Jun 20, 2009

Siti Maemunah : Maemunah Capek Diberi Janji

Maemunah Capek Diberi Janji
Oleh : Ingki Rinaldi

Bayangkan, Anda berada di sebuah pulau yang mayoritas penduduknya perempuan. Mulai dari kepala desa hingga seluruh aparat pemerintahannya, termasuk satuan hansip, didominasi perempuan.

Di Pulau Tonduk, yang termasuk dalam wilayah administratif Kecamatan Raas, Kabupaten Sumenep, Madura, bayangan seperti itu bisa ditemukan. Meskipun kepala desanya, yang juga perempuan, telah diganti pada tahun 2003, dominasi perempuan dalam segala bidang kehidupan masih bisa dirasakan.

Adalah mantan Kepala Desa Tonduk Hajah Siti Maemunah (61) yang telah memerintah sejak tahun 1988 lalu. Tubuhnya yang kecil dan renta tidak menghalanginya untuk bercerita dan mengantarkan Kompas berkeliling ke sejumlah sudut desa itu, awal Oktober silam.

Hajah Maemunah mengutarakan, pada saat ia menjabat sebagai kepala desa, lebih dari separuh anggota hansip di desanya yang berjumlah 33 orang adalah perempuan.

Mata pencarian sebagai nelayan dari sebagian besar penduduk laki-laki di desa itu membuat ”kelangkaan” laki-laki setiap musim mencari ikan. Lama melaut yang biasanya sekitar tiga bulan untuk setiap musim, dan sebanyak tiga kali sepanjang tahun, mau tidak mau membuat perempuan di Pulau Tonduk harus bisa hidup mandiri.

Belum lagi jika ditambah dengan jumlah janda, yang berdasarkan catatan terakhir Hajah Maemunah pada tahun 2003 ada 375 orang. Secara logis, jumlah tersebut sudah pasti bertambah banyak mengingat risiko pekerjaan sebagian besar suami mereka yang sangat besar dan bertaruh dengan nyawa sebagai pencari teripang di laut lepas pada kedalaman lebih dari 40 meter.

Kepala Puskesmas Raas dr Kusmuni menyatakan setidaknya dua pencari teripang menemui ajalnya pada setiap musim melaut. Sebagian besar penyebabnya adalah ketidaktahuan dan pengabaian prosedur penyelaman di laut dalam yang menyebabkan penyakit dekompresi yang menyerang pembuluh darah.

Menurut Hajah Maemunah, para janda tersebut praktis mengandalkan usaha sendiri untuk menopang kehidupan keluarganya sepanjang tahun. Salah satunya, menerima upah membuat berbagai barang kerajinan yang dipesan oleh sejumlah pemilik artshop di Pulau Bali.

Meski upah tidak seberapa besar, para perempuan di Pulau Tonduk toh harus menerima dan ditekan oleh pasar yang berjalan dengan mekanisme dan logikanya sendiri. ”Mereka hanya menerima upah Rp 180 untuk 20 manik-manik yang dironce seharian,” kata Hajah Maemunah sambil menunjukkan seorang perempuan muda yang melakukan pekerjaan tersebut di muka rumahnya.

Sebelum menjabat kepala desa, Maemunah dikenal sebagai pedagang perantara teripang ternama di pulau ini. Maemunah juga menerima teripang dari nelayan luar Pulau Tonduk. Tidak jarang ia menyetor sendiri teripangnya kepada eksportir di Situbondo, Jawa Timur atau Denpasar, Bali.

Setelah terpilih, Maemunah yang pernah sekolah di sekolah keterampilan keluarga pertama (SKKP) dan merantau ke Jakarta dan Padang selama 14 tahun mengajak kaumnya membangun Tonduk yang gersang dengan mengaktifkan gerakan pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK). Perempuan Tonduk yang kebanyakan buta huruf ini tak menolak ajakan Maemunah. Apalagi, Maemunah langsung menangani sendiri pemasaran hasil hasta karya mereka sehingga harganya meningkat.

”Kalau dulu tikar hasil anyaman kami hanya laku antara Rp 1.500 sampai Rp 2.000, setelah dibeli Ibu Lurah harganya melonjak jadi Rp 3.000,” ujar Nahyatun (27) asal Kampung Tonduk Tengah yang pernah sekolah sampai kelas IV di SDN Tonduk I.

Kerajinan kulit kerang dan kulit penyu yang banyak dijual di Bali sebagian juga berasal dari Tonduk dan Raas. ”Sebelum ditangani Ibu Maemunah, saya menyetor hasil kerajinan ini kepada juragan di Situbondo,” ujar Muryatun (39), perajin kulit penyu dari Tonduk Laok.

Belum lagi keahlian mereka menggarap pekerjaan ”laki-laki” yang biasa dikerjakannya ketika para suami dan anak lelakinya ke laut. Membakar gamping, mencari tiram, atau mengunduh kelapa merupakan pekerjaan rutin wanita Tonduk, yang hanya ramai pada waktu hari raya ini. Mengumpulkan batu bata atau membakarnya sampai mengangkut pasir dari laut pun tak asing bagi mereka.

Peran perempuan Tonduk bisa lebih besar dari itu. Mereka juga mengurus ekonomi rumah tangga, sekolah anak, sampai mencarikan jodoh anak. Jika para suami hendak melaut, biasanya kaum istri mendapat uang antara Rp 10.000 hingga Rp 50.000. Dengan uang itu, mereka harus mampu menghidupi seluruh anggota keluarga.

Maemunah yang lahir dari ayah berdarah Banjar dan ibu Bugis Makassar itu kemudian berkisah. Akibat berbagai janji yang sering kali diucapkan pemerintah pusat tidak pernah berujung kenyataan, warga di pulau terpencil itu harus mengandalkan kekuatannya sendiri. ”Saya capek diberi janji-janji,” ujarnya dengan mimik penuh kekecewaan.

”Kekecewaan” atas janji-janji pemerintah itu di antaranya dipupus dengan pembangunan jalan secara swadaya yang dibuat dengan adukan semen dan pasir laut pada saat ia menjadi kepala desa, yang kemudian diteruskan oleh penggantinya. ”Karena soal pembuatan jalan tembus oleh pemerintah, kami sudah bosan disuruh membuat proposal terus,” katanya.

Janji lainnya: pembangunan saluran pipa air tawar ke pulau tersebut selama bertahun-tahun tidak pernah diwujudkan. Sementara sumur air payau yang ada hanya bisa dimanfaatkan untuk mandi dan mencuci.

Akibatnya, penduduk terpaksa mengandalkan air tawar untuk minum dari pulau-pulau di sekitarnya yang dijual seharga Rp 2.000 untuk satu jeriken berisi 25 liter. ”Sekarang pasti harganya sudah naik karena harga BBM (bahan bakar minyak) juga naik,” imbuh Hajah Maemunah.

Hajah Maemunah lalu menunjukkan satu karung beras bantuan untuk keluarga miskin seberat 20 kilogram yang baru diterimanya. ”Itu, baru dapat satu karung, padahal janjinya sejak awal tahun diberikan,” katanya dengan dahi berkerut, seolah ingin menagih timbunan janji yang sudah didengarnya sejak dulu.

Sumber : Kompas, Sabtu, 5 November 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks