Jun 28, 2009

I Gusti Agung Rai Kusumayudha

I Gusti Agung Rai Kusumayudha
Pewawancara : Brigitta Isworo L dan Ida Setyorini

SOSOK pria tinggi besar dengan tubuh kekar ini, yang dikenal dengan nama Ade Rai, sudah identik dengan dunia binaraga dan dunia fitness. Mungkin tidak banyak yang tahu, di balik tubuh besarnya, Ade adalah sosok dengan tutur kata yang halus, sikap santun, ramah, dan cerdas.

Putra kedua dari empat putra-putri pasangan I Gusti Rai Widaja (almarhum) dengan Selena Susanti ini dalam setiap kesempatan selalu menekankan, "Mengapa punya badan gede harus sangar? Seolah-olah badan gede adalah tukang pukul, badan gede itu galak. Kenapa mesti begitu? Justru mestinya adalah bagaimana kita memotivasi orang lain menjadi inspirasi bagi orang lain. Bukan intimidasi."

Bagi Ade, prestasi mendunia yang telah diraihnya di bidang binaraga bukanlah tujuan utama. Kini di depannya terpapar tantangan berat, bagaimana membuat olahraga binaraga dan olahraga fitness menjadi sebuah gaya hidup, yaitu gaya hidup sehat menjadi lebih memasyarakat. Selebihnya, dia bercita-cita mengembangkan industri di seputar olahraga ini.

Diselingi menyantap hidangan kembang tahu-makanan tinggi protein yang sesuai bagi kebutuhan tubuhnya sebagai binaragawan-dan mencicip cake oatmeal buatan sang istri, Kenny Amelia, perbincangan berlangsung hangat di apartemen Ade dan Kenny yang mungil, rapi, dan apik di Kelapa Gading.

Ade, duta antirokok WHO pada tahun 2002 yang dilahirkan di Jakarta, 6 Mei 1970, ini bertutur banyak tentang kasus skorsingnya tahun 2002, usahanya di bidang fitness dengan Klub Ade Rai-nya, tentang keterlibatannya di dunia karate, penghargaan terhadap atlet, perlawanannya terhadap penyalahgunaan obat, sukses hidupnya, dan tentang sang bapak yang disebutnya sebagai number one fan- nya. Di bawah ini kami sajikan cuplikan wawancara Kompas dengan pria penikmat film dan musik ini. (Film yang inspiratif bagi Ade antara lain Over the Top dan Rocky-keduanya dibintangi Sylvester Stallone).

APA saja prestasi tertinggi di binaraga?

Tahun 2000 saya juara dunia di kejuaraan binaraga Professional Super Body dan Muscle Mania World di Amerika Serikat. Mulainya tahun 1995 saya juara dua, lalu tahun 1996 di Amerika saya juara overall, tahun 2000 saya juara pro. Sekarang bukan hanya saya yang juara, Komang juga juara di Muscle Mania World di California, AS, tahun 2004. Sedangkan Ricky Syamsuri dan Taat Pribadi juara di tingkat amatir. Sama-sama di kejuaraan dunia natural.

Perpecahan di organisasi binaraga, dengan dikeluarkannya binaraga dari PB PABBSI (Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi, Binaraga, dan Angkat Berat Seluruh Indonesia) dan dimasukkan ke Federasi Binaraga Indonesia (FBI), bagaimana Anda bersikap?

Menurut saya, ini karena sebagian dari pengurus itu memiliki perbedaan visi sehingga keluar dan membentuk organisasi baru. Padahal, atletnya ada di PABBSI. Memang sekarang FBI yang diakui Federasi Binaraga Asia (ABBF), dan opini publik dibuat, bahwa PABBSI tidak benar. Menurut saya justru ABBF sendiri yang kurang bijaksana dalam melihat permasalahannya. Akhirnya atletnya bingung. ’Gimana De, boleh enggak bertanding di FBI?’ Menurut saya, atlet sih bisa bertanding di mana saja. Kalau kenyataannya FBI bisa memajukan olahraga ini, mengapa tidak. (Namun, bagi saya, kalau membantu mereka, ya jangan harap. Menurut saya, ide pendirian federasi ini tidak dengan cara yang benar). Inovasi muncul karena kompetisi, prestasi muncul karena kompetisi. Kalau dilihat dari sisi itu, positif. Tetapi ada negatifnya, yaitu saling jegal, saling mendiskreditkan.

Anda punya kekhawatiran?

Cepat atau lambat perpecahan itu akan lebih besar lagi. Andai Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat bijaksana, KONI bisa bilang begini, ’Selama ini PABBSI sudah menjalankan binaraga dan sudah jalan. Pembinaan lokal biar dipegang PABBSI, kalau internasional khususnya untuk multievent, FBI bertanggung jawab memilih atlet. Artinya, KONI bisa menyatukan mereka. Biarkan saja atlet memilih. Kalau multievent, atlet FBI saja yang ikut. Saat single event tetap bisa ikut Muscle Mania, dengan PABBSI. Kalau PON, bisa dua-duanya ikut. Kalau KONI memilih satu pihak saja, perpecahan itu akan terjadi. (Tahun 2000 Ade kena skors tidak boleh turun di Kejuaraan Asia akibat mengikuti kejuaraan Muscle Mania yang terakhir kali diikutinya tahun 1999. Kejuaraan Muscle Mania tidak diakui Federasi Binaraga Internasional atau IBBF. Dia juga dilarang turun di Asian Games tahun 2002 akibat main iklan- yang sudah tidak tayang tahun 2000). Binaraga bukan olahraga mayoritas. Sangat menyedihkan jika peminatnya sendiri mau memecah belah seperti itu. Di Indonesia binaraga tidak seterkenal bulu tangkis, sepak bola, voli, dan basket. Padahal, federasi internasional binaraga itu no boundaries, no politics involved, no money, no apa pun. Dalam kenyataannya tidak seperti itu. Lambat laun respek saya terhadap federasi bina raga internasional yang resmi semakin pudar.

Bagaimana prospek binaraga di kompetisi internasional?

Kalau KONI hanya berpikir binaraga itu multievent, itu salah. Binaraga tidak selalu ada di multievent, bahkan di Olimpiade tidak pernah. Di Asian Games (AG) baru sekali dipertandingkan, yakni di Pusan tahun 2002. Kita banyak diatur- atur. Atlet tidak boleh main iklan, tidak boleh pakai colour tertentu. Jadi, untuk SEA Games ke depan, kita bisa hitung-hitungan. Bisa dapat satu emas saja sudah bagus. Lalu, bagaimana mau mengangkat citra bangsa di mata internasional?

Lalu, nasib binaragawan jika tidak ada pertandingan?

Menjadi binaragawan tidak harus menjadi competitive body builder. Misalnya, Nano de Mayo dulu kerjanya jaga di beberapa tempat, seperti di Hard Rock. Karena kecintaannya terhadap fitness, dia mau belajar. Dia tidak pernah jadi juara DKI, dia tidak pernah juara nasional. Namun, dia bisa ikut kejuaraan di Malaysia. Dia belajar dengan baca buku. Akhirnya dia lancar menjelaskan olahraga ini. Kini dia menjadi personal trainer. Itu bayarannya bagus.

Dulu Anda juara panco, lalu pernah ikut bulu tangkis dan bola voli, bagaimana bisa jatuh cinta pada binaraga?

Potensi, bakat, dan kesukaan saya ada di sana. Waktu badminton, saya setiap hari latihan dengan Ardy Wiranata (peraih medali perak tunggal putra di Olimpiade Barcelona-Red), teman baik saya di klub Djarum. Niat saya juga mau jadi pemain bulu tangkis, tetapi motivasi saya kalah besar dari Ardy. Kalau week end atau libur, Ardy bilang, ’De, kita lari yuk ke Ancol’. ’Gila aja ha-ha-ha. Orang sudah bisa libur santai’. Secara teknis kondisi fisiknya dan kekuatan otot setiap orang berbeda. Didukung faktor genetik, badan saya bertulang kecil, pinggang kecil, kepala saya juga kecil (tertawa). Jadi, seolah-olah badan saya cepat besarnya. Jadi, ada pengakuan dari luar maupun dari dalam. Binaraga is not about competition, binaraga is about life style, soal gaya hidup sehat. Di dunia fitness, di dunia kesehatan, pemeonya adalah we are what we eat.

Kegiatan di luar binaraga?

Kebetulan semua berhubungan dengan fitness. Majalah sudah pasti. Kami punya fasilitas olahraga Klub Ade Rai, ada 12 di Indonesia. Jangan salah ya, tempatnya bukan tempat saya, tetapi Klub Ade Rai- nya. Saya memiliki reputasi dan kemampuannya. Kalau ada yang mau membuat sarana olahraga dan punya investasi, bisa kerja sama dengan saya, membuat sesuatu yang positif. Saya selalu ajarkan, atlet harus memiliki multiperan. Jangan hanya selalu berpikir: latihan-bertanding-menang, latihan-bertanding-menang. Di olahraga Indonesia, "ada uang abang disayang, tidak ada uang abang melayang". Atlet juga begitu. Selama dia masih berprestasi, dia akan disayang dan aman posisinya. Tetapi, pada saat prestasinya menurun, tidak ada yang memandang dia. Istilahnya, masa depan atlet suram. Penyebabnya, karena golden age-nya pendek. Maka, saya katakan bahwa atlet harus sekolah, harus belajar, harus punya wawasan. Syukur, untuk binaraga saya bisa buktikan sendiri. Saya bisa kuliah. Jadi, binaraga memungkinkan untuk selesai kuliah dan menjadi atlet binaraga. Di binaraga memungkinkan kita bekerja di bidang lain. Menjadi personal trainer, instruktur, pengusaha, model, bintang sinetron, dan yang lain. Seperti Primus (Yustisio), Marcellino (Lefrand), dan Adrian (Maulana), dulu job-nya jumpa fans lalu foto-foto. Sekarang mereka juga diundang untuk senam dan talk show kesehatan. Menjadi pembicara. Menurut saya, that what body building is all about (itulah makna sebenarnya binaraga). Kemandirian tetap yang paling utama. Orangtua saya pensiunan ABRI. Dulu di SMA ada teman saya mau sekolah ke luar negeri. Saya cuma bisa mimpi. Harga tiket pesawat saja sudah tiga kali gaji bapak saya. Kalau dapat oleh-oleh dari teman kayaknya berharga banget, saya simpen. Tetapi, kemudian ternyata olahraga ini bisa membawa saya ke sana. Gratis, bahkan saya dibayar.

Investasi awal Klub Ade Rai?

Tidak susah, kami buat sendiri di Senen. Teman saya yang investasi. Berdiri saat krisis moneter tahun 1998. Sering terjadi, jika fasilitas bagus biasanya pasti mahal. Kalau murah, alatnya sederhana dan seadanya. Jadi, kami menggunakan alat-alat buatan dalam negeri. Pola usaha ini sukses, bisa balik modal dalam satu sampai tiga tahun, cepat sekali. Itu memotivasi orang lain untuk buka usaha fitness center (pusat kebugaran) yang sama. Ini bagus, lapangan pekerjaan bertambah banyak.

Bagaimana awalnya Ade mengenal Muscle Mania, padahal informasi tentang dunia binaraga amat minim di Indonesia?

Awalnya ada teman saya sekolah di AS, dan saya pikir di sana sumber segala informasi tentang fitness. Tahun 1993 saya juara dua di PON XIV. Dari Gubernur DKI Jakarta Surjadi, saya dapat uang Rp 5 juta. Lalu saya pergi ke rumah teman saya di Washington DC, AS. Saya berterima kasih sekali bisa nebeng di rumah dia. Karena tidak ada uang, kadang saya ke toko buku, saya catatin saja semua. Makannya tiap hari mi instan. Saat berangkat berat saya 98-99 kilogram, ketika pulang tinggal 83 kilogram. Lalu saya terapkan informasinya. Saya ikut kejuaraan nasional di Jakarta tahun 1994. Saya juara. Saya iseng-iseng ikut Muscle Mania ketika itu. Saya juara satu, dari satu peserta, ha-ha-ha (tertawa). Saya juara empat dari empat peserta (tertawa lagi). Saat saya bertanding, salah satu presiden Muscle Mania itu melihat saya lalu bilang, "Wah kamu punya potensi. Suatu saat kamu harus bertanding di kejuaraan saya, Muscle Mania California." Saya bilang, "Kasih masukan saja ke saya, saya mesti apa latihannya." Undangan itu memotivasi karena pada saat saya sendiri tidak yakin dengan kemampuan saya, tiba-tiba ada orang yang punya pengaruh besar di dunia binaraga di sana bisa bilang bahwa saya punya potensi gede. Tahun 1995 saya ke sana, saya juara dua. Tahun 1996 saya ke sana lagi, saya juara overall. Sejak tahun 1997 sampai tahun 2000 saya ke Amerika dibayarin terus. Mulai tahun 2000 sampai 2004 saya hanya jadi bintang tamu saja.

Anda dikenal selalu mempromosikan binaraga tanpa obat terlarang. Bagaimana kondisinya di Indonesia?

Memang dari awal saya memilih berjuang untuk binaraga tanpa obat terlarang. Dalam waktu dekat ini saya bersama-sama dengan pihak berwajib mencoba membuat kebijakan-kebijakan memerangi penyalahgunaan obat. Sekarang ini semakin marak banyak drug dealer yang datang ke fitness center. Kian meresahkan. Ini terjadi di seluruh fitness center di Indonesia. Saya serius memeranginya. Masalahnya adalah kita ini sulit melakukan drug test karena mahal. Akhirnya tidak semua pertandingan di Indonesia bisa menggunakan konsep drug test. Sekarang oleh Lembaga Anti-Doping Indonesia (LADI) dicoba membuat solusinya. Mengapa saya perangi? Simbolnya kan olahraga itu sehat, olahraga kuat. Lha kok binaragawan malah pengguna obat? Kan jadi aneh. Sekarang menjualnya sudah tidak main-main. ’Lu mau gede enggak, nanti saya suntikin’. Kalau sekarang pemerintah fight against narkoba, saya fight melawan narkoba di binaraga, yaitu anabolic steroid, growth hormone, dan performance enhancer. Saya minta kepada dokter-dokter di Indonesia harus punya tanggung jawab, jangan hanya sekadar menjual obat, tetapi harus melihat manfaatnya. Lain dengan suplemen seperti amino acid, protein, multivitamin, susu, atau powder, itu enggak apa-apa. Mulai bulan depan saya bekerja sama dengan Gubernur Jawa Tengah, ke sekolah-sekolah di SMA untuk kampanye program anti-drugs baik narkoba maupun doping.

Anda sudah menjadi figur publik. Tertarik terjun ke dunia hiburan?

Jawaban saya sederhana. Dunia hiburan membutuhkan saya tidak sebesar dunia fitness. Saat ini dunia fitness lebih banyak membutuhkan saya, maka prioritas saya ke sana. Dunia fitness ini menurut saya juga dunia hiburan. As an athlete, as an entertainer, as an entrepreneur, sebagai seorang pengusaha juga. Belakangan ini saya juga bikin peralatan olahraga, sepatu, video, buku, seminar- seminar, dan majalah.

Bagaimana peta prestasi binaraga Indonesia di dunia?

Sekarang ini Komang Arnawa, Ricky Syamsuri, dan Taat Pribadi sudah juara dunia, tetapi yang natural, bukan kejuaraan dunia resmi. Kami memang tidak diakui. Buat saya tidak masalah. Kami butuh pengakuan dari diri sendiri. Tetapi, orang Australia mengundang saya sebagai juara dunia untuk menjadi bintang tamu di kejuaraan nasionalnya, di Melbourne Crowne Plaza. Besar sekali. Saya sering menjadi bintang tamu di kejuaraan nasional Australia dan kejuaraan nasional Filipina. Siapa pun bisa menjadi diplomat, semua punya tanggung jawab menjaga nama baik Indonesia. Saya bersyukur banget dan bangga banget bisa menjadi bintang tamu.

Banyak yang sudah Anda lakukan, dari prestasi di tingkat internasional hingga mengembangkan binaraga dan fitness di Indonesia. Anda banyak meraih sukses…?

Yang namanya sukses tidak pernah habis dan relatif bagi setiap orang. Kalau sukses dalam arti juara nasional, ya saya sukses. Menjadi juara Asia, saya juara terus dari tahun 1995 hingga tahun 1998. Di kejuaraan dunia walau tidak resmi, saya sudah juara. Selebihnya yang lainnya, ya membangun industri ini. Saya ingin melihat orang-orang yang ada di sekitar saya bisa hidup layak. Itu tantangan buat saya. Keinginan untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap olahraga ini, juga meluruskan pandangan masyarakat. Seperti misalnya seolah-olah saya ini cuma mempromosikan orang badan gede berotot dan kuat. Padahal, saya juga mau orang yang baru melahirkan badannya menjadi langsing, orang yang badannya kegemukan bisa lebih kurus. Orang yang sakit diabetes bisa sembuh. Itu yang ingin saya tawarkan. Atau misalnya masyarakat bisa mempunyai satu fokus yang bagus ketimbang terdistorsi ke hal-hal negatif. Yang saya rasain sendiri, badan menjadi lebih oke, badan menjadi lebih enak, penampilan lebih bagus, eh bisa hidup pula di dalamnya. Saya tidak muluk-muluk, seperti Indonesia menjadi better place. Paling tidak bagi orang yang dekat dengan saya, minimal apa yang saya lakukan ada manfaatnya bagi mereka. Membuka lapangan kerja yang lebih luas. Karena itu, saya misalnya membikin majalah. Itu untuk mengedukasi masyarakat. Kalau tanpa edukasi, masyarakat tidak terlalu mengerti. Kalau bicara sukses, itu secara moral, material, atau finansial. Secara moral saya banyak kepuasannya. Secara material saya masih jauh dari cukup. Saya mau seimbang dan hidup layak. Sampai saat ini saya harus akui bahwa orang-orang yang berkecimpung di dunia ini kadang-kadang hidupnya masih susah secara materi. Orang mengira saya mendapat banyak karena memiliki banyak gym. Padahal, itu bukan milik saya. Saya juga harus membayar orang-orang yang bekerja di kantor saya. Tetapi, buat saya ini investasi. Ibaratnya latihan dulu. Sebagai awal industri, saya berani miskin dulu. Menurut saya, kesuksesan saya kalau seandainya saya juga bisa membuat teman-teman saya bisa mandiri. Sebagai contoh Nano atau yang lain, termasuk Ricky, Taat, dan sebagainya. Perkembangannya, ibaratnya dulu orang investasi fitness center dengan Rp 50 juta-Rp 60 juta, sekarang orang bisa investasi fitness center miliaran rupiah. Berani, karena kesadaran masyarakatnya semakin tinggi. Saya tidak butuh pengakuan dari media atau dari orang. Saya mendapat pengakuan minimal dari diri saya sendiri dan dari orang-orang yang mengenal saya bahwa kita bisa menjadi bagian dari sebuah sejarah yang positif, yaitu majunya kesadaran hidup sehat masyarakat di Indonesia. Itu yang saya banggakan.

Dulu citra binaraga belum sepositif sekarang. Mengapa tertarik menerjuni?

Dari awal saya melihat, kita harus menjadi wakil yang baik bagi olahraga. Kita tidak bisa cuma latihan saja. Kalau diajak ngobrol, diajak ngomong, tidak bisa hanya ngomong tentang olahraga saja. Itu yang coba saya lakukan, bagaimana membuat suatu kemasan yang bagus. Itu saya tampilkan ke dalam segala sesuatu yang berhubungan dengan diri saya. Saya tidak mau melihat atlet binaraga itu mengesankan intimidasi. Saya lebih senang kita mengesankan simpati. Saya senang kalau kita badan gede tapi bukan banyak lawan, melainkan banyak kawan. Dari kecil saya selalu berusaha menjadi sesuatu yang lain dari yang lain. Saya selalu berpikir kebalikan dari yang disukai orang lain. Begitu juga dalam memilih olahraga. Pada saat orang menganggap binaraga itu adalah olahraganya "kuli", olahraga yang tidak jelas, saat itu tantangan buat saya jadi semakin besar. Saya pikir kalau ada sesuatu tantangan kita hadapi, apakah kita jatuh, apakah kita bisa jadi lebih bagus kalau bisa mengatasinya.

Masih suka panco?

Saya mempromosikan panco. Saya bersyukur karena panco ini bisa mempersatukan kelompok-kelompok pekerja kasar. Mereka diajarkan sportivitas. Ini gara-gara setiap minggu disiarkan di depan teve. Salah satu warisan olahraga adalah sportivitas. Peserta diajarkan bagaimana to be a good winner dan to be a good loser. Ini mempererat hubungan antara mereka sendiri sehingga kriminalitas atau keributan berkurang. Mereka akhirnya bergabung dalam organisasi Persatuan Olahraga Panco Indonesia. Semua berteman. Saya paling syukuri ini. Saya lakukan ini karena saya dulu juara nasional panco, kedua saya senang olahraganya, ketiga ternyata olahraga ini mempererat hubungan manusianya. Itu yang menurut saya paling oke dari dunia panco. Sementara tiga-empat tahun terakhir saya ikut Kyokushin Karate Indonesia (KKI). Saya pengurus daerah di DKI Jakarta. Awalnya saya mendapat sabuk hitam kehormatan karena membantu mereka di gym saya. Saya lalu berlatih sungguh- sungguh. Ternyata nilai-nilai budho karate yang diajarkan itu luar biasa sekali. Saya paling hargai ketua dewan guru, shihan JB Sujoto, dan para pemimpin lainnya. Mereka mengajarkan betapa dengan karate ini kita punya budi pekerti yang lebih bagus.

Di rumah tidak ada alat fitness?

Biar lebih santai, lebih tenang. Semakin tua, kenyamanan seseorang berarti kalau materi semakin kuat, kenyamanan jika dengan penampilan optimal, semakin nyaman jika punya fisik bagus. Padahal, kalau sudah meninggal semuanya akan ditinggal, tidak dibawa. Harta tidak dibawa, rumah tidak dibawa, mobil tidak dibawa, selama fisik sehat juga tidak dibawa. Yang satu lagi adalah spiritual. Tidak hanya jasmani yang dilatih, tetapi juga rohani.

Maksudnya?

Sama dengan jasmani kita, rohani kita harus dilatih. Supaya lebih tajam ibarat pisau, diasah dulu. Makanya, saya belajar meditasi, berusaha menjadi lebih sabar, apalagi setelah bapak pergi pada Desember 2003. Satu-satunya penyesalan yang ada adalah saya belum puas menyenangkan dan membahagiakan bapak saya. Ibaratnya, saya bisa membuktikan seratus, saya baru membuktikan 20. Saya masih punya 80 di kantong saya. Berat sekali bagi saya. Ibaratnya, Papa adalah fan terbesar saya. Number one fan saya adalah bapak saya. Ketika kehilangan bapak, saya seperti kehilangan mesin. Dia yang paling menghargai saya. Di lemarinya lengkap semua data tentang saya. Saya tidak ngeh (tahu). Saya baru tahu itu setelah bapak saya pergi.

Sumber : Kompas, Minggu, 17 April 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks