Jun 25, 2009

Jacobus Busono : Bus, Teknologi Tak Dapat Dibeli

Bus, Teknologi Tak Dapat Dibeli
Oleh : Suprapto

Pura Group Kudus adalah salah satu dari sedikit perusahaan dalam negeri yang mengembangkan teknologi maju. Teknologi yang dikembangkan di bidang percetakan serta antipemalsuan ini sungguh luar biasa.

Layak jika Anugerah Riset Industri diberikan kepada Presiden Direktur Pura Group Kudus serta tim Research & Development,” tutur Ketua tim penilai, Prof Dr Ir Mien A Rifai.

Anugerah Riset Industri 2005 itu sendiri, yang merupakan bentuk penghargaan tertinggi bidang rekayasa untuk kategori pengembang, perancang, dan perekayasa teknologi, diberikan kepada Jacobus Busono selaku Presiden Direktur sekaligus pemilik Pura Group Kudus (PGK) langsung dari tangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, dalam rangka Hari Kebangkitan Teknologi Nasional tanggal 10 Agustus lalu.

Ini penghargaan ketiga bagi Jacobus Busono dan PGK setelah tahun 2001 meraih Anugerah Teknologi dari Menteri Negara Riset dan Teknologi serta Anugerah Siddhakretya 2003 dari tangan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Penghargaan ini patut kita syukuri bersama karena prestasi yang dihasilkan bukan hanya datang dari diri saya, tapi juga didukung segenap direksi dan seluruh karyawan, tutur Pak Bus panggilan akrab Jacobus Busono yang didampingi Hassan Aoni dari bagian humas perusahaan, Minggu (14/8/2005).

Pak Bus adalah generasi penerus ketiga dari sebuah perusahaan milik keluarga yang berdiri sejak tahun 1908. Karena dibesarkan dalam lingkungan perusahaan percetakan, tidak mengherankan jika sejak masa mudanya Busono bercita-cita menjadi pengusaha percetakan. Saya sekolah di akademi percetakan di Belanda dan dilanjutkan ke Fach Hochschule di Jerman, termasuk mengikuti praktik kerja, tuturnya.

Sekembali ke Tanah Air, pada tahun 1970-an ia dipercaya mengelola sepenuhnya percetakan offset milik keluarga dengan karyawan 60 orang itu. Sekarang perusahaan yang berkantor pusat di Kudus ini merupakan sebuah grup yang terdiri atas lebih dari 23 unit produksi yang terintegrasi, saling terkait di bidang industri kertas, percetakan, kemasan, converting (pengolahan lanjut kertas, film, dan bahan lainnya), total security system (sistem antipemalsuan terpadu), kartu elektronik dan engineering (permesinan), dengan total karyawan sekitar 8.500.

Tak dapat dibeli

Teknologi tidak dapat dibeli, yang bisa dibeli hanya mesin dan formulanya. Itulah rumusan Pak Bus. Jadi, untuk menguasai teknologi tergantung pada sumber daya manusia yang jujur, rendah hati, senang pada pekerjaannya, berkarakter, bermoral-bermental baik, dan mampu menampung dan mengembangkannya, tuturnya.

Oleh karena itu, falsafah yang diterapkan PGK adalah mengembangkan produk-produk baru berkualitas dan berteknologi tinggi sebagai pengganti produk impor untuk pemasaran dalam dan luar negeri. Kemudian diciptakan budaya kerja sebagai pendukungnya, yaitu melakukan terobosan dan inovasi secara berkesinambungan di setiap jajaran dalam perusahaan.

Dengan falsafah dan budaya kerja tersebut, maka PGK tercatat sebagai perintis berbagai produk yang pertama di dunia. Seperti aplikasi hologram langsung pada blister aluminium, scratch hologram, penutup dan pengaman nomor kode pada kartu prabayar, serta modifikasi mesin cetak offset menjadi mesin cetak intaglio.

Selain itu, PGK juga telah membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkekuatan 13,5 MW atau 13.500.000 watt, yang sebagian besar untuk perusahaan sendiri dan sebagian disalurkan ke masyarakat umum lewat PT PLN.

Bahkan PGK ikut peduli petani/mendukung program peningkatan produksi pangan nasional, dengan memproduksi mesin pengering padi/jagung berkapasitas 7,5-10 ton, yang dilengkapi dengan fasilitas pelatihan, perawatan, hingga informasi teknik terbaru.

Nelayan pun diliriknya dengan menghadirkan teknologi pembuatan es serpih berkapasitas di bawah satu ton sampai lima ton lebih. Dengan teknologi ini, maka tingkat kerusakan ikan dapat ditekan dari 20 persen menjadi 6-9 persen saja.

Bahkan mesin es serpih buatan Divisi Permesinan ini bisa dipasang di kapal nelayan dan proses produksinya bisa menggunakan air laut hanya dalam waktu 15 menit. Dengan demikian, mampu menjaga kesegaran ikan hingga dua bulan.

Selain itu, untuk keperluan bank dan lembaga keuangan lainnya, PGK telah merancang dan membuat mesin sortir uang kertas otomatis berkecepatan tinggi yang digunakan untuk menyortir (memilah) uang kertas berdasarkan keaslian, kerusakan, atau kekotoran uang kertas. Mesin ini merupakan penggabungan teknologi mekanik dan elektronik.

Berbagai penemuan baru serta memiliki 29 hak paten (16 di antaranya sudah bersertifikat) merupakan bukti bahwa manajemen PGK berhasil menciptakan budaya kerja perusahaan untuk menghasilkan inovasi-inovasi terapan. Sekaligus ikut mendukung citra bangsa dan negara.

Sumber : Kompas, Selasa, 23 Agustus 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks