Jun 18, 2009

Antonius Ratdomopurbo : Ratdomopurbo, Merapi dan Seni

Ratdomopurbo, Merapi dan Seni
Oleh : Agnes Rita Sulistyawaty dan Khairina

Meneliti gunung berapi bukanlah pekerjaan asal-asalan. Di tangan Dr Antonius Ratdomopurbo (45), penelitian gunung berapi harus dilakukan secara rinci, akurat, dan tajam, ditambah dengan sentuhan seni.

Ketika Gunung Merapi dinyatakan dalam status siaga sejak 12 April lalu, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) ini menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk mengumpulkan data-data pemantauan aktivitas gunung itu.

"Saya sudah membawa setumpuk pakaian ke kantor karena sering kali saya harus menghabiskan waktu di kantor. Paling-paling istirahat sekitar tiga jam di kursi-kursi panjang yang ada di kantor," tutur Ratdomopurbo ketika ditemui Kompas di kantornya, selepas pukul 22.00, pekan lalu. Jika kondisi Merapi aktif normal, jam kerjanya dimulai pukul 07.30 sampai 18.00.

Pria yang akrab disapa Purbo ini berusaha mendapatkan data perilaku gunung berapi sebanyak-banyaknya dan serinci mungkin. Foto-foto Gunung Merapi dari tahun ke tahun, bahkan dari hari ke hari, adalah salah satu data penting untuk mengetahui perkembangan salah satu gunung teraktif di Indonesia ini. Tidak hanya ketika status Merapi siaga, tetapi juga ketika gunung ini dalam keadaan aktif normal, ia meminta stafnya untuk memotret Merapi.

"Seperti pematung yang membuat patung secara rinci, kami juga berusaha mengumpulkan data serinci mungkin. Rincian ini akan membuat nuansa yang berbeda dibandingkan, misalnya, patung yang hanya dibuat lurus-lurus saja," paparnya.

Dalam keadaan normal, foto-foto itu dipakai sebagai sumber pengetahuan bagi masyarakat umum. Di kantor BPPTK yang baru saja direnovasi tahun 2003, Purbo memajang sejumlah foto Gunung Merapi sejak tahun 1906 sampai tahun 1960-an. Selain itu, ia juga melengkapi ruang kantor itu dengan batu-batuan hasil letusan Gunung Merapi, maket Gunung Merapi, dan gambar-gambar analisis Merapi.

Dengan gambar, contoh batuan, dan narasi yang dipajang di kantornya, Purbo berharap gunung berapi tidak lagi menjadi suatu misteri, tetapi merupakan obyek kajian ilmiah. Akhirnya, keresahan hidup di daerah yang rawan bencana seperti di Indonesia bisa digantikan dengan hidup aman di daerah bencana.

Keindahan gunung api yang selama ini digelutinya membuatnya menyimpan satu obsesi lain, yakni membuat film tentang gunung berapi di Indonesia. Saat mengambil gelar doktoral bidang Seismologi Gunung Api di Universitas Green Noble, Perancis, Purbo bahkan sempat belajar membuat film secara otodidak dari buku-buku yang dibacanya.

Bukan kesengajaan

Kecintaan Purbo pada gunung berapi bukan merupakan kesengajaan. Ketika tengah menyusun skripsi dari Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UGM, para dosen mendorongnya meneliti mengenai vulkanologi. Jadilah ia meneliti tentang pengaruh gelombang mikroseismik laut (selatan) terhadap Gunung Merapi.

Setelah lulus, ia sempat bergabung di sebuah perusahaan Kanada dan kerja praktik untuk merekam gempa serta mengeksplorasi kondisi panas bumi di Gunung Dieng dan Gunung Salak. Saat itulah dia merasakan kecintaan yang besar terhadap gunung berapi.

Tahun 1986, Purbo memilih menjadi pegawai honorer di Direktorat Vulkanologi Bandung meskipun pada saat yang sama ia juga diterima sebagai dosen Universitas Brawijaya, Malang. Sejak diterima di Direktorat Vulkanologi, Purbo langsung ditempatkan di BPPTK yang dahulu bernama Kantor Penyelidikan Gunung Merapi di Yogyakarta.

"Lucunya, meskipun ketika SMP saya mondar-mandir setiap hari dari rumah saya di dekat Kebun Binatang Gembiraloka ke SMP Gayam, dan melewati Kantor Penyelidikan Gunung Merapi ini, saya tidak tahu sama sekali letak kantor ini. Ketika saya ditugaskan pertama kali di Yogyakarta, saya harus berputar-putar lama sekali di kompleks ini untuk mencari kantor saya," kata Purbo sambil tertawa.

Saat dipercaya memimpin BPPTK sejak 2001, Purbo melakukan berbagai perubahan besar. Kesan kantor pemerintah yang kumuh dan "asal-asalan" diubahnya menjadi bersih, menarik, dan kreatif.

Meskipun mengaku tidak banyak memahami seni, Purbo memang berusaha menggabungkan seni atau estetika dengan pekerjaan. Dengan seni, ia merasa bisa lebih kreatif dalam merancang segala hal. Kreativitas inilah yang diperlukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

Dengan kreativitas itu, ia bersama rekan-rekan peneliti di BPPTK mencoba untuk membuat teknologi baru bidang kegunungapian. Salah satunya adalah transmisi laju rendah. Teknologi bidang kegunungapian ini, menurut Purbo, masih sangat diperlukan mengingat Indonesia mempunyai 129 gunung berapi, yang 80 di antaranya masih aktif.

Terus-menerus mengamati gunung api bukan berarti Purbo enggan belajar hal-hal lain. Suami dari Kristin ini mengaku senang belajar apa saja secara otodidak, mulai dari bahasa hingga taman. Dia juga rajin mencoba hal baru dan memiliki rasa keingintahuan yang besar.

"Sampai-sampai saya pernah belajar kungfu tetapi kemudian dikeluarkan dari latihan karena terlalu kurus," ungkap bapak dari Aan (22) dan Renna (20) ini.

Sumber : Kompas, Jumat, 28 April 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks