Jun 12, 2009

Hetty Candra Kasih : Kami Ini Makan Darahmu...

Kami Ini Makan Darahmu...
Oleh : Aufrida Wismi Warastri

Tak ada sesuatu yang kebetulan jika Hetty Candra Kasih (49) selepas Lebaran ini, bersama 22 orang dari Jawa Tengah, diundang ke Istana Negara untuk menerima Satya Lencana Kebaktian Sosial dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Bidan desa di Karangduren, Kecamatan Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah, ini sepanjang hidupnya telah mendonorkan darahnya lebih dari 35 liter atau sebanyak 107 kali. Ia menjadi satu-satunya perempuan pendonor lebih dari 100 kali dari Jawa Tengah yang tahun ini diundang ke Istana untuk mendapat penghargaan dari Presiden.

"Tak terasa ya...," kata perempuan bertubuh subur ini selepas memeriksa lima pasiennya di Pos Kesehatan 2 Karangduren, Sokaraja, suatu hari pada awal Oktober lalu.

Jika diadakan perhitungan, untuk bisa bertahan hidup, manusia membutuhkan darah sekitar 5 liter. Hetty telah memberikan 35 liter darahnya kepada orang lain. Dengan demikian, sudah ada tujuh nyawa yang hidup dari darah Hetty.

Namun, itu hanyalah perhitungan belaka. Di atas semua itu ada nilai yang lebih penting, yaitu kemanusiaan. Hetty sendiri mengaku ada kebahagiaan yang tersembunyi di dalam batinnya, melebihi kegembiraannya menjadi bidan saat menolong orang melahirkan atau kesenangannya mengotak-atik sepeda motor.

Mengotak-atik sepeda motor? Ya, soalnya selain berprofesi sebagai bidan, ia juga menyukai bidang mekanik. Bukannya mendirikan klinik, ia malah mendirikan bengkel.

Kebahagiaan itu terjadi, kata Hetty, karena ia tak berharap mendapat imbal balik saat memberi. Kebahagiaan itu muncul karena dirinya semata-mata hanya ingin memberi. "Tidak perlu tahu siapa yang menerima, dan penerima juga tidak perlu tahu siapa si pemberi," ujarnya.

Setiap kali ada orang yang membutuhkan darah B, penggemar karate ini pasti akan bilang, "Ayo...." Ia akan menyerahkan 350 cc hingga 400 cc darahnya. Tubuhnya yang subur dan sehat memungkinkan darahnya diambil melebihi rata-rata pengambilan darah donor, yakni 250 cc.

Saat puasa, persediaan darah di Palang Merah Indonesia (PMI) dipastikan drop alias turun. Hetty termasuk orang yang tetap berdonor meskipun puasa. Donor dilakukan malam hari selepas berbuka.

Jangan ditanya di mana alamatnya atau apa pekerjaannya saat berdonor. Perempuan lajang yang mengangkat satu anak ini akan mengatakan dirinya hanyalah "pengangguran". Si penanya pun mungkin tak akan berpikir bahwa dia adalah bidan kalau melihat penampilannya yang "gagah".

"Tanpa seragam, saya memang tak terlihat sebagai bidan," katanya diiringi gelak tawa.

Di bawah standar

PMI Kabupaten Banyumas, tempat Hetty biasa mendonorkan darah, membutuhkan 70 hingga 80 kantong darah setiap hari. Dengan penduduk 1,5 juta jiwa, kini Banyumas memiliki sekitar 7.000 pendonor darah, masih jauh dari standar WHO, yakni 5 persen dari jumlah penduduk atau sekitar 75.000 orang.

Keberadaan Hetty dan para pendonor begitu penting guna mencukupi kebutuhan darah masyarakat. Di luar kegiatan rutin berdonor, mereka itu juga sewaktu-waktu bisa dipanggil untuk menyumbangkan darah mereka sesuai dengan kebutuhan.

Di tengah banyak orang yang ingin jasanya selalu diingat, atau mendapat imbalan besar atas pengorbanan yang dilakukan, masih banyak orang yang memilih diam. Termasuk mereka yang diam-diam berdonor darah.

Hetty hanya ingat bagaimana ia pertama kali mendonorkan darah dan kepada siapa darah itu disumbangkan. Peristiwa itu terjadi saat ia menjadi mahasiswa Pendidikan Perawat Bidan Rumah Sakit St Carolus Jakarta pada tahun 1977, yang kini menjadi Stikes St Carolus.

"Pacar teman asramaku kecelakaan," cerita perempuan kelahiran Banjarnegara, 25 Juni 1957, itu.

Pacar temannya itu—mahasiswa kedokteran Universitas Atma Jaya Jakarta yang sedang menjalani ko-asistensi di Rumah Sakit St Carolus—membutuhkan transfusi darah. Mahasiswa itu kini dikenal sebagai dokter sekaligus kolumnis untuk berbagai isu di sejumlah media massa.

"Dia mestinya ingat," tutur Hetty terkekeh, sambil menyebut nama sosok bersangkutan.

Sejak itu, setiap kali ada orang yang butuh darah, teman-teman asramanya pasti mempromosikan Hetty. Hetty pun senang karena bisa menolong orang lain. Ia cukup senang, selepas berdonor darah, teman-temannya mengajaknya makan-makan.

Saat lulus dari Pendidikan Perawat Bidan, baru dia tahu bahwa ongkos makan-makan itu diperoleh teman-temannya dari keluarga pasien yang ia donori.

"Jadi kami ini makan darahmu," kata anak kedua dari sembilan bersaudara ini menirukan teman-temannya sambil geleng- geleng kepala. Di asrama ia berdonor sampai 16 kali.

Selepas lulus dari St Carolus, bidan Hetty ditempatkan di Bengkulu, di wilayah transmigrasi seperti di Mukomuko dan Argamakmur selama dua tahun.

Lalu ia kembali ke Jakarta, bekerja di sebuah rumah sakit sambil mengambil kuliah di Akademi Maritim Indonesia Jakarta di Pulo Mas, untuk memuaskan keinginannya yang tidak kesampaian masuk Korps Wanita Angkatan Darat. Ia kembali ke Purwokerto saat ayahnya sakit, dan mendaftar jadi PNS pada tahun 1984 sambil terus berdonor darah.

Donor darah menjadi sesuatu yang membanggakan dalam hidup Hetty. Dan, ia pun sampai pada pengalaman spiritual sederhana, "Ternyata saya ada gunanya..."

Sumber : Kompas, Selasa, 31 Oktober 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks