Jun 28, 2009

Andy Pramoedya, Cetak "Offset" dari Banyuwangi

Andy Pramoedya, Cetak "Offset" dari Banyuwangi
Oleh : S04

Kelangkaan akibat penghentian produksi menjadikan P Andy Pramoedya (61) memutuskan membuat mesin cetak offset berkemampuan cetak maksimal seukuran kertas folio. Permintaan pasar terhadap jenis mesin ini cukup tinggi sehingga harganya mahal, padahal yang ada di pasaran sekarang ini pun teknologinya masih sederhana. Hal itu membuat Andy semakin menggebu-gebu membuat mesin cetak offset kecil berteknologi tinggi, andal, dan murah.

Teknologi yang diterapkan adalah pengaplikasian sensor cahaya dengan serat optik. Cara kerjanya, dengan memanfaatkan celah masuk kertas yang menutup sensor pada saat kertas lewat.

Ketika cahaya merah sensor itu tertutup kertas, secara otomatis tabung ketiga (impression tube) naik ke atas, memberikan tekanan pada kertas yang berada di antara impression tube dan tabung kedua berupa gulungan karet padat (blanket tube). Gulungan karet padat ini sebelumnya juga menerima tekanan dari tabung pertama yang dipasangi pelat cetak untuk menerima pencitraan cetak yang ditembakkan dari pelat tabung pertama.

"Aplikasi teknologi ini untuk mengatasi paper jam (kemacetan kertas–Red), terutama pada saat mencetak kertas rangkap yang sangat tipis," ujarnya menguraikan.

Sejak dua setengah tahun lalu Andy membuat 11 prototipe mesin dengan membedah tiga mesin cetak offset bermerek Toko 820 dari Jepang. Awal Januari 2005 Andy berhasil membuat mesin cetak offset yang layak dilempar ke pasaran.

ANDY bisa menjual mesin produksinya seharga Rp 17 juta. Padahal, mesin sejenis harganya Rp 87 juta.

Hanya dua bulan sejak produksi perdananya, mesin itu terjual enam unit. Dua unit dijual ke Jakarta. Sisanya ke Denpasar, Probolinggo, Bandung, dan Toli-toli, Sulawesi Tengah. Mesin cetak offset buatannya memiliki pasar sangat besar, terutama pengusaha yang bergerak di skala cetak menengah-kecil.

Kecepatan mencetak sebesar satu rim (500 lembar-Red) per 10 menit, lebih tinggi dibandingkan dengan mesin sejenis, menjadi fitur unggulan dalam merengkuh pasar. Konsumsi listrik yang hanya sekitar 250 watt menjadi kelebihan lain.

Dengan empat karyawan dan kemampuan produksi rata-rata hanya dua unit per bulan, Andy tidak berani mengikat perjanjian dengan pemasok di Jakarta. Karyawan berpendidikan SMA didatangkan dari Tuban dan Probolinggo serta dididik langsung oleh Andy.

Untuk memudahkan calon konsumen mengenali mesinnya, Andy melekatkan angka 820 di belakang merek Smart. Mirip mesin sejenis produksi Jepang bermerek Toko 820. "Kenapa takut, ini kan seperti kata mild, yang dipakai beberapa merek rokok," ujarnya ketika ditanya soal hak atas kekayaan intelektual berkaitan dengan merek yang dipasang itu.

SEJAK memulai pendidikan di Sekolah Rakyat Mater Dei Probolinggo, dilanjutkan ke SMP Kolese Santo Yusuf Malang, sampai menamatkan pendidikan menengah atas di sekolah Hwa In (nama lain Kolese Santo Yusuf) di Klojen, Malang, pria kelahiran Banyuwangi, 24 Desember 1944, ini tidak pernah merasa cocok dengan pendidikan di sekolah. Ia sempat drop out dari sebuah perguruan tinggi di Jakarta sebelum menekuni dunia industri.

Andy belajar mengenal segala jenis mesin, seperti mesin penggilingan (milling), rajut (weaving), dan tenun (woven), dari seorang petinggi di perwakilan Fuji Engineering Industrial di Jakarta bernama Yuichi Ishijiwa. Ia mengenal Yuichi lewat sopir pribadinya pada tahun 1970-an.

Yuichi mengajak Andy menengok sejumlah pabrik di Indonesia, seperti pabrik kaolin di Bangka Belitung dan pabrik kalsium karbonat di Simalungun, Sumatera Utara, bahkan sampai Tokyo, Jepang. "Saya dipanggil Apollo oleh Yuichi karena sangat cepat saat bekerja," ujar Andy yang meniti karier di Fuji Engineering Industrial sejak tahun 1976.

Tahun 1980 Andy menjadi manajer pabrik pada perusahaan oil seal di Kawasan Industri Jatake, Tangerang. Perusahaannya, PT Arsartamara, merupakan hasil kongsi antara Yuichi Ishijiwa (Fuji Engineering Industrial) dengan Hendrik Suhardiman dari Bank Tamara serta Ronny Mandagi dari Bank Artha Pusara.

Tahun 1983 ia kembali ke Surabaya, menekuni dunia percetakan. Tahun 1987 Andy mulai belajar prosedur impor mesin-mesin cetak rekondisi-mesin bekas yang telah digunakan sekitar lima tahun di Jepang-yang diakrabinya hingga tahun 1997. Penyakit diabetes dan krisis ekonomi membuat Andy merumahkan belasan karyawannya dan menjual seluruh aset perusahaan sekitar Rp 800 juta.

Kondisi ekonomi yang tak menguntungkan memaksanya untuk "banting setir". Kegelisahan akan ketergantungan Indonesia pada barang-barang impor membuat Andy "gatal" untuk mengutak-atik berbagai mesin yang dulu diimpornya. "Kita ini sangat import minded," tutur anak kedua dari lima bersaudara itu.

KINI usahanya menemukan titik terang. Andy sangat yakin terhadap pasar mesin produksinya. Perkembangan mesin cetak yang menuju konvergensi dengan berbagai perangkat digital, menurut Andy, belum memengaruhi besarnya permintaan mesin-mesin cetak konvensional seperti yang saat ini ia kembangkan. "Dalam 10 tahun pun kita belum tentu bisa menyejajarkan diri dengan perkembangan teknologi digital dalam dunia percetakan," katanya.

Andy yang beristrikan Maria Magdalena memiliki tiga anak perempuan, yaitu Rika Agrippina (37), Rita Faira (35), dan Jeanne Christine (20). Dua di antaranya telah memiliki karier mapan, masing-masing sebagai manajer sebuah hotel berbintang di Jakarta dan instruktur piano. Karena tidak seorang pun anaknya berminat mengikuti jejaknya, Andy mempersiapkan karyawannya sebagai penerus usahanya. (S04)

Sumber : Kompas, Sabtu, 16 April 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks