Jun 21, 2009

I Ketut Widiana, Penyanyi Logat Bali

I Ketut Widiana, Penyanyi Logat Bali
Oleh : Agnes Suharsiningsih

Rasa Tan Sida, Ragan Beli Pacang Ngengsapang
Dugas Beli Ketemu Sareng Adi Ring Taman Sari
Sesapi Putih Mekeber Ring Taman Sari
Ento Pinaka Saksi Tresnan Beline Gen Adi

Syair lagu Sesapi Putih yang artinya Walet Putih, sebagaimana lagu bertemakan cinta dua insan manusia, bercerita tentang seorang lelaki yang tidak dapat melupakan pertemuannya dengan seorang gadis di taman sari. Burung walet putih yang kebetulan terbang di atas taman sari menjadi saksi pertemuan tak terlupakan itu.

Lagu pop, itu sudah biasa. Tapi bagaimana jika dinyanyikan dalam bahasa Bali? Perpaduan irama pop dengan syair bahasa Bali, yang dilantunkan dengan logat kentalnya, menciptakan keunikan tersendiri. Apalagi jika sesekali dibumbui dengan cengkok Bali yang khas, semakin terasa aura Bali yang memancar dari lagu tersebut.

Dari sekian penyanyi era pop di Bali, I Ketut Widiana (31), yang lebih dikenal sebagai Widi Widiana, menunjukkan kemampuannya melestarikan budaya berbahasa Bali halus melalui lagu-lagu yang dilantunkannya. Meski berbahasa Bali, tembang yang dilantunkan Widi bukanlah kidung (doa masyarakat Hindu Bali yang dilagukan), namun sungguh lagu masa kini.

Orang Bali menggemari lagu-lagu yang ada cengkoknya, seperti dalam kidung Bali ataupun lagu-lagu dari Sunda, komentar Widi tentang lagu-lagunya yang selalu diwarnai dengan cengkok ala kidung tersebut.

Kuatnya cengkok Bali dalam suara Widi bisa jadi karena pengaruh sang ayah yang adalah seorang guru kidung dan penari. Ayahnya, almarhum I Wayan Diana, biasa menembang kidung Bali, baik saat ada upacara ataupun sekadar mengisi waktu di rumah.

Darah seni ayahnya dan juga sang ibu, Ni Made Kibik, yang adalah seorang penari, sepertinya menurun kepada Widi dan saudara-saudaranya. Dari enam anak pasangan itu, empat di antaranya membentuk kelompok Diana Band.

Adapun tentang penggunaan bahasa Bali dalam lagu-lagunya, Widi berkeyakinan bahwa memang itulah yang dicari orang saat ingin mendengarkan lagu hasil karya anak Pulau Dewata. Orang datang ke Bali untuk menikmati karakter budaya aslinya, maka lewat lagu ini pun saya ingin melestarikan bahasa asli Bali, kata Widi yang mencita-citakan lagu pop Bali kelak dapat go international juga, mengikuti tari-tarian Bali yang sudah mendunia itu.

Dari banjar ke banjar

Suami dari Wenna, yang sedang menantikan kelahiran anak pertama mereka, itu bercerita, debutnya sebagai penyanyi pop berbahasa Bali dimulai sejak tahun 1994. Hal itu ditandai dengan keluarnya album pertama Tunangan Tiang, yang merupakan album kompilasi dengan penyanyi-penyanyi pop Bali lainnya.

Namun sebelumnya, sejak tahun 1991, Widi bersama Diana Band sudah merintis perjalanan sebagai seniman musik. Kelompok musik yang beranggotakan keluarga besar Widi itu biasanya manggung dari banjar ke banjar maupun dari hotel ke hotel. Lagu-lagu yang dibawakan beragam, milik para penyanyi tenar. Jenisnya juga variatif, mulai dari dangdut, pop, hingga reggae. Dalam bernyanyi, mereka menggunakan bahasa Bali, Indonesia, maupun Inggris.

Perjuangan seorang Widi untuk menunjukkan eksistensinya di jagat penyanyi akhirnya tergapai dengan kemunculannya di album kompilasi para penyanyi lagu pop Bali. Di tangan seniornya, Yong Sagita Swastika, Widi berhasil menambah khazanah penyanyi pop Bali dengan tetap mencoba melestarikan bahasa ibu, bahasa Bali. Dukungan Yong, seorang penyanyi dan pencipta lagu pop Bali, itu diakui oleh Widi sebagai titik terang langkahnya menuju dapur rekaman.

Album solonya pertama kali muncul tahun 1996, Sesapi Putih, diikuti album kompilasi, Tresna Kaping Siki, pada tahun yang sama. Album solo kedua lahir tahun 1997 dengan label Sampek Ing Tay.

Sesuai dengan judulnya, Sampek Ing Tay, pada album ini memang didominasi lagu-lagu berirama Mandarin. Seperti dikatakan Widi, dia senang mengembangkan aliran musiknya juga pada irama oriental dan tradisional, seperti Mandarin dan Sunda. Dalam beberapa lagunya memang ada yang kental dengan cengkok khas Sunda yang mendayu-dayu itu.

Saya senang menggabungkan berbagai jenis irama musik, seperti Mandarin dan Sunda, agar tidak jenuh. Dan lagi, cengkok di kedua irama itu juga kental dan rasa-rasanya cocok dengan warna suara saya. Dan terlebih masyarakat di Bali juga menyukai lagu-lagu berirama semacam itu, kata pria yang pernah kuliah di Universitas Warmadewa Denpasar itu.

Sampai kini dia sudah mengeluarkan sembilan album kompilasi dan 11 album solo. Namun, begitu album keluar, biasanya penggemarnya sudah menanti dan menyerbu. Rata-rata kasetnya terjual di atas 25.000 kopi, bahkan albumnya yang berjudul Tepen Unduk (Ketiban Sial) terjual di atas 50.000 kopi.

Pria, yang tahun 2005 menyabet gelar penyanyi terbaik pria versi Bali Music Award I, itu mengaku masih memimpikan untuk bisa menggelar konser tunggal di Sulawesi, Lampung dan Jawa.

Sejauh ini Widi sudah menggelar konser di Bali dan Lombok. Di kedua daerah itu tanggapan masyarakat sangat antusias terhadap lagu-lagu yang dibawakannya. Tinggal menguji bagaimana tanggapan para perantauan di Sulawesi dan Lampung? Widi sangat ingin segera mewujudkan impian itu.

Sumber : Kompas, Rabu, 19 Oktober 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks