Jun 19, 2009

Hadyanto Lim : Pemahaman Baru Penyakit Jantung

Pemahaman Baru Penyakit Jantung
Oleh : Khaerudin

Penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian utama di Indonesia. Namun, sekarang, penderita gagal jantung mungkin bisa memiliki harapan hidup lebih baik. Penemuan peran molekuler sitokin Transforming Growth Factor-Bheta1 atau TGF-Bheta1 membuka lembaran baru dalam pemahaman penyakit gagal jantung kronis.

Dr Hadyanto Lim berhasil menemukan peran molekuler sitokin TGF-Bheta1 dalam proses pembentukan jaringan fibrosa di otot jantung (myocardial fibrosis). Penemuan ini berawal dari penelitian disertasi program doktor ilmu kedokteran di Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara (USU), Medan.

Menempuh program doktoral di USU, Hadyanto melakukan penelitian di laboratorium farmakologi divisi kardiovaskuler National University of Singapore (NUS) di bawah bimbingan peneliti utama dari NUS dan Fuden University Shanghai China, Profesor Zhu Yi Zhun MD, PhD.

Penemuannya ini mengantarkan Hadyanto meraih gelar doktor dengan predikat summa cum laude. Penelitian yang dia lakukan selama lima bulan (Februari-Juni 2005) itu juga diganjar penghargaan sebagai riset terbaik dari divisi riset kardiovaskuler NUS.

Lantas bagaimana peran molekul TGF-Bheta1 dalam proses komplikasi pada gagal jantung kronis? Menurut Hadyanto, seseorang yang divonis menderita penyakit jantung dan menjalani perawatan, baik lewat metode balonisasi maupun operasi by pass, tetap memiliki risiko kematian yang tinggi seiring berjalannya waktu.

”Fungsi otot jantung penderita tetap tidak akan senormal jantung orang sehat. Pascapengobatan dan operasi, seiring bertambahnya usia, penderita tetap memiliki potensi mengalami pembesaran otot jantung (remodelling). TGF-Bheta1 adalah molekul yang bisa menumbuhkan sel-sel jantung yang beralur pada pembesaran otot jantung. Molekul TGF-Bheta1 akan mengakibatkan penumpukan extra cellular matrix protein, terutama kolagen tipe I dan III,” ujarnya.

Penumpukan jaringan kolagen pada otot jantung akibat peran molekul TGF-Bheta1 inilah yang membentuk jaringan fibrosa di otot jantung. ”Akibatnya, otot jantung menjadi kaku. Fungsi otot jantung sebagai pemompa pun terganggu,” tutur dokter kelahiran Bagansiapi-api, 20 Desember 1961, ini.

Umumnya dipercaya, pembesaran jantung atau remodelling pada penderita jantung koroner dan penyakit jantung lainnya pascapengobatan dan operasi merupakan adaptasi sel miokard (sel otot jantung). ”Namun, fibrosis yang bersifat progresif dapat mengganggu kerja, metabolisme, dan pengangkutan oksigen ke otot jantung sehingga mengakibatkan disfungsi ventrikel atau daya pompa jantung sebelah kiri berkurang. Karena itu, remodelling ventrikel merupakan kejadian parafisiologi dalam gagal jantung kronis,” tutur Hadyanto.

Kesimpulan tersebut diperoleh setelah dia melakukan observasi terhadap dua kelompok tikus. Kelompok pertama merupakan tikus yang mengalami pengikatan pada pembuluh jantungnya. Kelompok kedua merupakan tikus sehat, tanpa pengikatan pada pembuluh jantung. Hasil penelitian itu menunjukkan terjadinya peningkatan ekspresi gen stikon TGF-Bheta1 sebesar 1,4 kali lipat dan ekspresi matriks kolagen tipe I dan tipe III masing-masing sebesar 1,82 dan 1,73 kali lipat.

Hadyanto menuturkan, dia memilih laboratorium kardiovaskuler NUS lebih karena fasilitas pemeliharaan hewan percobaannya yang cermat. ”Penelitian ini menggunakan hewan percobaan, dan kebetulan NUS memiliki animal holding units yang cukup canggih,” ujar dokter yang juga pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Methodist Medan itu.

Menerjemahkan buku

Sebagian besar mahasiswa kedokteran di Indonesia mungkin banyak mengenal namanya. Soalnya, di sela waktu senggangnya, Hadyanto tekun menerjemahkan buku-buku kedokteran ke dalam bahasa Indonesia. Dia mulai menerjemahkan buku-buku kedokteran ketika masih berstatus sebagai mahasiswa kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Methodist. Dia jengah membaca banyak buku kedokteran yang terjemahannya sulit dimengerti.

Iseng-iseng dia mencoba menerjemahkan sebuah buku dan dikirimkan ke penerbit buku kedokteran di Jakarta. ”Penerbit tersebut sempat menguji kemampuan menerjemahkan saya dengan mengirimkan sebuah buku. Ternyata mereka puas hingga saya akhirnya resmi menjadi penerjemah beberapa buku terbitan mereka,” ujar Hadyanto.

Hingga kini Hadyanto telah menerjemahkan tujuh buku kedokteran. Dia berharap buku-buku tersebut membantu pemahaman mahasiswa kedokteran di Indonesia dan orang awam yang ingin mengetahui seluk-beluk dunia kedokteran karena bahasa medis terkadang sulit dimengerti. ”Saya menerjemahkan makna bahasa asing tersebut dalam pemahaman lokal bahasa Indonesia,” tutur ayah dari Vina (12), Steven (10), dan Richard (5) itu.

Sumber : Kompas, Kamis, 5 Januari 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks