sesuai dengan pesanan Postuman, tidak saya naikkan. Harganya wajar-wajar saja untuk ukuran wisman, waktu itu sekitar 10 gulden per buah," tutur Dase.
Hubungannya dengan biro perjalanan Selamat Jalan berlangsung sampai tahun 1990. Kemudian berlanjut dengan biro perjalanan Semarak Reae milik Robpost, yang lalu diteruskan oleh anaknya Ami, hingga kini.
Dari para wisman asal Eropa yang berkunjung itulah, dia kemudian menjadi narasumber sejumlah penulis buku perjalanan Indonesia dan Bali.
Bantuan spontan
Tahun 1986 Dase mengutarakan niatnya untuk mendapat tambahan modal kepada Mr Beer, pemimpin rombongan wisman asal Belanda. Modal yang dibutuhkan sebesar 4.000 gulden atau sekitar Rp 4 juta waktu itu. Beer lalu menggagas bantuan spontan dari rombongan wisman.
"Dari sumbangan spontan 25 wisman saat itu terkumpul 2.000 gulden. Sisanya 2.000 gulden dari Beer. Ini sebagai pinjaman yang akan dibayar dengan wayang golek sebanyak lebih dari 100 buah. Pesanan wayang golek ini diangsur sebanyak delapan kali dalam setahun. Wayang golek itu selanjutnya dijual Beer di Belanda," papar Dase.
Sekarang harga jual wayang golek buatan Dase untuk wisman 40 euro-69 euro, atau 50 dollar-75 dollar AS per buah. Adapun harga untuk wisatawan domestik antara Rp 350.000 sampai Rp 550.000. Tingginya harga tersebut tergantung dari kualitas wayang golek.
Wayang golek buatannya berbahan baku kayu lame. Sebelum tahun 2000, rata-rata ia bisa menjual lebih dari 80 buah wayang golek per bulan. Kini hanya sekitar 20 buah yang terjual dalam sebulan.
Dase, anak ketiga pasangan Endang Sumitra dan Ratna Komala—orangtuanya memberi nama Spartacus karena saat dia lahir di Bogor sedang diputar film Spartacus—sekarang bisa menikmati buah ketekunan yang dia jalani selama 30 tahun.
Ia antara lain berhasil membeli rumah dan menghidupi keluarga dan puluhan karyawan dari wayang golek. Dari hasil penjualan wayang golek Rama dan Sinta pula, dia bisa mengumpulkan uang untuk biaya operasi matanya yang sakit.
Dase bertekad terus menjadi perajin wayang golek sampai akhir hayat. Ini juga dilakukannya sebagai upaya turut melestarikan kebudayaan Sunda.
*FX Puniman Wartawan, Tinggal di Bogor
Sumber : Kompas, Senin, 18 Juni 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment