Jun 20, 2009

Jefri Al-Buchori : Perjalanan Panjang Setelah Ketenaran

Perjalanan Panjang Setelah Ketenaran
Oleh : Nur Hidayati

Seperti tahun-tahun lalu, gebyar acara televisi selama Ramadhan selalu dimeriahkan banyak dai dan artis. Di antara sekian banyak dai yang ditampilkan televisi, Jefri Al-Buchori (32) seolah-olah sedang dinobatkan jadi bintang. Nonton Ustadz Jefri tuh asyik, ganteng, ngajinya juga oke, kata salah satu penggemar yang menungguinya untuk meminta foto bersama di sela-sela syuting.

Agenda kegiatan Uje panggilan akrabnya—selama Ramadhan ini sudah padat, bahkan sejak sekian bulan sebelumnya. Permintaan untuk mengisi lebih dari 200 acara selama Ramadhan tentu bukan gampang dilakoni.

Hari Sabtu (29/10/2005) lalu, misalnya, setelah melewatkan pagi di Anyer untuk rekaman dengan salah satu stasiun TV, siang itu agenda dengan stasiun televisi lain sudah menunggu di Jakarta. Segera setelah itu ia bergegas menghadiri forum buka puasa yang digelar seorang pengusaha nasional. Dalam acara buka puasa, ia bukan hanya berceramah, tapi juga memimpin shalat tarawih.

Selepas tarawih, ia ditunggu untuk ikut dalam siaran langsung yang ditayangkan mulai pukul 22.00 di sebuah stasiun televisi. Pulang menjelang tengah malam, pukul 02.00 dini hari Uje sudah harus kembali berada di studio untuk acara menjelang sahur yang juga ditayangkan langsung.

Waktu saya beristirahat, membaca, dan mempersiapkan bahan untuk tampil pada saat- saat sekarang ini hanya di mobil, dalam perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, kata ayah dua anak, Adiba Kanza Az Zahra (5) dan Mohammad Abidzar Al Ghifari (3).

Bukan hanya gaya bahasa gaul dan penampilan menarik yang diminati berbagai kalangan dari Uje. Suaranya yang jernih dan mampu menggapai nada-nada tinggi ketika mengaji tak kalah digemari.

Awal Oktober lalu, ia juga mengukuhkan diri sebagai penyanyi dengan mengorbitkan album perdana Lahir Kembali. Sebelumnya, rekaman penuturan kisah masa lalunya sudah beredar dalam format kaset, CD, dan VCD bertajuk Perjalanan Hidup Jefri Al Buchori.

Mengomentari popularitasnya, Uje mengatakan, ”Cobaan yang sedang diberikan pada saya sekarang jauh lebih besar daripada yang pernah saya alami dulu.”

Padahal, sebelum dikenal sebagai dai, cobaan yang tidak ringan harus dilalui Uje: mengakhiri ketergantungannya pada narkotika dan obat-obatan terlarang.

Sebagai penari

Dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang kuat menekankan pentingnya nilai-nilai agama, Uje, putra ketiga dari lima bersaudara pasangan M Ismail Modal dan Tatu Mulyana, cemerlang dalam pelajaran agama dan membaca Al Quran.

Namun, catatan kenakalan membuatnya tak menamatkan pendidikan pesantren. Pindah ke sekolah menengah umum, Uje tergila-gila menari di diskotek. Sejak usia 16 tahun, ia mulai mengakrabi narkoba.

Lepas dari SMA, ia tercatat sebagai penari, juga menggeluti dunia model dan bermain sinetron. Semua dijalani tanpa melepas kebiasaan menggunakan narkoba. Ketika ayahnya meninggal dunia tahun 1992, penyesalan hanya hinggap sebentar di benaknya.

Kecanduan berat sempat membuat Uje mengidap paranoia. Berbulan-bulan ia mengunci diri di kamar, ketakutan, merasa seolah-olah banyak orang ingin membunuhnya. Kecanduan itu pula yang membuat namanya dicoret dari dunia model dan sinetron.

Dalam kondisi labil, ibadah umroh kembali membuat penyesalan hadir. Ia berjanji tak akan menyentuh narkoba, tetapi kemudian jatuh lagi dalam kubangan yang sama.

Seorang mantan model Pipik Dian Irawati menerima Uje yang saat itu belum sembuh dari ketergantungan obat. Mereka menikah tahun 1999. Pergulatan batin paling liat akhirnya dialami Uje ketika menantikan kelahiran anak pertama setahun kemudian.

Diajari agama itu seperti diberi bekal. Tapi, mau diapakan bekal itu terserah yang punya. Di situ dibutuhkan kedewasaan beragama. Sepanjang saat jatuh bangun itulah saya berproses menjadi lebih dewasa dalam beragama, kata Uje.

Uje pertama kali berdakwah dengan berbagi pengalaman sebagai bekas pencandu tahun 2000. Pengetahuan tentang sisi gelap dunia malam membuatnya mudah diterima kalangan anak muda. Namun, bagi sebagian kalangan lain, status yang disandang itu sempat membuatnya tak disambut baik.

Nyatanya, namanya segera meroket. Dalam usia muda dengan perjalanan yang masih akan panjang, Uje mengaku tak khawatir ketenaran itu akan surut. Saya pernah mengalami hilang akal dan hilang iman, tak ada yang lebih buruk dari itu, katanya.

Jika agenda kegiatan tak lagi sepadat sekarang, Uje berencana membangun pondok muhasabah, tempat yang mewadahi siapa pun berintrospeksi diri. Pondok ini direncanakan berkegiatan mulai dari diskusi hingga outbond.

Setelah kesuraman masa lalu serta puja-puji yang kini mewarnai hari-harinya, Uje masih memendam sebuah ketakutan. Saya takut su-ul khotimah, akhir hayat yang buruk, ujarnya.

Dengan kata lain, Uje mengakui perjalanannya masih panjang untuk berproses makin dewasa sebagai panutan umat.

Sumber : Kompas, Rabu, 2 November 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks