Jun 18, 2009

Daliyem, "Onthel" dan Anak-anaknya

Daliyem, "Onthel" dan Anak-anaknya
Oleh : Siwi Yunita Cahyaningrum

Ke mana pun pergi, Daliyem (66) selalu ditemani sepeda onthel yang telah berkarat di beberapa bagiannya. Katanya, onthel itu usianya lebih dari setengah abad.

Usman (almarhum), yang sejak tahun 1958 menjadi suami Daliyem, membeli onderdil sepeda onthel satu per satu tahun 1952. "Akhirnya jadi onthel karena dirakit Bapak," tutur Daliyem.

Mungkin Daliyem tak pernah menduga akan membangun rumah tangga bersama Usman seperti merakit onderdil onthel satu demi satu. Pasangan ini memiliki 13 anak, tetapi menganut "paham" tak boleh ada anak terabaikan, apalagi telantar. Mereka pasrah dalam kesederhanaan. Daliyem hanya mengandalkan gaji sebagai guru SD, sedangkan Usman berprofesi sebagai hakim di Pengadilan Agama Wates, Kulonprogo, yang saat pensiun pada 1997 terakhir menjabat sebagai Kepala Pengadilan Agama Wates.

Jabatan suaminya tak membuat Daliyem risi mengendarai onthel. Dalam berbagai aktivitas, dari mengajar sampai jualan sayur, onthel tak lepas dari kehidupannya. Kini di rumahnya bahkan ada lima onthel yang dulu dipakai bersekolah anak-anaknya.

Daliyem mengaku tak mudah membesarkan, apalagi menyekolahkan, anak dalam kondisi ekonomi serba pas-pasan. Tahun 1970-an Daliyem dengan sabar dan adil membagikan jatah makanan kepada ke-13 anaknya. "Tak jarang anak-anak saya ajari makan singkong atau gaplek. Nanti kalau beras mahal agar mereka biasa makan singkong," ujar Daliyem.

Kini aktivitas sehari-hari Daliyem, selain mengurus rumah, adalah menjadi kader posyandu dan mengikuti pengajian kampung di Dusun Samparan, Desa Caturharjo, Kabupaten Bantul, tempat ia tinggal.

Sarjana semua

Sebenarnya 14 anak lahir dari rahim Daliyem, tetapi anak paling sulung meninggal ketika berusia sepekan. Ia mampu membesarkan seluruh 13 anaknya hingga lulus perguruan tinggi dan bekerja di masyarakat.

Didik Akhmadi Ak MCom (44), putra pertamanya, kini menjadi staf ahli DPR bagian anggaran sekaligus dosen di Universitas Indonesia, Ir M Zarqoni (42) lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB), Dra Siti Endah Maronatun (40) lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Anaknya yang lain, dr Muromi Nurillah (38), dokter lulusan Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Anni Mutmainnah SP lulusan IPB, dan Dipl Ing H M Abdul Kholiq MSe (36) kini sedang melanjutkan studi di Jerman untuk meraih gelar doktor.

Selanjutnya ada dr Fitri Nurkhurrohman (34), disusul Lettu Tholib Fatkhurrohman SSi Apt (32) anggota TNI Angkatan Laut, Muhammad Dzulqornain ST, lulusan Institut Teknik Bandung (ITB), dan dua putri selanjutnya adalah dokter lulusan UGM, yakni dr Ana Fauziati (26) dan dr Eva Byuti Zumrudah (24). M Shodiq Abdul Khannan ST (24) kini pegawai negeri sipil di Kopertis V Yogyakarta dan si bungsu Mutiara Wati Wulansih (20) masih belajar di Jurusan Arsitektur UNS.

Selain dari orangtua, seluruh anak Daliyem juga membiayai pendidikan secara "tanggung-renteng". Jika anak yang lebih besar telah bekerja, ia "wajib" membiayai pendidikan adiknya. Begitu selanjutnya. Daliyem mengaku tak pernah mewajibkan penanggungan seperti itu. Kepada anak-anaknya sejak kecil ia tanamkan nilai kebersamaan. "Apa-apa harus ditanggung bersama," ujar Daliyem.

Biasa sederhana

Usman lahir dari keluarga petani, tetapi berkat kegigihannya ia berhasil menjadi hakim agama. Adapun Daliyem berasal dari keluarga buruh.

Bulgur, nasi tekat (campuran ketela dan kacang), serta baju bagor pernah mewarnai kehidupan keluarga ini zaman krisis tahun 1966. "Gaji suami dan saya hanya cukup memenuhi kebutuhan selama dua pekan. Terpaksa saya harus mencari penghasilan tambahan dengan berdagang sayur," ungkap Daliyem.

Pada tahun-tahun itu sebelum berangkat mengajar Daliyem berjualan sayur di Pasar Patangpuluhan, Yogya. Waktu itu pun sepeda onthel-nya yang tua dan ringkih sudah menjadi teman seperjuangan, sementara suaminya belajar di Pendidikan Hakim Islam Negeri Yogyakarta. Usman kemudian melanjutkan kuliah atas biaya negara di Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

"Sepulang sekolah atau kerja Bapak ikut berjualan di pasar," tutur Daliyem.

Daliyem mengaku terbiasa bangun ketika matahari belum menyingsing. Lalu ia menyiapkan sarapan sekaligus makan siang, berangkat bekerja, pulang ke rumah, dan kembali mengurusi anak-anak dan urusan rumah tangga. Setelah itu ia menyiapkan bahan pengajaran sekolah tempatnya mengajar hingga mengaji sampai larut malam.

Sungguh tidak mudah membesarkan begitu banyak anak di tengah ekonomi yang mengimpit. Apalagi rumah mereka seukuran 100 meter persegi yang diisi 16 orang (13 anak, suami-istri Usman, dan ibu dari Usman). Karena itu, Daliyem harus mencatat segala pengeluaran rumah tangga secara ketat.

Ketika Usman meninggal dua tahun lalu, praktis kehidupan keluarga ini ditopang anak-anak yang bekerja. Namun, Daliyem tetap seperti semula. Memang, ia tidak lagi berjualan sayur untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, tetapi memilih terlibat dalam segala kegiatan sosial di kampungnya.

Ia sampai hari ini tetap mengendarai sepeda onthel hasil rakitan suaminya. Barangkali sepeda kenangan itulah yang tetap mengingatkannya bahwa membangun rumah tangga mesti melewati proses kerja keras bersama-sama sebelum memetik hasil.

Sumber : Kompas, Senin, 1 Mei 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks